loading...
Ilustrasi / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMAR NEWS.COM  – Di era milenial ini, tak dapat disangkal hampir semua aktivitas dapat dilakukan dengan gawai. Mulai dari melakukan komunikasi, melihat film hingga menulis pun dapat dilakukan dengan gawai.

Gawai seolah telah menjadi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, rasanya hampir seluruh masyarakat tak bisa lepas dari gawai.

Meski memiliki banyak manfaat positif, menurut penulis, Debra Yatim, gawai tidak berfungsi sebagai alat tulis untuk metode terapi.

Mengapa demikian? Ia mengatakan bahwa ponsel bergerak sangat cepat seiring dengan otak manusia.

“Kecepatan ini justru merugikan,” katanya dalam acara Tempo Media Week di Jakarta Sabtu (7/12/2019).

Kerugian pertama yang dirasakan adalah tidak bisa mendeskripsikan kejadian secara utuh.

Misalnya, akan bercerita tentang kemarahan akibat hujan, tentu Anda akan mengikuti otak dan gawai yang cepat dengan hanya mengatakan bahwa hujan terjadi.

“Padahal menulis sebagai terapi itu harus mampu mengerem pikiran yang terlalu cepat. Anda harus benar-benar merasakan sampai ke dalam,” ungkapnya.

Hal tak menguntungkan lain adalah penuangan perasaan dan sensasi menulis secara konvensional yang tidak dialami.

Menurut Debra, menulis hanya akan dirasakan dengan baik dengan pulpen dan kertas, bukan gawai.

“Kalau dari gawai dan mengetik, eksplorasi interiornya tidak sepekat dengan menggunakan pulpen dan kertas,” jelasnya.

Tak heran, Debra pun menyarankan buat yang ingin mendapatkan manfaat dari mencurahkan isi hati lewat menulis untuk menggunakan pulpen dan kertas.

“Memang terdengar bias dengan generasi lampau, tapi yang paling efektif untuk menulis sebagai terapi adalah lewat cara konvensional,” tuturnya.

www.tempo.co