JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Fakta Baru, Teror Hijab di SMAN 1 Gemolong Sragen Diduga Berlangsung Massif dan Sistematis. Ortu Sesalkan Pernyataan Kasek Belum Dapat Hidayah, Aktivis Endus Ada Upaya Memonopoli Aliran Tertentu!

Agung Purnomo (tengah) didampingi Aktivis Perempuan Solo, Putri Diliyanti (kanan) dan Sekum DPD IMM Jateng (kiri). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Agung Purnomo (tengah) didampingi Aktivis Perempuan Solo, Putri Diliyanti (kanan) dan Sekum DPD IMM Jateng (kiri). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus intimidasi mengarah teror dari rohani Islam (Rohis) kepada siswi yang tidak berjilbab di SMAN 1 Gemolong Sragen, mencuatkan fakta baru.

Orangtua siswi berinisial Z yang menjadi korban teror, Agung Purnomo, mengungkap ada indikasi kasus intimidasi dan pemaksaan di SMAN terfavorit di Gemolong itu berlangsung sistematis dan massif.

Hal itu didasarkan dari beberapa insiden yang dirasakan putrinya saat mendapatkan teror karena pakai jilbab. Menurutnya, bukannya meredam atau mengingatkan rohis yang melakukan pemaksaan, sejumlah pihak di sekolah justru ikut menciptakan suasana yang malah menyudutkan putrinya.

“Kami merasa prihatin, bullying yang menimpa anak kami seolah dianggap sejalan dengan visi misi sekolah.  Saat anak kami diteror karena tak pakai jilbab, justru anak kami yang dianggap salah paham,” paparnya kepada wartawan, Minggu (12/1/2020).

Ia juga mengecam sikap sekolah, guru, hingga kepala sekolah yang tak segera cepat melakukan koreksi, namun justru terkesan menganggap kasus itu sebagai hal biasa.

Lantas, statemen Kepala Sekolah yang menganggap Z tidak memakai jilbab karena belum mendapat hidayah, juga dinilai sangat menyakitkan.

“Kami sangat menyesalkan, sejak kapan hidayah dari Allah jadi satu bagian di birokrasi belajar mengajar. Lalu statemen Wakasek yang menyatakan dari 946 siswa, seluruhnya berjilbab kecuali anak kami, ini kan statemen yang diskriminatif terhadap minoritas,” terang Agung.

Lantas, Agung juga membeber bahwa indikasi intoleran sudah massif lantaran guru PAI juga menganjurkan anak-anak untuk bergabung ke Rohis.

Padahal, sebagai sekolah negeri, harusnya keberadaan guru maupun unsur di dalamnya bisa menjembatani dan mengayomi anak didik yang heterogen.

“Hal itu yang membuat anak kami masih takut dan tiga hari belum mau masuk sekolah. Kami ingin sampaikan, anak kami memang belum berhijab karena belum siap. Bukan karena tidak kami didik. Dari kecil kami juga dididik mengaji, anak kami yang nomor dua juga berhijab,” tukas Agung.

Baca Juga :  Pamit Gowes Sendirian, Bocah 12 Tahun Asal Tanon Sragen Ditemukan Nyasar Hingga 35 Kilometer Sampai Mantingan Jatim

Ia berharap pihak sekolah tak memandang persoalan ini sebagai hal sepele. Ia hanya ingin agar putrinya bisa kembali mendapatkan haknya bersekolah dengan nyaman.

Kasus itu juga memantik empati dari Komunitas Perempuan Solo. Salah satu pengurusnya, Putri Diliyanti mengaku miris mendengar kasus yang menimpa Z.

Ia menyesalkan kenapa di Indonesia yang notabene berbhineka tunggal ika dan harusnya melindungi perbedaan, justru ada sistem yang masih mendiskriminasi perempuan apalagi anak.

“Kami menilai adik Z ini adalah anak yang menjadi korban sistem,” paparnya.

Putri juga menduga ada indikasi intimidasi sistematis yang berlangsung di SMAN 1 Gemolong. Hal itu didasarkan pengakuan dari Z bahwa saat dia mengalami intimidasi, para guru justru ikut-ikutan menyalahkannya.

“Bahkan tadi waktu cerita, dia sampai menangis, kenapa gurunya yang harusnya memberi perlindungan, malah ikut melakukan intimidasi dan malah ikut memaksa pakai hijab. Ini kan malam menambah tekanan secara psikis,” tuturnya.

Aktivis yang mengenakan hijab itu menilai hal itu sudah mengarah pada pembunuhan karakter dan bisa berdampak merusak mental. Sebagai aktivis yang berjuang untuk kaum perempuan, pihaknya perlu bersuara agar kasus di SMAN 1 Gemolong bisa menjadi perhatian luas masyarakat dan pemerintah.

“Menurut kami, hijab itu hak asasi dan sangat prinsipil yang nggak bisa dipaksa. Kalau sekolah negeri sudah dimasuki paham agama, maka akan merusak keberagaman. Padahal sekolah negeri itu citranya mengakomodir keberagaman seluruh agama. Makanya dari apa yang terjadi, kami meyakini ada upaya sistematis dari aktor-aktor di dalam sekolah yang ingin memonopoli aliran-aliran atau faham tertentu,” tandasnya.

Sementara, saat dikonfirmasi, Kepala SMAN 1 Gemolong, Suparno mengklaim situasi sekolah sudah damai dan KBM berjalan normal tanpa ada masalah apapun. Ia menyebut sebenarnya persoalannya hanya adu pendapat dari siswi soal ajakan dakwah dari Rohis untuk berhijab namun kemudian berkembang dan ada kalimat yang dianggap bernada pemaksaan.

Baca Juga :  Ini Identitas 2 Korban Kecelakaan Maut di Kadipiro Solo, Asal Gemolong dan Sumberlawang, Polisi Masih Selidiki Truk yang Kabur

“Namanya anak-anak usia 16 tahun lho Mas. Biasa eyel-eyelan. Nah mungkin difahami lain oleh siswi tersebut. Tapi kami sudah minta maaf dan sudah kami tindaklanjuti dan lakukan pembinaan,” paparnya ditemui di sekolah dua hari lalu.

Wakasek Humas, Sumanti juga menampik tudingan ada bibit radikalisme di SMAnya. Ia menjelaskan memang benar bahwa pesan-pesan yang bernada intimidasi itu diakui dikirim oleh Rohis.

“Memang yang kirim Rohis. Pesan dakwah, antara lain keutamaannya untuk berhijab. Kalau ada pesan yang lain nggak tahu,” kata dia.

Ia memastikan pihak orang tua saat datang ke sekolah sudah duduk bersama dan permasalahan itu dianggap sudah selesai.

“Jadi nggak ada terorisme dan radikalisme lho Mas. Dan permasalahan sudah diselesaikan damai. Nggak ada apa-apa Mas, cuma di medsos saja yang heboh,” kata dia.

Ia menguraikan selama ini Rohis itu digawangi anak-anak berprestasi dan juga rajin membantu sesama lewat kegiatan sosial.

Senada, Wakasek Kurikulum, Karmini mengatakan apa yang dilakukan Rohis itu sebenarnya sifatnya hanya mengingatkan dan ajakan dakwah saja. Menurutnya dari pengamatan sekolah, juga masih wajar.

Sementara, Wakasek Kesiswaan, Parmono mengatakan dari 946 siswa di SMAN 1 Gemolong, untuk yang muslim, memang hanya Z yang tidak berhijab. Sementara untuk yang nasrani dan non Islam total ada sekitar 10 orang.

“Kami belum tahu alasannya kenapa belum berjilbab. Tapi sudah nggak ada masalah, belajar mengajar di sini juga berjalan dengan lancar,” tuturnya. Wardoyo