loading...
Bupati Juliyatmono. Foto/Istimewa

KARANGANYAR, JOGLOSEMAR NEWS.COM Di tengah gegap gempita munculnya sejumlah kerajaan dan keraton abal-abal, di Karanganyar ternyata juga ada jejak sejarah bernuansa kerajaan.

Jejak sejarah itu adalah cikal bakal dan pemisahan kerajaan Mataram. Nukilan sejarah yang diwacanakan akan dijadikan pusat studi itu berada di Kelurahan Jantiharjo, Karanganyar Kota.

Di mana di lokasin itu merupakan lokasi penandatanganan Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang ditandai dengan prasasti Perjanjian Giyanti.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan prasasti Giyanti yang berada di Kelurahan Jantiharjo, Karanganyar Kota.

Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 tersebut, merupakan pemisahan kerajaan Mataram menjadi dua bagian.

Baca Juga :  Nasib Kasasi Vonis Bebas 5 Terdakwa Korupsi Pesawat Lawu Air di Edupark Karanganyar, Hingga Kini Masih Gelap. Kejari Siap Surati MA

Yakni Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta.Dan menjelang kemerdekaan, kedua kerajaan Mataram ini, bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Lokasi ini nantinya akan kita jadikan sebagai salah satu perpustakaan, bahwa di wilayah Karanganyar pernah menjadi lokasi ditandatanganinya perjanjian Giyanti,” paparnya kepads wartawan, Jumat (24/1/2020).

Perjanjian itu berisi pemisahan dua kerajaan Mataram. Lokasi perjanjian Giyanti di Karanganyar itu nantinya juga diproyeksikan sebagai pusat studi untuk merawat kebudayaan.

Ia menggaransi lokasi itu tidak akan disimpangkan untuk pembentukan kerajaan-kerajaan seperti di Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat.

Baca Juga :  Heboh Kemunculan Kerajaan dan Keraton Abal-abal, Warga Jantiharjo Karanganyar Tunjukkan Sejarah Penting Berdirinya 2 Kerajaan Terbesar di Jawa

“Itu untuk pusat studi dn merawat kebudayaan. Bukan untuk membentuk kerajaan baru,” pungkasnya. Wardoyo