JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Heboh, Minum Jus Wortel 2 Kilogram per Hari Sembuhkan Kanker, Begini Pendapat Ahli?

Jus wortel. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kabar seorang wanita asal Colorado, Amerika Serikat sembuh dari kanker kolorektal stadium 3 setelah mengkonsumsi jus wortel sebanyak dua kilogram setiap hari menghebohkan masyarakat. Hal yang sama juga dialami oleh pria bernama Ralph Cole setelah berjuang melawan kanker paru stadium 4.

Berbagai surat kabar di Amerika Serikat termasuk Daily Health Post mengatakan bahwa kesembuhan didapatkan mereka karena kandungan falcarinol yang baik untuk membunuh sel kanker. Video itu membuat banyak orang mencoba aktivitas ini dan bahkan beberapa diantaranya berhenti kemoterapi untuk membuktikan kebenaran khasiat jus wortel itu.

Baca Juga :  228 Tenaga Kesehatan Dilaporkan Meninggal Akibat Covid-19, Termasuk 9 Dokter Gigi dan 8 Guru Besar. IDI Sebut Masyarakat Banyak yang Tak Patuh Protokol Kesehatan

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Wisaksono Sudoyo mengatakan bahwa wortel memang kaya akan zat antioksidan beta karoten. Adapun kandungannya sangat baik untuk membunuh racun pada tubuh. Meski begitu, mengkonsumsinya hingga dua kilogram sehari dinilai berlebihan.

Hal ini pun bisa membuat seseorang mengalami berbagai masalah kesehatan termasuk penyakit kuning. “Semua hal yang dilakukan secara berlebihan itu kan tidak baik. Sama juga dengan mengkonsumsi wortel secara berlebihan bisa menimbulkan penyakit,” katanya dalam acara Media Briefing di Jakarta pada Rabu, (5/2/2020).

Baca Juga :  Studi Profesor di Universitas AS Klaim Ada Kemungkinan Wabah Demam Berdarah Hambat Penyebaran Covid-19

Lebih dari itu, Aru juga mengingatkan bahwa wortel dan jenis makanan lain yang baik dalam membunuh sel kanker termasuk sayuran, makanan tinggi serat hingga teh hijau tidak boleh mengganggu proses pengobatan utama. Misalnya, makanan yang menggantikan kemoterapi. “Jadi wortel itu baik tapi hanya pendukung saja. Utamanya tetap harus mengikuti terapi,” katanya.

www.tempo.co