JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sebelum Bunuh Ibu Kandungnya, Pemuda asal Gunung Kemukus Sragen Sempat Lakukan 3 Insiden Ini Secara Beruntun. Sudah Firasat?

Tersangka Hendriyanto saat memeragakan adegan penganiayaan terhadap ibunya hingga tewas dalam rekonstruksi Selasa (28/1/2020). Foto/Wardoyo
Tersangka Hendriyanto saat memeragakan adegan penganiayaan terhadap ibunya hingga tewas dalam rekonstruksi Selasa (28/1/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus pembunuhan seorang ibu bernama Daliyem (50) asal Dukuh Barong RT 6, Desa Pendem, Sumberlang oleh putra kandungnya sendiri, Hendriyanto (36) beberapa waktu lalu menyisakan fakta baru.

Ternyata, sebelum aksi penganiayaan yang merenggut nyawa sang ibu, warga sempat menandai ada 3 kejadian beruntun yang dilakukan Hendriyanto.

Hal itu diungkapkan Ketua RT 06, Dukuh Barong, Desa Pendem, Sutrisno (40), seusai mendampingi proses rekonstruksi kasus itu. Sutrisna mengatakan seingatnya ada tiga kejadian beruntun yang melibatkan Hendriyanto dan terjadi sebelum aksi penganiayaan hingga menewaskan Daliyem.

“Kebetulan dalam minggu minggu menjelang kejadian itu memang ada 3 insiden yang kalau bisa kita sampaikan memang ada keterkaitan,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM kemarin.

Sutrisno menguraikan kejadian beruntun itu adalah perusakan yang dilakukan Hendriyanto di rumah tetangga sekitar. Yakni yang pertama adalah merusak pintu rumahnya saudara Basuki.

Kemudian yang kedua, aksi pecah kaca jendela tepatnya di rumah Ibu Darsi, juga di lingkungan RT 6 dekat rumah tersangka.

“Yang terakhir sebelum kejadian atau H-1, dia itu merusak pipa saluran air milik Bapak Haji Abdul Mujib. Nah setelah melakukan 3 kejadian itu, selang seharinya terjadilah penganiayaan kepada ibu kandungnya sampai meninggal,” terang Sutrisno.

Baca Juga :  Kebakaran Landa Rumah Mbah Marto di Kedawung Sragen, 2 Ekor Sapi Luka Bakar, Pemilik Terpaksa Harus Mengungsi

Perihal keseharian Hendriyanto, ia mengatakan meski punya riwayat gangguan kejiwaan, namun yang bersangkutan sebenarnya lebih banyak normalnya daripada gangguannya.

Sutrisno, Ketua RT 6 Desa Pendem. Foto/Wardoyo

Bahkan, di mata warga, dalam hal pekerjaan, Hendri tergolong sebagai pemuda yang rajin dalam bekerja.

“Yang bersangkutan ini juga tergolong rajin. Dia juga sudah berkali-kali keluar masuk ke pabrik. Dulu pernah kerja di pabrik di Jakarta, kemudian pulang. Sampai rumah juga melamar kerja di pabrik cat di Karanganyar juga langsung diterima. Dia itu kadang kalau merasa kurang nyaman, lalu keluar dari kerjaan,” terang Sutrisno.

Rekonstruksi pembunuhan sendiri dimulai dengan peragaan tersangka menemui ibunya yang sedang tiduran di kamar. Tersangka kemudian meminta agar namanya diganti, tapi ibu korban menolak.

“Tadi diperankan 22 adegan oleh tersangka maupun saksi. Dimulai dari korban dan tersangka berkomunikasi meminta namanya untuk diganti. Namun si korban (ibunya) menolak agar nama itu tidak diganti. Setelah ditolak korban, akhirnya tersangka emosi kemudian melakukan pemukulan ke beberapa bagian tubuh ibunya,” papar AKP Harno mewakili Kapolres AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo seusai rekonstruksi, Selasa (28/1/2020).

Baca Juga :  Viral, Beredar Video Mesum Sepasang ABG Bercumbu Sengak Sengok di Alun-alun Sragen. Netizen Sebut Angel Wis Angel Tenan..

AKP Harno menguraikan akibat pukulan bertubi-tubi, sehingga ibu korban tidak sadarkan diri. Tersangka memerankan bagaimana kesadisannya menganiaya ibunya di bagian kepala, di bagian tubuh dan beberapa pukulan dengan tangan kosong.

“Akibat pukulan itu akhirnya mengakibatkan pendarahan pada otak. Sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawa korban tak terselamatkan,” terangnya.

AKP Harno menyampaikan dari hasil observasi yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Jiwa, bahwa tersangka memang pernah memiliki riwayat gangguan kejiwaan.

Akan tetapi saat kejadian dan saat pemeriksaan, dokter menyatakan yang bersangkutan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Atas dasar itulah, sehingga dapat dilakukan upaya proses hukum selanjutnya oleh kepolisian.

“Kadang-kadang yang bersangkutan ini sehat, kadang-kadang agak terkena gangguan. Tapi pada saat melakukan itu, dinyatakan oleh bahwa yang bersangkutan adalah sehat,” tandas AKP Harno.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka bakal dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

“Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya. Wardoyo