loading...

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fokus investor saat ini masih pada penyebaran virus corona. Hal itu terbukti, menurut pakar saham Indonesia, Ellen May,  dengan IHSG yang belum mampu bangkit dan masih ditutup melemah 0,95% di angka 3951,48 pada Selasa (24/3/2020) sesi 1.

“Sektor finance sendiri menyumbang pelemahan sebesar 0,13%,” jelas Ellen May dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Dari data terbaru yang dirilis OJK, jelas Ellen, terdapat 6 bank yang masuk dalam kategori bank buku 4. Enam bank tersebut adalah BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, BNGA dan PNBN.

Menurut Ellen, Bank Buku IV adalah bank yang memiliki modal tertinggi dibanding bank buku yang lain. Bank buku IV memiliki modal inti di atas Rp 30 triliun.

“Sementara bank buku I modal intinya kurang dari Rp 1 triliun. Bank buku II modal inti kurang dari Rp 5 triliun, dan bank buku III modal intinya kurang dari Rp 30 triliun,” beber Ellen May.

Ellen menjelaskan, baik bank konvensional maupun bank syariah dapat melakukan seluruh kegiatan usaha dalam rupiah dan valuta asing, serta melakukan penyertaan sebesar 35% pada lembaga keuangan di dalam dan di luar negeri dengan cakupan wilayah yang lebih luas yakni international world wide.

“Di Indonesia sendiri belum ada bank syariah yang masuk dalam kategori bank buku IV,” ujarnya.

Baca Juga :  Peluang Saham Farmasi di Tengah Pandemi Corona

Bagiamana peluang investasi bank-bank buku IV tersebut di Indonesia, Ellen May menjelaskannya lewat tabel berikut.

Terkait dengan deviden, Ellen menjelaskan, dari data di atas  saham BBCA, BMRI, BBNI, dan BMRI lebih menarik untuk diinvestasikan.

Selain itu, dilihat dari rasio EPS yang menunjukan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba. “EPS dari BNGA dan PNBN masih berada di bawah dari ke-4 perbankan yang sebelumnya sudah disebutkan,” jelasnya.

Investor, menurut Ellen,  perlu juga memperhatikan suku bunga acuan terbaru yang mana Bank Indonesia (BI) telah kembali memangkas sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4,5% pada Kamis (19/3/2020).

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk memitigasi perlambatan kredit akibat dampak kian meluasnya penyebaran virus corona (Covid-19).

“Sayangnya, penurunan suku bunga ini baru akan terasa dalam jangka panjang. Sedangkan BI masih berpotensi untuk menurunkan suku bunga kembali,” ujarnya.

Ellen mengakui, prospek saham perbankan masih memiliki banyak tantangan sejalan dengan perlambatan ekonomi akibat penyebaran Covid-19.

Kondisi roda perekonomian yang melambat maka proyeksi non performing loan (NPL) alias kredit macet meningkat dalam jangka pendek.

Meski demikian, papar Ellen, perbankan juga sedikit diringankan dengan kebijakan relaksasi kredit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai respons atas Covid-19.

Baca Juga :  Kampanye Bukalapak Sahabat Sehat: Seruan untuk Gotong Royong Lawan Virus Corona

“Untuk alokasi saham investasi maksimal 5 saham each 20% dari total portofolio. Masing-masing per saham boleh beli total 5% dari modal per saham, alias 1% dari total modal di portofolio. Dari sektor perbankan orang boleh melakukan cicil beli pada saham BBCA atau BBRI atau BMRI atau BBNI. Orang boleh pilih 1 atau maksimal 2 saham saja yang sesuai dengan kondisi atau karakter investasi yang dimilikinya, untuk menghindari risiko sektoral. Market masih dalam trend bearish, jangan terburu-buru masuk besar, karena perjalanan masih panjang,” ungkap Ellen.

Ellen berpesan, bagi orang yang ingin tahu lebih dalam tentang saham apa saja untuk investasi di tengah penurunan IHSG saat ini, dapat menemukan solusinya di EMTrade!

“EMtrade adalah aplikasi yang membantu masyarakat  beli jual saham apa, di harga berapa, berapa banyak boleh beli, manajemen risiko dan dapat bertanya apapun terkait saham sepuasnya,” ujar Ellen.

Namun Ellen berpesan, pernyataan tersebut bersifat sebagai referensi dan bahan pertimbangan. “Jadi bukan perintah beli atau jual. Setiap keuntungan dan kerugian menjadi tanggung jawab dari pelaku pasar,” pesannya. suhamdani