JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Virus Corona Masih Bisa Bertahan 2 Minggu Setelah Gejala Sembuh

Ilustrasi virus corona / wikipedia.org / tempo.co
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM –  Virus corona baru COVID-19 dapat bertahan di dalam tubuh selama setidaknya dua minggu setelah gejala penyakit sembuh. Hal itu merupakan hasil dari sebuah studi kecil di China belum lama ini.

Hal semacam ini tidak pernah terdengar di antara virus, namun untungnya para pasien kemungkinan besar tidak terlalu menular pada periode pasca-gejala, ujar para ahli kepada Live Science, 1 Maret 2020.

Temuan itu bahkan mungkin merupakan kabar baik, kata Krys Johnson, seorang ahli epidemiologi di College of Public Health Temple University. Virus yang cenderung berkeliaran dalam sistem manusia juga cenderung merupakan virus yang membuat tubuh membangun respons kekebalan yang kuat.

“Jika virus tetap berada di sistem manusia, maka mereka mungkin tidak dapat terinfeksi ulang,” kata Johnson kepada Live Science.

Studi baru itu menyusul empat profesional medis berusia 30 hingga 36 tahun yang mengembangkan virus corona baru COVID-19 dan dirawat di Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan di Cina antara 1 Januari dan 15 Februari. Semuanya pulih, dan hanya satu yang dirawat selama sakit.

Baca Juga :  Cocok Digunakan untuk Pemanis Teh Poci, Ternyata Ini 8 Manfaat Konsumsi Gula Batu bagi Kesehatan

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA pada Kamis, 27 Februari 2020, itu menyebutkan para pasien diobati dengan oseltamivir, yang lebih dikenal dengan nama merek Tamiflu, obat antivirus. Para pasien dianggap pulih setelah gejala mereka sembuh dan setelah mereka dites negatif untuk COVID-19 dua kali (dua hari berturut-turut).

Setelah pemulihan, pasien diminta untuk mengkarantina diri di rumah selama lima hari. Mereka terus menjalani penyeka tenggorokan untuk virus corona setelah lima hari hingga 13 hari setelah pemulihan. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tes antara di hari kelima dan ke 13 positif untuk virus.

“Temuan ini menunjukkan bahwa setidaknya sebagian dari pasien yang pulih masih menjadi pembawa virus,” catat para peneliti, mengutip laman Live Science, baru-baru ini.

Temuan itu juga muncul ketika Jepang melaporkan kasus pertama seseorang yang sembuh dari virus corona, kemudian menjadi sakit dengan penyakit itu untuk kedua kalinya, menurut Reuters.

Mengingat hasil baru pada kegigihan pasca-virus corona dari Cina, menurut Krys Johnson, ahli epidemiologi di College of Public Health Temple University, tidak jelas apa yang terjadi dengan pasien Jepang.

Baca Juga :  Ini 7 Penyebab Perut Kembung dan Sering Kentut, Bukan Semata Karena Makanan

Satu kemungkinan lain adalah dia menangkap virus versi baru dari orang lain, atau kemungkinan lain adalah bahwa sistemnya sendiri tidak melawan virus sepenuhnya dan ketika mulai mereplikasi di dalam paru-parunya lagi, ia mengalami kebangkitan gejala.

Namun, virolog di Michigan Tech University Ebenezer Tumban menerangkan tidak jarang virus juga bertahan pada level rendah dalam tubuh, bahkan setelah seseorang sembuh dari suatu penyakit. Sebagai contoh, virus Zika dan virus Ebola diketahui bertahan selama berbulan-bulan setelah pasien pulih.

“Tes bahwa empat pasien dari Wuhan, Cina, menjalani pencarian fragmen genetik virus dalam tubuh,” kata Tumban. “Tamiflu yang mereka pakai bisa saja mendorong jumlah salinan virus di tubuh mereka menjadi beberapa. Pada saat itu, tes tidak akan cukup sensitif untuk mendeteksi virus.”

Menurut Tuban, setelah pengobatan antivirus berakhir, virus mungkin sudah mulai mereplikasi lagi pada tingkat rendah. “Tidak akan ada cukup virus untuk menyebabkan kerusakan jaringan, sehingga pasien tidak merasakan gejala. Tapi jumlah salinan virus akan cukup tinggi untuk sebuah tes menangkap mereka lagi,” tutur dia.

Pada saat itu, orang-orang kemungkinan tidak terlalu menular, Johnson menambahkan. Batuk dan bersin memuntahkan partikel virus di sekitarnya, tapi orang-orang ini tidak batuk atau bersin. Beban virus mereka juga rendah, perlu kontak yang lebih intim untuk menyebarkan virus.  

www.tempo.co