JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

DPR RI Sebut Model Karantina Mandiri Untuk Pemudik di Desa Bedoro Sragen Layak Jadi Percontohan Daerah Lain. Pemudik Dijamin Tak Bakal Keluyuran, Seperti Apa Istimewanya?

Anggota DPR RI, Luluk Nur Hamidah (kanan) saat menempelkan stiker karantina mandiri bersama Kades Bedoro, Sragen, Prihartono (kiri) ke rumah salah satu warga yang baru pulang dari Jakarta dan masuk daftar pelaku perjalanan, Kamis (9/4/2020). Foto/Wardoyo

loading...
Anggota DPR RI, Luluk Nur Hamidah (kanan) saat menempelkan stiker karantina mandiri bersama Kades Bedoro, Sragen, Prihartono (kiri) ke rumah salah satu warga yang baru pulang dari Jakarta dan masuk daftar pelaku perjalanan, Kamis (9/4/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Di tengah meningkatnya wabah corona virus atau covid-19, komponen pemudik atau pelaku perjalanan (PP) belakangan memang menjadi sorotan.

Pemerintah pusat hingga daerah memberi prioritas penanganan bagi para pemudik utamanya dari daerah zona merah karena dianggap paling rentan menjadi carrier atau pembawa virus covid-19 ke daerah tujuan.

Di tengah seruan agar semua daerah membuat lokasi karantina bagi pemudik yang tiba, Kabupaten Sragen menjadi salah satu daerah yang menolak model itu dan lebih memilih menerapkan pembentukan satgas Covid-19 di semua desa.

Nah, di antara 208 desa dan kelurahan, ada satu desa yang cukup kreatif dan mendapat apresiasi banyak pihak karena membuat model karantina mandiri dengan metode khusus.

Desa itu adalah Desa Bedoro di Kecamatan Sambungmacan. Di desa ini, Pemdes bersama Satgas menerapkan teknik karantina mandiri dengan membuat stiker khusus.

Stiker bertuliskan karantina mandiri itu berukuran 60 x 40 cm. Di dalamnya berisi nama pelaku perjalanan atau pemudik, tanggal durasi karantina dan keluhan gejala serta nomor hotline layanan.

Stiker itu akan ditempel di setiap rumah yang di dalamnya kedatangan pelaku perjalanan atau pemudik yang baru tiba dari luar daerah.

Kades Bedoro, Prihartono dan stiker karantina mandiri untuk pelaku perjalanan yang dikreasi tim Pemdes dan Satgas Covid-19. Foto/Wardoyo

Kades Bedoro, Prihartono mengungkapkan ide stiker itu muncul setelah terbentuknya Satgas Covid-19 sekitar dua pekan lalu. Satgas dibentuk dengan melibatkan semua anggota lembaga desa, LP2MD, semua karang taruna dan perangkat desa.

Satgas itu bertugas 24 jam secara shift di posko Covid-19 yang ditempatkan di balai desa. Tugas mereka menjalankan mekanisme screening terhadap semua pemudik atau PP yang tiba.

Teknisnya semua pemudik atau PP yang tiba dari luar daerah harus terlebih dahulu lapor ke pokso di balai desa. Kemudian Satgas mendata, memeriksa suhu tubuh dengan thermo gun, lalu mengantar dan menempelkan stiker ke rumah hingga memantau selama 14 hari karantina.

“Ide stiker itu kemarin hasil musyawarah bersama di tingkat desa. Awalnya ada instruksi gubernur untuk buat karantina di balai desa. Kita musyawarahkan nggak ada kata sepakat karena kalau dikarantina di balai desa atau di satu tempat, malah dirasa akan timbul banyak masalah sosial baru. Akhirnya kami berinisiatif buat karantina mandiri. Sebagai penandanya kita buatkan stiker ditempelkan di rumah dan akhirnya semua setuju,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (9/4/2020).

Baca Juga :  Kasus Ancaman Teror ke Petugas Medis di Sragen Resmi Diambil Alih Polres. Kapolres Sebut Sudah 4 Saksi Diperiksa Termasuk Korban

Ia menguraikan ide stiker itu dibuat sebagai penanda yang mengikat setiap pemudik agar patuh mengarantina diri selama 14 hari di rumah.

Selain itu, stiker itu akan memudahkan warga dan lingkungan sekitar membantu pengawasan sehingga pemudik atau pelaku perjalanan tidak seenaknya keluar rumah selama masa karantina.

“Tujuannya biar mempermudah pemantauan. Kalau nggak ditempeli stiker biasanya ngentengke (meremehkan). Tapi kalau ditempeli, kan tetangganya bisa ikut mengawasi dan mengingatkan,” terangnya.

Untuk menghindari persepsi negatif atau stigma yang salah, sebelumnya Pemdes dan tim Satgas sudah menyosialisasikan ke masyarakat bahwa stiker itu hanyalah penanda kalau dia baru pulang dari luar daerah.

Masyarakat jug diberi pemahaman bahwa stiker itu bukan berarti menandakan orang dengan gejala atau kasus covid-19. Setelah melalui 14 hari karantina tanpa keluhan, barulah stiker dilepas.

“Apabila dalam masa karantina mandiri ada keluhan demam, batuk, sesak nafas atau pilek, nanti yang bersangkutan bisa menghubungi tim dan bidan desa di nomor hotline service yang tertera di stiker. Alhamdulilah dengan teknik ini, para pemudik dengan penuh kesadaran di rumah terus selama masa karantina,” terangnya.

Semua relawan Satgas Covid-19 dari Karang taruna saat bersiap untuk penyemprotan desinfektan. Foto/Wardoyo

Untuk pemantauan, setiap hari para RT dan Satgas di wilayahnya proaktif menanyakan kondisi pemudik. Jika ada keluhan, tim langsung datang dan memberikan penanganan.

Menurutnya sejauh ini sudah ada 50an pemudik yang rumahnya dipasangi stiker dan menjalani karantina mandiri di rumahnya.

Dengan pengawasan bersama, selama ini hanya ada dua PP yang sempat mengalami keluhan saat menjalani masa karantina dan langsung bisa tertangani.

“Kemarin ada dua keluhan dan langsung didatangi tim dari bidan desa dan Puskesmas bersama Polsek. Kita koordinasikan langkah apa yang harus dilakukan. Setelah diperiksa hasil labnya dua-duanya negatif,” terangnya.

Dinilai Cukup Efektif

Prihartono mengaku pihak desa menyiapkan sekitar 100 stiker dan akan ditambah menyesuaikan jumlah PP.

Baca Juga :  Satpam Cantik PT PAN Brothers Sragen Hilang Misterius Diduga Bunuh Diri, Suaminya Sampai Syok Berat

Pihaknya mengakui ide karantina mandiri melalui stiker itu cukup efektif membangun kesadaran mandiri para pemudik dan lingkungan untuk turut memantau.

“Apalagi dari 50an PP itu kebanyakan dari Jakarta. Ada dua yang pulang dari luar negeri yaitu Amerika dan Korea tapi keduanya juga sehat. Sejauh ini berjalan cukup bagus dan nggak banyak keluhan,” terangnya.

Ia menambahkan dana pengadaan stiker diambilkan dari pengalihan dana desa untuk penanganan wabah covid-19 senilai Rp 60 juta.

Selain stiker, dana itu juga digunakan untuk pengadaan desinfektan yang disemprotkan ke semua wilayah RT, pembelian masker untuk warga, sosialisasi lewat MMT, alokasi bantuan sembako untuk ODP yang karantina, hingga konsumsi harian bagi Satgas Covid yang bertugas 24 jam.

Kapolres dan Dandim Sragen saat meninjau Posko Satgas Covid-19 di Desa Bedoro. Foto/Wardoyo

Inovasi model karantina mandiri itu langsung membuat jajaran Muspida tertarik untuk meninjau.

Di antaranya, Kapolres AKBP Raphael Sandy, Dandim Letkol Kav Luluk Setyanto dan Kadishub Suwandi yang Kamis (9/4/2020) tadi menyempatkan singgah dan meninjau pelaksanaan karantina mandiri di Desa Bedoro.

“Alhamdulillah respon beliau-beliau mengapresiasi dan menilai ini metode yang bagus,” tuturnya.

Apresiasi juga disampaikan anggota DPR RI asal Fraksi PKB, Luluk Nur Hamidah.

Legislator asal Dapil Jateng VI itu bahkan tergerak untuk terjun langsung meninjau pelaksanaan karantina mandiri dan menempelkan stiker ke rumah salah satu PP di Desa Bedoro.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Luluk mengapresiasi inovasi metode karantina mandiri di Desa Bedoro itu. Menurutnya selain lebih efektif, teknik pemberian stiker dan pelibatan semua unsur untuk melakukan pengawasan itu sangat bagus.

“Sejauh ini saya belum melihat ada Pemdes yang secara kelembagaan melakukan kerja pemantauan PP semacam ini (ada Satgas dan pakai stiker). Ada tanggungjawab bersama dari warga dan semua unsur untuk bergerak melakukan pengawasan bersama. Ini jauh lebih efektif membangun kedisiplinan PP, dan bisa membangun kesadaran bersama dari lingkungan. Tanggapan dari teman-teman saya, inovasi di Desa Bedoro Sragen ini bagus dan bisa jadi percontohan untuk ditiru daerah-daerah lain,” tandasnya. Wardoyo