JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Terhambat Lockdown, Pengunjung Panti Jompo Ini Terpaksa Pakai Derek

Kerabat Fiet Aussen bersiap untuk menemuinya dari derek di luar jendela panti jompo Yahudi di Amsterdam, 15 April 2020 / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kebijakan lockdown sebagai dampak pandemi virus Corona di Belanda, membuat pengunjung panti jompo Yahudi Beth Shalom tidak bebas menemui orang tua atau kerabat yang mereka cintai.

Alhasil, para pengunjung panti tersebut menggunakan derek ke arah jendela agar bisa menjenguk kerabat selama lockdown virus Corona.

Panggilan video tidak benar-benar menutupi rasa rindu Fiet Aussen, seorang janda berusia 91 tahun, yang telah menghabiskan enam minggu terakhir di panti jompo Yahudi di kota Amsterdam.

Fiet hampir tuli sehingga dia tidak benar-benar dapat menggunakan teknologi untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga, yang tidak dapat mengunjunginya di Beth Shalom sejak menutup pintunya di pertengahan Maret karena virus Corona.

Di tempat itu, virus Corona telah membunuh 26 penghuninya, menurut Times of Israel, 16 April 2020.

Oleh karena itu cucunya, Timo Haaker (26), memutuskan untuk menggunakan perangkat yang berbeda. Dia menghubungi Riwal, sebuah perusahaan internasional yang berbasis di Belanda yang mengkhususkan diri dalam mesin derek, untuk menyewa satu derek agar mengangkat kerabat Aussen ke jendela apartemennya yang bertingkat tiga, sebagaimana dikutip dari surat kabar mingguan NIW Dutch-Jewish, Jumat kemarin.

Baca Juga :  Media Asing Soroti Penanganan Covid-19 di Indonesia, Sebut Menkes Terawan sebagai Orang Paling Bertanggung Jawab atas Krisis Akibat Pandemi yang Dialami Indonesia

Riwal, yang dimiliki oleh pengusaha Israel-Belanda Doron Livnat, mengangkat 12 kerabat Aussen kepadanya secara gratis pada 15 April dan telah menawarkan untuk melakukan hal yang sama untuk setiap keluarga penduduk di Beth Shalom yang memintanya.

Haaker mengatakan kepada Jewish Telegraphic Agency bahwa dia tidak tahu tentang koneksi Yahudi Riwal. Perusahaan tersebut telah ditargetkan oleh kelompok-kelompok anti-Israel untuk kegiatannya di sana.

“Sejujurnya, dia tidak bisa benar-benar mendengar kami di derek, tapi itu membuatnya sangat bahagia, itu memberinya energi baru,” kata Haaker, salah satu pendiri perusahaan pariwisata We Are Amsterdam, yang dijalankannya bersama mitranya yang kelahiran Israel, Guy Kuttner.

Untuk meminimalkan jejak derek di jalan di luar Beth Shalom, Riwal mengirimkan salah satu unit terkecilnya, yang hanya dapat mengangkat satu orang.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Arab Saudi Buka Kembali Layanan Umroh secara Bertahap. Jemaah Luar Negeri Diizinkan Datang Mulai 1 November 2020

Setiap anggota kerabat Aussen melakukan obrolan cepat sekitar tiga menit dengan Fiet sebelum diturunkan dan digantikan oleh pengunjung berikutnya. Para penonton memotret dan mengambil video peristiwa itu di ponsel mereka.

Ibu Haaker adalah satu dari empat anak yang dibesarkan oleh Fiet dan mendiang suaminya, Hans. Mereka membawa ibu Haaker ke dalam keluarga sebagai anak asuh ketika dia masih remaja.

Fiet, yang bukan Yahudi, pindah ke Beth Shalom bersama Hans sekitar setahun yang lalu. Hans adalah seorang Yahudi dan selamat dari Holocaust dalam persembunyiannya. Dia meninggal pada bulan November tahun lalu.

Pada pertengahan Maret, Beth Shalom di-lockdown karena takut akan virus Corona, tetapi sudah terlambat.

Hingga saat ini, 26 dari 120 penghuninya telah meninggal karena virus Corona dan beberapa dikarantina di kamar mereka, menurut surat kabar NIW.

Ini menjadikan panti jompo Beth Shalom sebagai tempat paling parah di komunitas Yahudi Belanda yang diserang.

www.tempo.co