JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Berkah Idul Fitri, Para PKL Karanganyar Segera Tatap The New Normal dan Boleh Berjualan Kembali. Pedagang Sambut Gembira, Tapi Kalau Melanggar Bakal Dicabut!

Ilustrasi simulasi PKL di Karanganyar menuju New Normal. Foto/Humas
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Ilustrasi simulasi PKL di Karanganyar menuju New Normal. Foto/Humas

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hari Lebaran atau Idul Fitri 1441H membawa angin segar bagi para pedagang kaki lima (PKL) di Karanganyar.

Seiring zero kasus positif, para PKL itu bersiap menghadapi new normal dan bisa berjualan kembali.

Hal itu menyusul terbitnya surat dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar melalui Disdagnakerkop UKM (Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah).

Dinas itu mengeluarkan surat kepada para  PKL dengan NIK Kabupaten Karanganyar untuk melakukan simulasi aktifitas berjualan kembali, khususnya PKL yang berada di kawasan Taman Pancasila, Alun-alun Karanganyar.

Diizinkannya para PKL tentu harus mengikuti protokol kesehatan dan ketentuan yang ditetapkan.

Baca Juga :  Dapat Restu Jokowi, Pemkab Karanganyar Langsung Kebut Perubahan Anggaran. Anggaran Refokusing Covid-19 Rp 247 Miliar Diperkirakan Hanya Sisa Rp 5-10 Miliar

Penjual maupun pembeli harus memakai masker dan selalu menjaga kebersihan diri. Dalam simulasi kali ini pihak dari Disdagnakerkop UKM merubah penataan lapak pedangang khususnya di Taman Pancasila agar tiap PKL yang berjualan tetap menjaga jarak yang menyebabkan kerumunan.

Kasi Penataan dan Keamanan Pasar, Joko Setyono dalam pengarahannya kepada para PKL yang hendak berjualan kembali menyampaikan bahwa ada ID Card untuk penjual.

Kemudian ada pengecekan KTP untuk para PKL yang hendak berjualan kembali.

“PKL yg bukan berasal dari Karanganyar tidak diizinkan berjualan di Karanganyar khususnya Taman Pancasila dan Alun-alun Karanganyar,” paparnya.

Kabar ini disambut baik oleh Warni (46) yang mengatakan bahwa selama adanya pandemi Covid-19 usahanya menjadi sepi pembeli karena hanya berjualan di rumah saja.

Baca Juga :  Catat Slur, Seperti Ini Protokol Kesehatan di Lingkungan Pondok Pesantren

“Kalau jualan buku anak-anak, buku mewarnai kaya gini gak mungkin laku kalau dijual di rumah mbak,” katanya.

Warni juga mengaku merasa takut untuk berjualan kembali meski sudah menyediakan disinfektan, menggunakan hand sanitizer, dan menggunakan masker.

“Kalau gak jualan gak bisa makan mbak,” tuturnya.

Hasta, Korlap UKM ia menyampaikan apabila pelaksanaan simulasi berjualan ini masih banyak PKL yang melanggar protokol kesehatan dan ketentuan yang telah ditetapkan.

Maka simulasi akan dicabut dan para PKL tidak diperbolehkan berjualan kembali. Wardoyo