JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Satu Santri asal Sambirejo Sragen Positif Rapid Test Covid-19, Lima Anggota Keluarga Terpaksa Isolasi Mandiri di Rumah Selama 14 Hari!

Bambang Widjo Purwanto bersama Camat Sambirejo, Kepala Puskesmas dan Kades Sambi. Foto/Wardoyo
Bambang Widjo Purwanto bersama Camat Sambirejo, Kepala Puskesmas dan Kades Sambi. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebanyak lima anggota keluarga santri positif rapid test covid-19 asal Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen terpaksa harus menjalani isolasi mandiri.

Mereka harus menjalani isolasi lantaran terindikasi memiliki riwayat kontak erat dengan santri berinisial R (19) yang mondok Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan.

R dinyatakan positif rapid test setelah pulang dari Ponpes Al Fatah Temboro Magetan, beberapa hari lalu.

Kades Sambi, Kresna Widya Permana mengatakan sebagai tindaklanjut hasil rapid test itu, pihaknya sudah berkoordinasi dan memberikan pengarahan kepada keluarga santri tersebut.

Menurutnya, di dalam keluarga santri itu total ada enam orang. Mereka sudah diberikan pemahaman untuk mengisolasi diri di rumah terlebih dahulu selama 14 hari.

“Sudah kami tindaklanjuti dengan meminta satu keluarga yang kontak erat dengan santri tersebut untuk isolasi mandiri di rumah. Ada enam orang di dalam rumah itu dan semuanya sudah patuh untuk mengisolasi diri dulu,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , kemarin.

Menurutnya, kondisi santri yang bersangkutan dalam kondisi baik. Pun dengan anggota keluarga dalam satu rumah, juga dalam kondisi baik.

Langkah isolasi mandiri dilakukan untuk mengantisipasi potensi penyebaran wabah covid-19.

Baca Juga :  Innalillahi, Tambah Lagi Satu Warga Suspek Covid-19 Meninggal dan 4 Positif Hari Ini. Kasud Covid-19 Sragen Jadi 473, Jumlah Korban Meninggal Capai 66 Orang

“Alhamdulillah, mereka sudah taat dan mau mengisolasi mandiri,” terangnya.

Sementara, di Desa Bumiaji, Gondang, Sragen, juga sempat ada tiga santri asal Ponpes yang sama dan pulang. Ketiga santri itu sudah menjalani rapid test bersamaan dengan santri asal Sambi yang positif rapid itu.

“Memang betul di Bumiaji terdapat santri dari Pondok Al Fatah Temboro Magetan yang pulang ke wilayah kami sehingga masyarakat sempat panik. Karena sebelumnya ada informasi di Pondok Temboro itu terdapat santri terkonfirmasi positif corona,” papar Camat Gondang, Catur Sarjanto ditemui di sela pendistribusian bantuan sembako dari DAPM Madani Gondang, Kamis (23/4/2020) silam.

Terkait hal itu, sebagai bentuk antisipasi, pihaknya sudah memberikan penegasan kepada para santri yang sudah pulang dan keluarganya agar melakukan karantina mandiri di rumah.

Setelah diberi penjelasan, mereka bersedia melakukan karantina mandiri di rumah berikut keluarganya selama 14 hari.

“Kebutuhan hidup selama 14 hari dicukupi dari dana desa. Alhamdulillah kita berikan pemahaman kepada keluarganya dan bisa memahami,” jelasnya.

Camat menambahkan, tiga santri itu juga sudah dilakukan rapid test. Sebagai antisipasi, pihaknya meminta keluarga yang anaknya masih di Ponpes Temboro, diimbau tidak menjemput dulu dan membiarkan mereka bertahan di pondok dulu.

Baca Juga :  Usai Laporkan Kepala DPUPR Sragen, KPK RI Pelototi Tahapan Lelang Proyek 2020. Sebut Surat Dukungan Rawan Dimainkan dan Direkayasa!

“Mereka bersedia. Kemarin yang tiga santri itu kita perjuangkan, oleh anggota dewan kita lapor DKK dan sudah dilakukan rapid test,” terang Catur.

Terpisah, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan dari penyisiran sementara ada 8 santri Ponpes Temboro Magetan asal Sragen yang dirapid test.

Hasilnya ada satu santri yang positif hasil rapid testnya. Santri yang positif itu diketahui berasal dari Kecamatan Sambirejo.

Di sisi lain, anggota DPRD Sragen, Fathurrohman meminta Pemkab dan DKK segera bergerak menyisir dan mendata semua santri asal Sragen yang mondok di Ponpes Al Fatah Temboro. Sebab diyakini jumlah santri asal Sragen mencapai di atas 100 orang.

Mereka harus segera dilakukan pendataan dan rapid test untuk mendeteksi dini apakah tertular atau tidak.

“Kalau santri dari Sragen yang mondok di Ponpes Temboro itu banyak. Saya yakin di atas 100an orang. Makanya harus disisir dan ditelusuri, kalau perlu berkoordinasi dengan pihak Ponpes meminta datanya. Ini penting untuk melacak setiap santri yang mungkin sudah pulang tapi tidak terpantau,” tukasnya. Wardoyo.