JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Anggaran Kementan Dipangkas Sampai Rp 7 T, Mentan Tolak Turunkan Target Produksi

Petugas melakukan pengukuran suhu tubuh kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat memasuki Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis 5 Maret 2020. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona Covid-19 di Indonesia / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski anggaran di Kementerian Pertanian (Kementan) dipangkas hingga Rp 7 triliun, namun Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bersikukuh tidak mau menurunkan target produksi pertanian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Bahkan, Mentan memilih mundur dari jabatannya jika harus menurunkan target produksi pangan strategis tahun 2021.

Ia berpendapat, menurunkan target produksi pangan sama saja dengan menggerus hak pangan rakyat.

“Makan rakyat tak boleh tergerus sedikit pun, dan itu kami jamin. Kalau tidak mundurkan saya dari Menteri Pertanian. Maafkan saya, ini baru saya ungkapkan, nggak boleh,” kata Syahrul saat rapat bersama Komisi IV DPR RI, Senin (22/6/2020).

Dalam Surat Bersama Pagu Indikatif Tahun Anggaran 2021, menurut Syahrul, Kementan menargetkan produksi padi 63,50 juta ton.

Lalu, produksi jagung 26 juta ton, kedelai 48.000 ton, dan daging sapi 463.000 ton.

Selain itu, Kementan juga menargetkan produksi bawang merah sebanyak 1,74 juta ton. Kemudian, cabai besar 1,45 juta ton, cabai rawit 1,57 juta ton dan sebagainya.

Baca Juga :  Temuan Jerigen di Lantai 6 Kejaksaan Agung, Bareskrim: Itu Hanya Perlengkapan Kerja

Dengan target yang sudah dibuat, Syahrul menyatakan, segala daya dan upaya harus didorong untuk mencapai target tersebut.

Salah satunya dengan memaksimalkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada petani.

“Target kami tidak diturunkan karena itu sudah menjadi kebutuhan nasional. Kalau itu turun, besok kita akan bersoal dengan makanan rakyat 267 juta. Oleh karena itu apa pun dayanya, apa pun anggarannya menurut saya selaku Mentan, target nggak boleh turun,” tuturnya.

Masalah ketahanan pangan, kata Syahrul, menjadi sangat vital apalagi ketika Organisasi Pangan Dunia atau Food Agriculture Organization (FAO) telah memberikan peringatan adanya krisis pangan dunia yang akan melanda banyak negara.

“FAO mengatakan akan terjadi kekeringan yang luar biasa dalam siklus 100 tahunan. Akan terjadi serangan hama wereng 5 tahunan yang sudah terjadi di 5 negara dan menghancurkan pertaniannya. Bahkan akan terjadi krisis pangan dunia yang akan menghancurkan 167 juta orang kelaparan di dunia. Indonesia tidak boleh terjadi,” tuturnya.

Baca Juga :  Mahfud MD Kumpulkan Sekjen Parpol Bahas Protokol Kesehatan Pilkada 2020

Syahrul pun kurang setuju adanya pemangkasan anggaran Kementan di tahun 2020. Oleh karenanya, ia meminta bantuan kepada DPR RI agar anggaran Kementan bisa disesuaikan dengan target yang direncanakan.

“Kami juga butuh Rp 10 triliun yang ada. Bukan 2-3 triliun. Agar kita bisa jamin besok, di saat orang tidak bisa lagi. Ini petani hanya 4-5 bulan sudah terseok-seok mereka ini kalau tidak ada. Bukan membagikan BLT (Bantuan Langsung Tunai), tapi membagikan kerja agar mereka bisa produksi untuk makan. Dengan teriakan yang ada saya kira kita bisa lakukan bersama,” kata Syahrul.

Seperti diketahui, anggaran Kementan dipangkas sampai Rp 7 triliun dari pagu sebesar Rp 21,05 triliun akibat adanya pemangkasan guna penanggulangan dampak Covid-19.

Dengan begitu, anggaran Kementan pada tahun ini tersisa Rp 14,04 triliun. Penghematan dilakukan berdasarkan surat Menteri Keuangan Nomor S-302/MK.02/2020 tentang Langkah-langkah Penyesuaian Belanja K/L TA 2020.

www.tempo.co