JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Kabar Baik, Kualitas di Yogyakarta Terus Meningkat, PH Air Hujan Dekati Air Murni

Ilustrasi hujan. pixabay/Sasint

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kualitas udara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19 yang menganjurkan masyarakat untuk banyak di rumah. Peningkatan kualitas tersebut ditandai dengan pH atau tingkat keasaman air hujan yang mendekati air murni.

BMKG Yogya mencatat, selama masa pandemi Covid-19, pada bulan Maret lalu tingkat pH air hujan di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 5.47, memasuki April bertambah menjadi 5.69, kemudian pada Mei kemarin naik menjadi 6.32.

Sebagai catatan, tingkat asam tersebut menjadi penentu apakah kualitas udara dapat dinyatakan baik atau tidak.

“Kami juga mengamati kualitas udara, tetapi belum sampai ada gas rumah kaca yang dapat memantau gas CO. Sehingga yang kami pantau hanya melalui kandungan pH dari air hujan,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Staklim, Mlati Sleman, Reni Kraningtyas, Jumat (12/6/2020).

Ia menambahkan, jika kondisi pH air hujan cenderung asam, maka kualitas udara banyak mengandung polusi.

“Dikatakan asam itu jika pH air hujan di bawah 5.6. Selama masih di bawah itu masih cukup aman, karena kalau pH air murninya 7.0,” paparnya.

Baca Juga :  Antisipasi Penularan Covid-19, Wisatawan Malioboro Dilarang Salat di Masjid Kompeks DPRD untuk Sementara

Tingkat keasaman air hujan menurut BMKG jika pH di bawah 5.6 termasuk asam, lebih dari 6.0-9.0 termasuk netral, saat mencapai 9.0 termasuk basa.

Berdasarkan pemantauan, selama masa pandemi Covid-19, pada bulan Maret lalu tingkat pH air hujan di DIY mencapai 5.47, memasuki April mencapai 5.69, pada Mei kemarin naik menjadi 6.32.

“Itu artinya air hujan cenderung mengarah pada air murni, sehingga dapat dianalisa jika kandungan asam pada atmosfir sudah berkurang,” terang dia.

Faktor yang memengaruhi hal itu dipicu lantaran adanya anjuran tetap di rumah dan pembatasan sosial.

“Sehingga aktivitas masyarakat di Yogyakarta ini berkurang, pengaruhnya kepada kondisi kualitas udara, karena konsumsi bahan bakar berkurang,” imbuhnya.

Selain itu, besar kecilnya pH menurutnya juga dipengaruhi oleh lebih banyak dipengaruhi oleh aktifitas manusia terkait bertambah nya gas karbon dioksida ( CO2 ) di udara, dan juga kondisi udara sudah tercemar oleh sulfur dioksida ( SO2 ) dan nitrat ( NO3 ) atau belum.

Saat disinggung apakah pergantian musim juga memengaruhi pH, Reni menjawab pengaruh pergantian musim pH dapat terjadi pada masa pancaroba.

Baca Juga :  Ultah ke-23 Tahun, BAF Salurkan Bantuan Untuk Anak Indonesia

Umumnya, masih kata Reni, pada saat masa pancaroba sering terjadi petir, di mana pada saat terjadi petir dapat mengubah nitrogen oksida ( NO) Menjadi nitrogen dioksida ( NO2 ).

“Jika bereaksi dengan ozon ( O3 ) maka akan Menjadi NO3. Tetapi walaupun masa pancaroba banyak petir, sedangkan aktifitas manusia dibatasi maka polusi juga berkurang, dapat terlihat pada saat pandemi covid 19 ini,” pungkasnya.

Pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Kondisi tersebut secara langsung menyadarkan pentingnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Utamanya karena RTH dinilai bagus untuk menyerap Karbon Monoksida (CO) dari pembuangan gas kendaraan bermotor.

Reni menambahkan semakin banyak RTH di tengah perkotaan, otomatis akan mempercepat perbaikan kondusi udara di tengah kota.

Secara teritorial, Kota Yogyakarta sangat membutuhkan RTH lebih banyak. Hal itu lantaran jumlah mobilitas kendaraan yang bertambah setiap tahunnya berakibat tingginya polusi udara di Yogyakarta.

“Karena jika RTH di tengah kota lebih banyak, tentu akan menyerap gas CO dari kendaraan. Sehingga pencemaran udara akan berkurang,” katanya, Jumat (12/6/2020).

www.tribunnews.com