JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Fenomena Serangan Ribuan Burung Emprit Resahkan Petani di Tanon Sragen. Sewa Orang Nunggu Perhari Rp 100.000 Sampai Pasang Jaring Habis Jutaan Demi Selamatkan Panenan

Para petani di Desa Gawan, Tanon, Sragen saat memasang jaring untuk menutup tanaman padi mereka dari serangan ribuan burung emprit. Foto/Wardoyo
Para petani di Desa Gawan, Tanon, Sragen saat memasang jaring untuk menutup tanaman padi mereka dari serangan ribuan burung emprit. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Derita petani di wilayah Sragen kian berat di musim tanam ini. Belum reda serangan tikus yang merajalela, kali ini petani kembali harus berjibaku dengan serangan burung emprit.

Serangan emprit dalam jumlah besar itu menyerang tanaman padi yang mulai berbuah.

Serangan burung emprit terjadi di wilayah Desa Gawan, Tanon dan sekitarnya. Ribuan ekor emprit itu menyerang tanaman padi yang memasuki awal berbuah.

Sarwo (64), petani di Desa Gawan, Tanon, Sragen menuturkam fenomena serangan hama burung emprit ini sudah berlangsung sejak dua minggu ini, saat padi mulai berbuah atau isi.

“Wah ini sudah tak bisa dikendalikan lagi mas. Ratusan bahkan ribuan burung emprit meresahkan petani. Mereka sasarannya makan padi yang baru berbuah,” kata Sarwo saat ditemui di sawah, Senin (31/8/2020).

Saking parahnya, Sarwo terpaksa memutar otak membeli jaring untuk dipasang di sawah guna untuk tetap bisa panen. Cara itu dianggap solusi terbaik setelah membayar orang untuk menunggu memakan terlalu banyak biaya.

Baca Juga :  Innalillahi, Satu Warga Ngrampal Sragen Kembali Meninggal Suspek Covid-19. Suspek Meninggal Naik Jadi 44 Orang, Jumlah Total Warga Meninggal Capai 72 Orang

“Terpaksa ini harus beli jaring mas untuk menangulangi hama burung ini. Kemarin bayar orang nunggu malah boros, sehari 2 orang Rp 90.000 sudah seminggu nggak reda. Saya pasang jaring lembut di atas tanaman padi dengan panjang jaring 100 meter dan luas 4 meter dengan harga Rp 100.000. Kalau satu petak seperempat hektare habis 18 jarinh kali Rp 100.000. Semua hampir 1.800.000 ,” paparnya.

Sarwo dibantu saudaranya Jailani (50) sibuk memasang jaring pada tanaman padi miliknya diatas lahan seluas satu hektar di wilayah Gawan.

“Kalau tidak dipasang jaring kayak gini pasti nggak bakal panen mas, soalnya habis di makan burung. Tiap hari jaga juga capek tiap hari dari pagi sampai sore makanya ini kita pasang jaring jaring ini dan sudah menghabiskan uang Rp 1.800.000 untuk modal pasang jaring ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Kisah Pilu 2 Nenek Miskin, Sasiyem dan Kasinem di Kedawung Sragen Kehilangan Rumah Gubugnya Yang Mendadak Ambruk. Satu Nenek Sempat Tertimpa dan Terjebak di Reruntuhan, Terpaksa Ngungsi di Rumah Dasinem

Pantauan dilokasi, ada belasan petani di Desa Gawan yang telah memasang jaring burung di sawah.

Tidak hanya itu, keluhan serupa juga mulai muncul di wilayah Desa Gading, Tanon, Sragen.

Sejumlah tanaman padi milik warga Gading mulai di serang rombongan burung emprit.

Salah satunya sawah milik Dirjo Wiranto (60) mengeluhkan sudah sepekan ini tanaman padi jenis ketan putih di makan burung emprit. Bahkan kini ronda siang hari dilakukan disawah, untuk menjaga padi agar bisa tetap panen.

“Burung ini sangat meresahkan dan menjengkelkan, serangan rombongan burung ini biasanya ada 10 sampai 20 ekor burung memakan padi saya. Sehingga tiap pagi jam 06.00 WIB sampai sore melakukan ronda siang hari di sawah sampai nanti benar benar burung ini hilang,” ujarnya. Wardoyo