JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Lelakon Sedihnya Petani di Karanganyar Didera Kelangkaan Pupuk. Dari Gulung Koming Berburu Pupuk ke Luar Daerah Sampai Beli Nonsubsidi Yang Lebih Mahal Meski Endingnya Harus Merugi!

Para petani di Karanganyar saat mengadukan kelangkaan pupuk Minggu (30/8/2020). Foto/Beni Indra
Para petani di Karanganyar saat mengadukan kelangkaan pupuk Minggu (30/8/2020). Foto/Beni Indra

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kelangkaan pupuk yang terjadi menyeluruh di Kabupaten Karanganyar musim panen tahun ini benar-benar menjadi pukulan menyakitkan bagi kalangan petani.

Tak ada pilihan lagi bagi petani kecuali nekad membeli pupuk non subsidi dengan harga jauh lebih mahal guna mengejar kelangsungan bertanam.

Hal itu otomatis membuat biaya membengkak dan membuat beban petani kian berat.

Supriyono Ketua Kelompok Tani Maju Dusun Serut, Kecamatan Jaten, Karanganyar menuturkan kondisi membeli pupuk subsidi berlangsung sudah dua bulan ini.

“Untuk pupuk urea, NPK, Ponska dan pupuk SP 36 saya terpaksa beli yang non subsidi lebih mahal karena pupuk subsidi langka tak pernah ada stoknya,” ujarnya.

Bahkan menurut Supriyono dirinya terpaksa harus berjibaku mencari dan membeli pupuk meski di luar Kabupaten Karanganyar demi bisa memupuk sawahnya.

Baca Juga :  Tembaki Kucing dengan Senapan, Seorang Warga di Karanganyar Dilaporkan ke Polisi Oleh si Pemilik Kucing. Satu Ekor Mati, Dua Luka Ringan

“Pokoknya dimana ada pupuk saya beli hingga Sukoharjo dan Sragen agar proses bertanam tetap lancar,” tandasnya.

Adapun besaran harga pupuk non subsidi yang dia beli terpaut kisaran Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per pupuk tergantung jenisnya.

Supriyono membeli pupuk urea sebesar Rp 140.000 per zak, sedangkan harga subsidi Rp 110.000 per zak. Sedang harga pupuk NPK & Ponska non subsidi sebesar Rp 180.000 per zak atau lebih mahal Rp 50.000 dibanding harga pupuk subsidi.

“Untuk pupuk SP36 non subsidi saya beli diluar Rp 160.000 per zak sedangkan harga pupuk subsidi Rp 110.000 per zak alias ada selisih harga Rp 50.000 lebih mahal per zak,” tuturnya.

Baca Juga :  Menohok, Pernyataan Bakal Cawabup Wiwoho Ingatkan Pola Intervensi dan Menekan PNS dan Kades Justru Akan Berdampak Sikap Apatis Dari Rakyat!

Tak pelak karena kebutuhan pupuk mencapai 12 zak per hektar maka biaya produksi melambung sedangkan jika panen lancar harga jual gabah stabil tidak ada kenaikan.

“Kalau dihitung-hitung jelas endingnya terjadi potensi kerugian 30%-40% jika dibanding dengan hasil panen,” ungkapnya.

Sementara itu Camat Jaten, Karanganyar, Dwi Saptohaji mengaku sudah mendapat laporan tersebut. Pihaknya sudah berkordinasi dengan Dinas Pertanian Karanganyar agar segera diberikan langkah solutif.

“Sudah kami lakukan semua upaya terkait kelangkaan pupuk ini. Tunggu Senin esok Dinas Pertanian segera melangkah,” ujarnya. Beni Indra