Beranda Umum Nasional Meski Hanya Beroperasi 50 Persen, Chatib Basri Yakin Perusahaan Tetap Bisa Jalan...

Meski Hanya Beroperasi 50 Persen, Chatib Basri Yakin Perusahaan Tetap Bisa Jalan di Masa Pandemi, Tapi Seperti Zombie

Chatib Basri / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kendatipun roda ekonomi beroperasi hanya 50 persen selama masa pandemi Covid-19 ini, namun perusahaan diyakini masih bisa jalan meski tidak break event point.

Hal itu dikatakan oleh mantan menteri keuangan, Chatib Basri. Ia menilai, sektor korporasi di Tanah Air masih dapat bertahan sekalipun roda ekonomi beroperasi tidak maksimal.

Chatib yang kini menjabat sebagai komisaris utama PT Bank Mandiri Tbk. mengungkapkan jika ekonomi hanya beroperasi 50 persen, maka banyak sektor di dalam negeri yang tidak bisa mencapai break even point.

Kendati demikian, dia melihat perusahaan masih bisa tetap bertahan selama mereka masih bisa membayar biaya variable seperti gaji dan lainnya.

“Tapi tak untung. Perusahaan bisa jadi zombie companies,” ungkap Chatib dalam akun Twitter resmi miliknya, Minggu (30/8/2020).

Menurutnya ada empat hal yang membuat ekonomi dalam negeri tidak dapat berjalan maksimal. Pertama, daya beli yang lemah. Kedua, perilaku kelas menengah atas yang berhati-hati karena kesehatan.

Baca Juga :  Prabowo Pastikan Anggaran Aceh 2026 Utuh, Telepon Menkeu Saat Rakor DPR

Ketiga, perubahan perilaku atau belanja online dan sebagainya. Terakhir, protokol kesehatan membuat ekonomi tidak bisa beroperasi 100 persen.

“Akibatnya skala ekonomi tak tercapai,” tulis Chatib.

Sebelumnya Chatib Basri menilai kebijakan belanja pemerintah seharusnya lebih eksogen dalam menghadapi kontraksi ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 terkontraksi -5,32 persen. Hal ini dipicu oleh anjloknya konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor yang dinilai Chatib sebagai faktor endogen.

“Yang mengkhawatirkan adalah pengeluaran pemerintah -6,9 persen. Artinya, government spending yang seharusnya bisa exogenous malah jadi procyclical,” ujar Chatib dalam cuitannya, Rabu (5/8/2020).

Artinya, Chatib menunjukkan bahwa serapan belanja menjadi masalah yang harus diperhatikan Presiden Jokowi dan pembantunya Sri Mulyani.

Jika belanja tidak bisa dieksekusi dengan baik, Chatib mengungkapkan pengeluaran pemerintah akan prosiklikalitas atau procyclical.

Baca Juga :  MAKI Ungkap Rekening Penampung Rp 200 M di Kasus Korupsi Kuota Haji

Dia paham banyak aktivitas pemerintah yang ditunda akibat pandemi. Namun, dia melihat banyak aktivitas yang bisa eksogen, seperti bantuan sosial dengan bantuan langsung tunai (BLT), alokasi kesehatan, UMKM dan stimulus.

www.tempo.co

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.