JOGLOSEMARNEWS.COM Netizen

Viral Solusi Sekolah Online Cukup dengan Iuran Rp1.000 Per Hari, Diunggah oleh Ketua RT di Subang

Ilustrasi belajar online. Foto: pixabay.com

JOGLOSEMARNEWS.COM Situasi pandemi seperti saat ini telah membuat banyak pihak mengalami kesulitan, tidak terkecuali para siswa sekolah.

Pandemi Covid-19 telah membuat sekolah-sekolah ditutup dan kegiatan belajar digantikan dengan pembelajaran via online atau daring.

Persoalan baru muncul karena tidak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang sistem pembelajaran online tersebut.

Tak jarang orangtua siswa dibuat bingung karena harus memenuhi kebutuhan sekolah online anak mereka, seperti ponsel yang memadai dan biaya kuota internet.

Namun warga di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Jawa Barat ternyata punya solusinya. Bahkan cukup dengan iuran Rp1.000 per hari dari masing-masing kepala keluarga.

Penjelasan tentang solusi sekolah online warga Tanjungsiang, Subang itu pun diunggah oleh salah seorang ketua RT bernama Ridwan Suryanagara ke Facebook dan kemudian menjadi viral.

Melalui tulisannya yang diunggah ke grup Info Cegatan Jogja (ICJ) di Facebook pada 28 Juli 2020 lalu, Ridwan memaparkan langkah yang diambil warga agar anak-anak sekolah di kampung mereka bisa menjalani sekolah online dengan lancar.

“Saya kebetulan ketua RT di daerah saya.. ber-inisiatif memasang Indihome untuk akses internet anak-anak sekolah di lingkungan RT saya… caranya ya seperti ini,” tulis Ridwan.

Iuran Rp1.000 Per KK

Dalam penjelasannya, Ridwan memaparkan jika ada 55 KK di lingkungan RT-nya. Masing-masing KK, tanpa melihat ada tidaknya anak di keluarga tersebut yang bersekolah, wajib menyisihkan Rp1.000 setiap hari dan akan dikumpulkan oleh Karang Taruna sebulan sekali.

Baca Juga :  Kabar Duka, Ketua RT di Desa Buran Karanganyar Dinyatakan Positif Terpapar Covid-19. Kerabat Cemas Karena Ada Kerabat Meninggal Dunia dan Rumahnya Berdekatan

“Jadi dalam 1 bulan setiap rumah mengumpulkan 30 ribu rupiah, nah ini dikumpulkan dari 55 KK,”

Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membayar biaya akses internet yang dipasang di balai RT. Selain itu, sisa dana juga dipergunakan untuk membeli kebutuhan tugas siswa, seperti kertas, tinta printer, hingga uang transpor untuk guru-guru yang datang mengajar.

“Dari 1,6 juta rupiah yang terkumpul, 600 ribu untuk membayar akses internet 50 mbps. Sisa 1 juta dipergunakan untuk membeli kertas beberapa rim dan beli tinta printer. Jadi kalau ada tugas yang mesti diprint ya tinggal diprint saja, ga perlu ke warnet atau ke rental komputer. Juga untuk membayar uang transport guru-guru yang mau datang mengajar di kampung kami,” tulis Ridwan menjelaskan.

Berdayakan Pemuda Desa

Untuk fasilitias, di balai RT juga telah tersedia komputer hasil sumbangan warga. Selain itu, anak-anak muda yang tidak bekerja juga diberdayakan sebagai pembimbing yang dibayar menggunakan uang kas RT.

Bagi anak yang belum memiliki ponsel juga tidak perlu membeli karena pemuda dari Karang Taruna bersiap meminjamkan selama proses pembelajaran online.

Dengan kerja sama saling membantu dari seluruh elemen warga, maka sekolah online tidak menjadi masalah bagi anak-anak di kampungnya.

“Solusi di kampung saya ya seperti itu. Cukup menabung sehari 1.000 rupiah per rumah. Orang tua yang kerja ya silahkan kerja, yang usaha silahkan usaha.”

Baca Juga :  Terkuak, Masa Lalu Pelaku Mutilasi Kalibata City: Lulusan FMIPA UI yang Lumayan Pintar hingga Sempat Viral karena Jadi Pelakor

“Di kampung ada anak-anak muda yang ga bekerja diberi tugas membimbing adik-adiknya yang sekolah. Dibayar sehari 20 ribu bagi yang mau mengajari adik-adiknya.”

Akses Internet Terbatas untuk Belajar

Ridwan juga menjelaskan penggunaan proyektor kecil untuk proses belajar yang menggunakan aplikasi Ruang Guru.

“Ini tujuannya biar membuka akses Ruang Guru lebih besar tangkapan layarnya. Jadi anak-anak bisa fokus ke layar besar tanpa harus membuka hp, karena tidak semua anak punya hp.”

“Kalau ada anak dari luar kampung kami mau ikut belajar dikarenakan tidak mempunyai hp ya kami persilahkan dengan catatan diperiksa dulu setiap hari kesehatannya.. ikutin aturan di kampung kami. Di balai RT disediakan meja yang diatur jaraknya sesuai prosedur kesehatan/sosial distancing.”

“Setelah proses belajar online selesai… Wifi dimatikan karena ini hanya akses buat belajar saja, bukan dipergunakan untuk membuka akses YouTube atau main game. Tiap hari password diganti biar tidak dipakai sembarangan oleh anak-anak yang tidak sekolah,” tulis Ridwan menjelaskan.

Meski unggahannya kemudian menjadi viral, Ridwan bersikeras tidak ingin mengungkap secara rinci kampung tempat tinggalnya. Hal itu lantaran sudah menjadi kesepakatan warga yang tidak ingin keberhasilan di kampungnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

“Saya hanya menyebutkan nama kecamatannya saja ya. Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat,” tutup Ridwan dalam tulisannya. Vidya Perdana