JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Wilayah Rawan Kekeringan di Sragen Meluas. BPBD Sebut Naik 70 % Menjadi 249 Dukuh, Warga Tangen Mengaku Sudah Malu dan Bosan Didroping

Ilustrasi warga di Desa Dukuh, Tangen, Sragen saat mengais sisa air dari lubang sungai yang mengering saat kemarau. Foto/Wardoyo


Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Ilustrasi warga di Desa Dukuh, Tangen, Sragen saat mengais sisa air dari lubang sungai yang mengering saat kemarau. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wilayah kekeringan di Kabupaten Sragen pada musim kemarau tahun ini semakin luas. Jika tahun sebelumnya hanya 146 dukuh, tahun ini meningkat 70 persen menjadi 249 dukuh.

Hal itu diungkapkan Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen, Sugeng Priyono kepada wartawan, Kamis (24/9/2020). Ia mangatakan dari berdasarkan kondisi, tahun ini memang masuk kemarau basah.

Namun wilayah rawan krisis air bersih di Sragen justru meningkat dari 146 dukuh menjadi 249 dukuh.

Wilayah kekeringan itu masih tersebar dan didomibasi di tujuh kecamatan utara Bengawan Solo. Meliputi Kecamatan Sumberlawang, Jenar, Miri,  Mondokan, Tangen, Gesi dan Sukodono.

“Sebarannya meluas. Dari tahun lalu yang hanya 146 dukuh di 36 desa, tahun ini menjadi 249 dukuh di 43 desa,” paparnya.

Namun, ia menjelaskan meluasnya sebaran itu bukan berarti kekeringan tahun ini lebih parah dari tahun lalu. Sebab kondisi kekurangan air bersih ini tidak merata satu desa seperti tahun lalu.

Baca Juga :  Dengar Bansosnya Diblokir Kalau Belum Vaksin, Nenek-Nenek di Sragen Langsung Nangis Histeris. Bupati Akhirnya Tak Tega

Melainkan, hanya dilingkungan tingkat RT atau RW yang dapat ditangani dengan dropping air bersih dari BPBD.

“Kalau dulu kan ngeblok satu desa total butuh bantuan. Tahun ini titiknya tertentu. Ada wilayah dulunya tidak kering sekarang butuh pasokan air sangat mungkin. Ini kan diuntungkan dengan kemarau basah. Pelan tapi pasti jumlah dropping terus bertambah,” terangnya.

Sugeng menyampaikan untuk dropping air bersih sampai hari ini baru 376 tangki. Jumlah ini turun signifikan jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Meluasnya kekeringan terjadi karena recovery alam di wilayah utara Bengawan sangat kurang.

Salah satu tokoh masyarakat Tangen, Sri Wahono mengakui, warga sebenarnya malu, setiap tahun selalu dilanda kekeringan dan menjadi tempat baksos droping air bersih.

“Masyarakat itu betul-betul sudah bosen didroping air itu. Karena malu setiap tahun mendapatkan droping air. Lha yang diinginkan pemerintah membuat sumur dalam yang bisa memberikan suplai kepada masyarakat meskipun bayar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polres Sragen Salurkan 20 Paket Beras untuk Warga Terdampak Covid-19 di Kecamatan Kedawung

Ia mengatakan warga menuntut pemerintah membuat jaringan PDAM sampai ke daerah rawan kekeringan agar tidak lagi terjadi krisis air bersih. Wardoyo