JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Ajaib! Penyakit Leukemia Pun Sembuh Berkat Madu Borneo87

Kasdiono (77) tengah, penderita leukemia yang kondisinya membaik setelah mengonsumsi madu Borneo87. Paling kanan, Suharyanto / dok pribadi
madu borneo
madu borneo
madu borneo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ajaib! Itulah ungkapan yang sering terlontar ketika mengonsumsi madu hutan Borneo87. Banyak orang yang memiliki keluhan penyakit berbeda-beda, bisa sembuh setelah mengonsumsi madu hutan Borneo87.

Bahkan, penderita penyakit leukemia yang sudah akut pun dalam hitungan beberapa bulan, insyaallah sudah membaik. Setidaknya, dua orang telah merasakan khasiat madu hutan Borneo87 ini.

Salah satu pasien tersebut adalah Kasdiono (77), warga Triharjo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo.

Sudah 11 tahun silam Kasdiono mengalami penyakit yang menjadi menjadi momok bagi banyak orang, yakni leukemia. Sejak vonis penyakit itu dijatuhkan, saat itu pulalah Kasdiono rutin menjalani perawatan di rumah sakit.

“Tiga bulan sekali bapak menjalani pengobatan. Kami harus boyong bapak dari rumah di Kulonprogo ke RS dr Sardjito di Yogya. Kami harus menginap satu malam di sana. Apalagi saat itu belum ada BPJS,” ujar Suharyanto, sang putra menantu.

Rutinitas pengobatan dan perawatan itu terus berlangsung, hingga puncaknya, dokter sempat melakukan operasi pengambilan sumsum tulang belakang di RS dr Sardjito, Yogyakarta. Namun, tindakan medis itu ternyata belum secara otomatis mengakhiri penderitaan Kasdiono.

Pasalnya, selama itu pula, ia sangat tergantung pada obat dan tranfusi darah yang dilakukan di RSUD Wates.

Sepulang dari rumah sakit, ia selalu diberi resep tiga jenis obat yang jumlahnya cukup banyak. Sementara, jika tiga bulan belum menjalani tranfusi darah, seluruh badan terasa sakit.

Suharyanto mengatakan, tranfusi darah untuk ayahnya terakhir dilakukan pada bulan Februari 2020. Entah karena kebetulan atau sebab lain, pandemi virus Corona yang terjadi awal Maret 2020, secara tak langsung menjadi titik awal Kasdiono kenal dengan madu Borneo87.

“Sejak pandemi ini, bapak tidak mau dibawa ke rumah sakit untuk menjalani tranfusi. Padahal aturannya kan harus melakukan tranfusi darah. Saat itu kebetulan saya diberitahu teman untuk mencoba madu hutan Borneo87 ini. Karena tak ada pilihan lain, kami pun mencobanya,” ujar Suharyanto yang bekerja sebagai ATC di Bandara A Yani, Semarang itu.

Sejak itulah, Kasdiono mulai rutin mengonsumsi madu Borneo87. Pagi hari sebelum makan, ia menenggak dua sendok makan madu Borneo87, dan malam sebelum tidur satu sendok makan.

Bersamaan dengan konsumsi madu Borneo87, menurut Suharyanto, obat dari dokter tetap masih dikonsumsi. Hanya saja, jenis dan frekuensi minumnya mulai dikurangi perlahan-lahan.

“Dulu ada tiga macam obat, tapi sekarang tinggal satu jenis obat saja yang diminum,” ujarnya.

Suharyanto mengatakan, sejak obat-obat medis itu dikurangi dan digantikan dengan madu Borneo87, sejauh itu pula belum ada keluhan pada diri ayahnya.

“Nyatanya sampai sekarang tak ada telepon dari rumah Kulonprogo, ini artinya bapak sehat-sehat saja,” ujar Suharyanto yang kini tinggal di Semarang.

Suharyanto merasa yakin madu Hutan Borneo87 memiliki khasiat pengobatan, karena ia memiliki pengalaman tersendiri ketika bekerja seabagai ATC di Kalimantan.

“Saya dulu mengonsumsi madu hutan saat di Kalimantan, jadi bisa membedakan mana madu hutan yang berkualitas dan mana yang tidak,” ujarnya.

Dokter Menyerah

Sebelum Kasdiono, ada seorang warga Wonosari Gunungkidul yang juga mengalami sakit leukemia akut. Pria berusia 70 tahun yang enggan disebut namanya itu nyaris tak punya harapan ketika dokter memvonis ia menderita leukemia.

Terlebih ketika semua anak dan isterinya dikumpulkan oleh dokter, dan mendengar kabar bahwa penyakit pria berinisial Sdj itu tak dapat disembuhkan, pupuslah semua harapan hidupnya.

Kesedihan itu sungguh dirasakan oleh seluruh anggota keluarganya. Sebab, mereka telah berusaha mati-matian agar sosok yang mereka cintai itu sembuh, namun ternyata jalan telah buntu. Rasanya kematian telah menghadang di depan mata.

“Dokter hanya berpesan agar kami menuruti semua permintaan ayah,” kisah Rw (37), salah satu putrinya.

Penderitaan yang dialami Sdj bermula pada tahun 2017 lalu. Di rumah sakit, tiga malam pria yang dulu berprofesi sebagai bengkel itu mengalami muntah darah.

Hasil diagnose dari dokter THT dan internis saat itu menyebutkan bahwa Sdj mengalami pecah pembuluh darah. Dia pun beberapa hari opname, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

Baca Juga :  Jika Ingin Berat Badan Cepat Turun Lakukan Kebiasaan Ini Usai Berolahraga

“Sejak kejadian itu, bapak sering keluar masuk rumah sakit,” ujar Rw.

Selain pernah mengalami pecah pembuluh darah, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, Sdj juga menderita diabetes. Gula darahnya mencapai 350.

Ia pun menjalani suntik insuline selama satu tahun, untuk mengendalikan gula darahnya agar tetap stabil. Namun Rw beserta keluarganya merasa ada sesuatu yang aneh.

Pasalnya, setiap kali habis suntik insuline, kondisinya justru drop. Seluruh badan Sdj lemas seolah tanpa daya. Karena itulah, suntik insuline dihentikan, dan sang isteri memberinya banyak makan serta minum manis.

“Entahlah, sejak itu bapak gonta ganti penyakit,” ujar Rw.

Dia mencontohkan, setelah pecah pembuluh darah dan diabetes, ayahnya juga pernah mengalami jantung bengkak, paru-paru terganggu dan ginjal bermasalah.

Di samping pengobatan secara medis, Sdj juga pernah menjalani terapi pijat selama 34 kali tanpa putus. Terapi itu berlangsung dengan jadwal empat kali dalam satu minggu.

Sehabis terapi, ujar Rw, biasanya badan ayahnya terasa enak, kadar gula darah juga normal. Akan tetapi, setelah lepas dari 34 hari terapi, kondisi Sdj kembali memburuk. Kondisi yang terus menerus muntah mendorongnya kembali opname di rumah sakit.

Anehnya, hasil cek laborat menunjukkan bahwa jantung, ginjal, paru-paru, tensi dan gula darahnya saat itu dalam kondisi normal. Namun saat itu pula kabar buruk itu datang bagai petir di siang bolong.

Dokter mengatakan bahwa kadar sel darah putih Sdj mencapai 45.000. Jumlah ini menurut Rw yang merujuk ucapan dokter, melebihi jumlah standar normal.

“Dokter bilang, ayah menderita kanker darah atau leukemia,” ungkapnya.

Sontak seluruh anggota keluarganya terkejut dan sedih. Bagaimana tidak sedih, karena sampai sejauh ini leukemia adalah salah satu penyakit yang menjadi momok karena sulit disembuhkan.

Namun apa boleh buat, kenyataan telah berada di depan mata, sehingga apapun yang akan terjadi harus dihadapi.

Setelah mendapat pengobatan di rumah sakit, Sdj akhirnya diperbolehkan pulang. Namun baru satu minggu di rumah, kondisinya drop lagi, yang mengharuskan ia kembali opname.

Hasil cek lab kembali membuat keluarga terkejut, karena kadar darah putih melonjak. Dari semula 45.000 saat itu menjadi 47.000. Saat itulah dokter menyarankan agar Sdj menjalani operasi sumsum tulang belakang.

Satu-satunya rumah sakit yang bisa melakukan operasi sumsum tulang belakang dengan fasilitas BPJS adalah RS Dr Sardjito di Yogyakarta. Namun mengingat antrenya yang sangat lama, dokter menyarankan untuk mengambil jalur non BPJS, karena kebetulan di RS Bethesda Yogyakarta sedang ada keringanan biaya.

“Kami menurut saja. Prinsipnya bapak segera mendapat penanganan yang terbaik,” ujar Rw.

Selepas menjalani operasi sumsum tulang belakang, kondisi Sdj boleh dibilang membaik. Namun entah kenapa, suatu ketika kondisi pria tersebut kembali merosot, hingga memaksa ia masuk rumah sakit lagi.

Obat yang Tak Terjangkau

Saat itulah, demikian cerita Rw, dokter sempat menawarkan obat untuk ayahnya. Harganya mencapai Rp 30 juta. Namun pihak keluarga keberatan karena obat tersebut tidak menjamin kesembuhan ayahnya, dan kondisi keuangan keluarga ibarat sudah habis-habisan.

Opsi kedua, Sdj bisa mendapatkan infus seharga Rp 3,5 juta per botol. Infus tersebut katanya untuk mensuplai tenaga kepada pasien.

“Saya langsung tanya, apakah infus itu wajib? Dan karena katanya tidak wajib dan tidak menjamin kesembuhan bapak, akhirnya saya tidak ambil,” katanya.

Setelah dua opsi dari dokter tersebut gagal dijalani, akhirnya muncul opsi terakhir dari dokter. Dokter menyarankan untuk memberi pasien banyak makan dengan lauk putih telor.

“Opsi ini memang lebih ringan, tapi berat menjalankannya karena bapak tidak mau makan putih telor. Makan yang normal saja susah, apalagi lauknya putih telor,” beber Rw.

Pada titik inilah akhirnya dokter mengumpulkan seluruh anak dan isteri Sdj. Saat itu dengan berat hati dokter mengatakan bahwa penyakit Sdj tidak dapat disembuhkan.

“Kami hanya dipesan agar selalu menuruti segala permintaan bapak. Kami diminta untuk membuat bapak selalu senang,” katanya.

Sejak itulah, harapan kesembuhan untuk orang yang mereka cintai telah pupus. Bagaimana mereka mampu membuat orang yang mereka cintai itu senang, sementara hati mereka teriris melihat penderitaannya?

Baca Juga :  Pasien Covid-19 Sembuh Masih Mungkin Membawa Virus

Ibarat pejuang yang kalah perang, dengan hati nelangsa, mereka pun membawa Sdj pulang ke rumah. Bagaimana pun juga, pesan dokter akan mereka laksanakan. Ayahnya tidak boleh merasa sedih, sebagaimana kesedihan yang sebenarnya mereka simpan dalam-dalam.

Datang Harapan Baru

Di tengah harapan yang telah pupus itulah, datang saudara Rw ke rumah. Melihat kondisi pria itu hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, Wahyu memberikan saran.

“Mbok coba diberi madu Borneo87 punya teman saya, siapa tahu jodoh?” ujar Rw menirukan ucapan Wahyu.

Di tengah pupusnya harapan untuk ayahnya, Rw dan keluarganya pun langsung menyetujui saran saudaranya tersebut. Dan sejak itulah ayahnya memulai mengonsumsi madu hutan Borneo87.

Bersamaan dengan itu, Rw mulai menyetop obat-obatan yang dibawakan oleh dokter. Madu tersebut, demikian pengakuan Rw, memberikan efek yang luar biasa pada kondisi ayahanya.

Ia menggunakan takaran 3 kali sendok makan malam hari dan dua kali sendok makan di pagi hari. Reaksinya sungguh di luar dugaan Rw dan keluarganya, karena kepala ayahnya menjadi berat, pusing dan keluar keringat dalam jumlah yang banyak.

Namun karena tekad yang sudah bulat, ia pun meneruskan konsumsi madu tersebut tetap dengan takaran tersebut. Setelah habis setengah botol, rasa pusing di kepala pria itu mulai berkurang.

“Bapak tidak lagi mual dan muntah-muntah. Malamnya ia juga dapat tidur pulas,” ujar Rw.

Anehnya lagi, demikian ujar Rw, frekuensi buang air kecil ayahnya sudah jauh berkurang. Jika sebelum mengonsumsi madu Borneo87 ia bisa 10 sampai 20 kali buang air kecil di malam hari. Namun setelah mengonsumsi madu tersebut, ayahnya hanya buang air kecil dua sampai tiga kali saja semalam.

“Ini menurut saya seperti keajaiban. Karena buang air besar juga menjadi lancar. Padahal sebelumnya pernah terjadi, dalam seminggu bapak itu nggak bisa BAB,” ujar Rw.

Keajaiban tersebut bagi keluarga Rw tidak berhenti sampai di situ. Ayahnya yang sebelumnya hanya bisa tidur terlentang di atas dipan, terkadang malah bisa bangun sendiri dan berjalan.

“Saya kadang juga bingung, bapak tiba-tiba tidak ada di dipan. Tahu-tahu sudah di dapur,” ujar kakak Rw menimpali.

Puncaknya terjadi ketika tanpa diketahui anak isterinya, ayahnya membonceng sepeda motor cucunya untuk membeli soto. Semua orang di rumah sudah kalang kabut dibuatnya.

“Sampai di rumah barulah cucunya cerita kalau eyang baru saja makan soto satu mangkok di warung,” kisah Rw.

Mendapati kenyataan menggembirakan itu, Rw dan keluarganya berharap ayahnay akan tetap sehat dengan hanya mengonsumsi madu hutan tersebut.

Bukan Keajaiban

Bagi beberapa orang yang mengalami, mendengar atau mengetahui, ini adalah fenomena baru yang menggembirakan dalam hal pengobatan.

Nunung Jaka Hargana (kanan), pemilik madu Borneo87 bersama dengan wisatawan manca negara / dok pribadi

Akan tetapi, owner Madu Borneo87, Nunung Jaka Hargana justru berpendapat lain. Ia mengakui, kesembuhan Sdj oleh madu hutan tersebut memang merupakan fenomena baru, namun bukan suatu keajaiban. Efek positif dari madu Borneo87 dapat dinalar secara logis.

Kuncinya menurut Nunung, adalah sari-sari makanan yang diisap oleh lebah hutan. Madu hutan Borneo87 diperoleh secara alami dari hutan di pelosok Kalimantan, sebuah kawasan yang sangat kaya akan pohon yang berkhasiat untuk pengobatan.

Ribuan jenis tanaman obat menurut Nunung ada di sana. Untuk itu, dia yakin, ribuan jenis nektar pohon yang diisap oleh lebah hutan itu memiliki manfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

“Mungkin salah satu dari nektar itu bisa menyembuhkan penyakit yang diderita Sdj. Dan lebah hanya sebagai perantara saja, intinya terletak di jenis nektar yang diisap lebah,” beber Nunung Jaka yang pernah malang melintang di pelosok hutan Kalimantan tersebut.

Justru dengan kesaksian Sdj tersebut, Nunung Jaka merasa yakin, bahwa madu hutan Borneo87 mampu menyembuhkan penyakit lainnya.

Kini, untuk mendapatkan madu hutan Borneo87 tidak harus datang ke Kalimantan. Madu dapat dipesan dengan mengontak nomor: 082328048189. Secepatnya pesanan akan diantar atau dikirim ke alamat. suhamdani