JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

(Bag 3) Kisah Haru Perjuangan Ervan, Bocah Asal Sragen 11 Tahun Hilang di Jakarta Bisa Kembali Bertemu Keluarganya. Dijebak Sindikat Pengamen, Tiap Hari Ditarget Rp 70.000, Digebuki Hingga Disilet, Mau Kabur Tertangkap Terus!

Ervan (tengah) saat diapit ayahnya, Suparno (kanan) dan kakek neneknya, Selasa (6/10/2020). Foto/Wardoyo
madu borneo
madu borneo
madu borneo

 

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kisah Ervan Wahyu Anjasworo (16) bocah asal Dukuh Panurejo RT 15, Kedungupit, Sragen, yang berhasil kembali bertemu dengan keluarganya usai dinyatakan hilang selama 11 tahun menyisakan cerita panjang.

Dikisahkan sebelumnya, setelah hilang saat usia lima tahun, putra pasangan Suparno (37)- Tanti (35) yang sempat dikira diculik, ternyata dibujuk oleh empat pemuda rombongan pengamen.

Ervan yang masih kecil dan baru kali pertama diajak ke Ibukota, hilang saat mengembalikan game watch sewaan di dekat kontrakan bapaknya di wilayah Kemayoran.

Setelah diajak empat pengamen, hidup Ervan pun berubah drastis di jalanan. Di tangan rombongan pengamen itu, Ervan didik dengan kehidupan keras ala jalanan.

Ervan kecil setiap hari dipaksa ikut mengamen dengan target Rp 70.000. Bocah yang kala itu masih duduk di bangku TK, bahkan mengaku kerap mendapatkan perlakuan tak manusiawi.

Baca Juga :  Berikut Daftar 11 Warga Sragen Yang Terpapar Positif Covid-19 Hari Ini. Ada Balita 1 Tahun di Masaran, Kasus di Baleharjo, Sukomarto, Gebang, Kliwonan, Banaran Kembali Meledak!

“Kenangan paling sedih ya waktu disuruh mengamen itu. Kalau nggak bisa target suka dipukul dan dicambuk,” ujar Ervan ditemui di rumah kakeknya di Dukuh Panurejo, Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, kemarin.

Ervan mengisahkan karena masih kecil, ia tak mampu berpikir panjang. Saat itu ia hanya bisa menurut ajakan keempat pengamen yang usianya jauh lebih tua darinya itu.

Tangisan dan rengekan minta dipulangkan ke orangtua tak pernah digubris.

Yang ada, hari-harinya penuh siksaan dengan dipaksa ngamen dan sehari hanya dijatah sekali makan. Semua uang penghasilan harus disetorkan ke pentolan pengamen itu.

“Pokoknya kalau ngamennya nggak target, saya dipukuli. Bahkan tangan saya ini juga penah disilet,” kenang Ervan.

Melarikan diri,  juga bukan pilihan mudah bagi anak seumurnya kala itu. Selain masih kecil, ia juga buta dengan wilayah Jakarta.

Baca Juga :  Innalillahi, Kepala Sekolah Asal Gondang Sragen Meninggal Dunia Kecelakaan Maut Digasak Truk di Jalan Gondang-Winong. Awalnya Disenggol Pikap, Motornya Ringsek Terlindas

Tak hanya itu, para pengamen yang menjebaknya itu ternyata memiliki jaringan yang luas sehingga dirinya akan mudah tertangkap lagi.

“Pernah berusaha kabur. Tapi ketangkep lagi, abis itu digebukin. Benar-benar nggak manusiawi lah,” tuturnya.

Hampir tiga tahun hidup di jalanan, Ervan juga terpaksa harus makan seadanya. Bahkan tak jarang dirinya harus mengais sampah sekedar untuk mengisi perut.

“Makan seadanya lah. Pernah mulung pernah juga beli sendiri. Sedangkan untuk tidur kadang di emperan toko, belakang toko, sering juga di bawah jembatan,” lanjutnya.

Ervan mengaku saat itu terkadang dirinya sering menangis karena ingin bertemu keluarganya.

Acapkali meminta, para pengamen tersebut hanya menjawab enteng dengan menjanjikan untuk mengantarnya pulang.

“Nangis iya Mas. Tapi namanya anak kecil, selalu dijanjiin pulang ya saya iya-iyain aja,” tukasnya. (Wardoyo/Bersambung)