JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Diklaim Ampuh Obati Covid-19, Remdesivir Awalnya Digunakan untuk Penyakit Lain. Ini Cara Kerjanya Bantu Pengobatan Pasien yang Terinfeksi Virus Corona

Ilustrasi pengobatan infus. Foto: pixabay.com
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Para peneliti di dunia saat ini sedang berjuang untuk menemukan obat maupun vaksin yang mampu menangkal virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Meski hingga kini belum ada obat yang secara resmi disebut sebagai obat Covid-19, namun sejumlah obat yang ada disebut mampu membantu proses penyembuhan pasien yang menderita penyakit tersebut.

Salah satu yang ramai dikabarkan efektif dapat menyembuhkan penyakit Covid-19 adalah obat antivirus yang bernama Remdesivir. Namun apa sebenarnya obat tersebut?

Dokter Spesialis Paru, Erlina Burhan mengungkapkan, di Indonesia obat Remdesivir sebenarnya sudah dimasukkan dalam standar perawatan pasien Covid-19 meski sebelumnya belum tersedia.

“Tapi kita baru saja mendapatkan informasi bahwa Remdesivir sudah ada di Indonesia dan sudah mendapatkan izin pemakaian emergensi untuk pasien-pasien di Indonesia,” kata Erlina dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2020).

Dokter Erlina, yang juga tergabung dalam Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19, mengungkapkan bahwa sesungguhnya Remdesivir adalah obat antivirus yang ditujukan untuk pasien Ebola.

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan itu menambahkan, di beberapa negara, obat ini juga diuji coba dalam terapi pengobatan pasien Covid-19 dan menunjukkan hasil yang baik.

“Cara kerjanya adalah Remdesivir ini menghambat replikasi virus. Jadi mudah-mudahan, kalau dimasukkan Remdesivir ini, replikasi virus bisa terhambat sehingga tidak terjadi keparahan yang lebih lanjut, kemudian sistem imun kita bisa mengendalikan,” kata Dokter Erlina menjelaskan.

Baca Juga :  Libur Panjang Akhir Oktober Kurang Menarik Minat Masyarakat untuk Bepergian

Adapun, cara pemberiannya obat ini dilakukan melalui infus dengan aturan dan dosis tertentu yang diberikan kepada pasien Covid-19 selama beberapa hari.

Penggunaan Remdesivir di Dunia

Sementara itu dikutip dari AP News, studi besar mengenai penggunaan Remdesivir dalam pengobatan pasien Covid-19 pertama kali dilakukan di Amerika Serikat.

Dalam sebuah penelitian terhadap 1.063 pasien bergejala parah di rumah sakit, Remdesivir dari Gilead Science terbukti mempersingkat waktu pemulihan hingga 31 persen dengan rata-rata 11 hari. Hal itu lebih singkat dibandingkan pada pasien yang diberi pengobatan biasa, yaitu 15 hari.

Pada Mei 2020, Gilead memperluas voluntary non-exclusive license kepada perusahaan farmasi generik terkemuka di India dan produsen obat antiretroviral di India, Hetero untuk memproduksi dan mendistribusikan Remdesivir di 127 negara, termasuk Indonesia.

Remdesivir sendiri siap dipergunakan di Indonesia sejak kemarin, usai diluncurkan secara resmi oleh PT Kalbe Farma, yang bekerja sama dengan Amarox Global Pharma, anak perusahaan dari Hetero India.

Di Indonesia, Kalbe Farma menyatakan, penggunaan obat Remdesivir bermerek Covifor ini hanya diizinkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagai penggunaan darurat. Sehingga, mereka hanya akan mendistribusikannya secara langsung ke rumah sakit yang membutuhkan.

Baca Juga :  Tak Akan Terbitkan Perpu Soal UU Cipta Kerja, Jokowi Siap Lakukan Koreksi

Harga jual obat ini juga masih cukup mahal, yakni sekitar Rp3 juta per dosis. Namun disampaikan Presiden Direktur PT Kalbe Farma, Vidjongtius harga obat Covid-19 itu bisa berubah di kemudian hari bila volume permintaannya meningkat.

“Harga sekitar Rp3 juta per pile (dosis) dan harga sangat tergantung dengan volume. Jika volumenya meningkat, harga bisa ditinjau kembali,” ujarnya di Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Kandidat Obat Antivirus Corona

Selain Redemsivir, sejumlah obat lain juga disebut berdampak dalam membantu proses penyembuhan maupun meminimalisir efek yang ditimbulkan infeksi virus corona.

Jika Redemsivir diklaim dapat mengurangi lama waktu pemulihan pasien dari 15 hari menjadi 11 hari dan mencegah replikasi virus, ada obat bernama Dexamethasone, yang diklaim mampu mengurangi angka kematian pasien positif Covid-19 yang menggunakan ventilator. Tetapi obat ini disebut tidak berdampak pada pasien tahap awal Covid-19.

Kemudian ada Avigan (Favipiravir), yang diklaim mampu mencegah sel manusia terinfeksi virus SARS-CoV-2 jika diberikan dalam dosis tinggi. Selain itu juga ada Lopinavir/Ritonavir, Azithromycin, Hydroxychloroquine, dan Chloroquine, yang melalui sejumlah penelitian menunjukkan hasil efektif menyembuhkan pasien Covid-19, tetapi pada beberapa pasien lain tidak berdampak, sehingga masih membutuhkan studi lanjutan. Liputan 6