JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Perusahaan Farmasi di Indonesia Berlomba Sediakan Obat Covid-19, Mulai dari Impor hingga Produksi Dalam Negeri

Ilustrasi aneka bentuk obat. Foto: pixabay.com
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Sejumlah perusahaan farmasi di Indonesia kini mulai berlomba menyediakan obat-obatan untuk terapi pengobatan Covid-19. Ada yang memproduksi sendiri, ada pula yang hanya memasarkan obat buatan perusahaan farmasi luar negeri.

PT Kalbe Farma menjadi yang pertama kali mengumumkan akan menjual obat Covid-19. Bekerja sama dengan perusahaan asal India, Kalbe Farma menjual obat Remdesivir dengan merek dagang Covifor dengan harga jual Rp1,5 juta, turun 50 persen dari awal perilisan Rp3 juta.

Selanjutnya ada BUMN farmasi, PT Indofarma, yang juga akan menjual obat antivirus Remdesivir dengan merek dagang Desrem. Obat dengan berat 100 mg ini diproduksi Mylan Laboratories Limited atas lisensi dari Gilead Sciences Inc Foster City san United States of America dan akan dipasarkan dalam waktu dekat.

Direktur Utama Indofarma, Arief Pramuhanto mengungkapkan, peluncuran obat ini akan dilakukan pekan ini.

“Kemudian untuk ketersediaan stok untuk bulan ini, sudah ada sebanyak 400.000 vial (botol kecil) dengan harga yang tentunya terjangkau oleh masyarakat,” ungkap Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto.

Baca Juga :  Makan Bersama Napoleon dan Prasetijo, Kejari Jaksel Diperiksa Kejagung

Selain Desrem, Indofarma juga memprodiksi Oseltamivir 75gr Caps, yang merupakan antiviral unggulan yang saat ini telah menjadi rujukan sebagai protokol pengobatan Covid-19 di berbagai rumah sakit.

Oseltamivir 75gr Caps telah memiliki sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) senilai 40.06 persen dan diproduksi sendiri oleh PT Indofarma, dengan kapasitas produksi sebesar 4,9 juta kapsul per bulan, sehingga diharapkan dapat mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Tak hanya Indofarma, perusahaan farmasi BUMN lainnya, yakni PT Kimia Farma, juga telah memproduksi sendiri obat antivirus untuk Covid-19, yang diberi nama Faviravir.

Selain Faviravir, PT Kimia Farma, dan anak usahanya, PT Phapros, telah berhasil memproduksi juga beberapa obat untuk penanganan Covid-19, antara lain Chloroquine, Hydroxychloroquine, Azithromycin, Favipiravir, Dexamethasone, dan Methylprednisolon.

“Kimia Farma juga memproduksi beberapa multivitamin penambah daya tahan tubuh, seperti Vitamin C (tablet dan injeksi), Becefort, Fituno dan Geriavita sebagai tambahan produk untuk menjaga daya tahan tubuh,” ujar Direktur Utama Kimia Farma Verdi Burdidarmo.

Baca Juga :  Gedung Kementerian ESDM Dirusak Massa Saat Demo Tolak Omnibus Law, Kerugian Capai Rp 2,5 M

Verdi menambahkan, untuk jenis obat Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19, sudah dapat diproduksi sendiri oleh Kimia Farma. Ini adalah produk pertama yang dikembangkan BUMN dan telah mendapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta akan didistribusikan ke seluruh layanan kesehatan sesuai dengan regulasi pemerintah.

Sementara itu, Direktur Utama Holding BUMN Farmasi, Honesti Basyir menyatakan, adanya holding BUMN farmasi membantu pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 baik dari sisi pencegahan melalui penyediaan vaksin, penanganan melalui pengobatan dan pemberian multivitamin, maupun melalui penyediaan alat kesehatan.

“Anggota BUMN Holding Farmasi, yaitu PT Kimia Farma saat ini sudah mampu memproduksi obat untuk penanganan Covid-19, yaitu Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19, hasil besutan dari PT Kimia Farma,” ujar Honesti dalam keterangannya, Senin (5/10/2020). Liputan 6