JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Bocah SD di Sragen Digigit Ular Cobra Saat Bermain di Dalam Rumah, Mengapa Ular Banyak di Sekitar Hunian Warga? Ini Fakta tentang Ular yang Perlu Anda Diketahui

Ilustrasi ular kobra. Foto: pexels.com
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

JOGLOSEMARNEWS.COM Seorang bocah berusia 10 tahun di Dukuh Grasak, Desa Bago, Kradenan, Grobogan, Sragen, terpaksa harus dibawa ke rumah sakit setelah kaki kanannya dipatuk ular Cobra Jawa atau ular Dumung saat bermain di dalam rumah.

Rumah tinggal yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk anak-anak ternyata masih bisa disusupi oleh ular liar. Bagaimana bisa ular banyak ditemui di sekitar hunian warga?

Menurut Yayasan Sioux Ular Indonesia, musim penghujan, terutama di bulan November dan Desember memang merupakan musim bagi telur ular untuk menetas.

“Bulan November dan Desember adalah bulan menetasnya telur-telur ular karena proses siklus biologi alami mereka. Seperti tahun lalu, banyak ditemukan anakan ular kobra di sekeliling rumah tinggal kita karena induk kobra menaruh telur di sekitar hunian manusia sekitar bulan Agustus – September, setelah musim kawin,” tulis keterangan Yayasan Sioux Ular Indonesia, dikutip Joglosemarnews, Rabu (11/11/2020).

Sebelumnya, perlu diketahui pula sejumlah fakta penting tentang ular dan telur ular yang banyak ditemukan di sekitar hunian warga.

Pertama, perlu dipahami bahwa ular adalah satwa liar yang habitatnya dekat dengan manusia. Ular mendapatkan makanan di sekitar tempat tinggal manusia. Hal itulah yang mendorong insting induk ular untuk menaruh telurnya di lokasi yang banyak sumber makanan untuk mencukupi kebutuhan anakannya nanti.

Baca Juga :  Habiskan Rp 170 Juta Lebih, Debat Publik Pilkada Sragen Panen Kritikan. Siaran TV Sempat Trouble, Live Streaming Hanya Ditonton 160an Orang, Parpol Pengusung Sebut Hanya Hambur-hamburkan Anggaran!

Kedua, ular adalah satwa yang mampu beradaptasi cepat dengan lingkungan baru, termasuk pembangunan kawasan yang awalnya adalah habitat mereka. Meskipun tergusur, ular dapat bertahan hidup di sela-sela pondasi dan rumah warga.

Ketiga, ular adalah satwa soliter yang hidup sendiri, bukan berkelompok sehingga sulit diketahui keberadaannya. Jika ditemukan seekor ular, tidak berarti ada banyak ular lain di sekitar tempat tersebut. Selain itu ular tergolong satwa yang pandai bersembunyi.

Keempat, ular tidak membuat sarang dan lebih bersifat nomaden atau berpindah-pindah. Jika ditemukan lubang tempat telur ular menetas, maka itu adalah tempat induk ular meletakkan telur dan ditinggal. Induk ular tidak mengerami telur ular.

Kelima, ular banyak ditemukan di sekitar hunian warga karena makanan atau mangsa ular banyak berada di tempat tersebut. Mangsa ular seperti cacing, jangkrik, kadal, kodok, tikus, hingga burung mudah ditemukan di sekitar hunian warga.

Hal inilah yang mengundang ular hadir di sekitar tempat tinggal warga dan apabila merasa nyaman, ular akan berkembang biak di tempat tersebut.

Baca Juga :  Tambah 17 Warga Positif dan 1 Meninggal Dunia, Angka Kasus Covid-19 Sragen Hari Ini Meroket Jadi 1.104 Kasus. Sudah 107 Warga Meninggal Dunia, Korban Terakhir dari Sambirejo

Keenam, predator atau pemangsa alami ular jumlahnya semakin berkurang, sehingga tidak ada kontrol populasi ular secara alami. Predator alami ular di antaranya adalah musang dan biawak, yang menjadi satwa pemangsa telur serta anak ular, serta burung karnivora, seperti elang dan burung hantu yang merupakan pemangsa ular yang efektif di alam.

Fakta terakhir, di kawasan permukiman warga, kerap kali ditemui adanya area yang tidak pernah dibersihkan dan tidak terawat, sehingga memberikan lokasi yang nyaman bagi ular untuk berkembang biak dan ketersediaan makanan melimpah. Sudut-sudut gelap dan tidak terawat ini adalah tempat yang dicari oleh induk ular meletakkan telurnya.

Yayasan Sioux Ular Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak untuk mengedukasi masyarakat tentang karakter ular di Indonesia, guna mengubah paradigma masyarakat yang cenderung negatif tentang ular.

Yayasan yang didirikan pada November 2003 ini bermarkas di Parangtritis, Kretek, Bantul, DI Yogyakarta. Untuk informasi lebih lanjut bisa kunjungi laman Facebook Yayasan SIOUX Indonesia, atau di akun Instagram, @ular_indonesia.