JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

BPPTKG: Sumbatan Bekas Erupsi Tak Lagi Kuat, Pola Ancaman Merapi Berubah

Gunung Merapi mengalami erupsi pada Jumat, 27 Maret 2020 sekitar pukul 10.56 WIB / tempo.co
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM
Saat ini sumbatan-sumbatan di kawah Gunung Merapi yang bisa mempengaruhi ekstrusi magma ke permukaan, dinilai sudah tak terlalu kuat lagi kondisinya.

Hal itu terungkap dalam data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

“Sumbatan di Merapi saat ini terhitung sudah tidak terlalu kuat dengan terbentuknya kawah yang dalam pasca-erupsi 2010 silam,” ujar Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Minggu (15/11/ 2020).

Letusan besar 2010 silam disinyalir memberi dampak ke Merapi yang telah mengubah pola-pola ancaman letusannya dalam beberapa dekade ke depan.

Misalnya, saat ini morfologi kawah Merapi jelas berubah, sehingga mempengaruhi arah ancaman bahaya saat ini dan erupsi-erupsi berikutnya.

Berdasarkan kondisi morfologi kawah saat ini arah ancaman dominan ke arah selatan-tenggara atau mengarah ke Kabupaten Sleman-Klaten.

Baca Juga :  Hadapi Cuti Bersama Akhir Desember 2020, Gubernur DIY Minta Perketat Pengawasan Hotel

“Untuk Sleman, ancamannya materialnya mengarah Kali Gendol,” ujarnya.

BPPTKG Yogyakarta sendiri telah menginstruksikan sejak 5 November 2020 lalu atau saat status Merapi naik dari waspada menjadi siaga, agar seluruh aktivitas penambangan di sungai berhulu Gunung Merapi dihentikan sementara, terutama oleh pemerintah kabupaten setempat yang wilayahnya terdapat penambangan pasir di sungai-sungai berhulu Merapi.

Penambangan pasir di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III risikonya saat ini sangat tinggi.

“Ketika terjadi sesuatu saat aktivitas penambangan itu dilakukan maka akan sangat sulit menghindar,” kata Hanik.

Adapun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada bincang media secara daring pada Jumat, 13 November 2020, juga mengingatkan soal potensi banjir lahar dingin atau lahar hujan apabila Gunung Merapi erupsi dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Mayoritas Kapanewon di Sleman Masuk Zona Merah, Dinkes Bakal Lakukan Rapid Tes untuk Pengungsi Merapi

Banjir lahar dingin terbukti menjadi momok tersendiri saat Merapi erupsi hebat 2010 silam.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan mengatakan tingginya potensi banjir lahar dingin mengacu pula pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim penghujan kali ini diwarnai terjadinya La Lina yang meningkatkan volume curah hujan hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Potensi peningkatan tajam curah hujan akibat La Nina itu diprediksi terjadi mulai Desember 2020-Februari 2021.

“Pada bulan-bulan itu benar-benar dipertimbangkan terkait potensi banjir lahar,” ujarnya.

BNPB mencatat sampai akhir pekan ini ada sebanyak 1.294 warga dari empat kabupaten DIY dan Jawa Tengah dievakuasi pasca status Merapi naik dari waspada menjadi siaga. Mereka berasal dari Kabupaten Boyolali, Magelang, Klaten, dan Sleman.

www.tempo.co