JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Jadi Rebutan Trump dan Biden, Apa Itu Suara Elektoral dalam Sistem Pemilu AS? Ini Penjelasannya

Ilustrasi Pemilu AS 2020. Foto: pexels.com
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

JOGLOSEMARNEWS.COM Amerika Serikat telah menggelar agenda pesta demokrasi yang akan menentukan masa depan negara tersebut. Publik AS kini tengah menantikan hasil perhitungan suara yang akan memilih presiden negara itu untuk periode 2021-2024.

Berbeda dengan Pemilu di Indonesia, di mana setiap suara warga negaranya dihitung dalam menentukan presiden terpilih, AS menerapkan sistem electoral vote atau suara elektoral yang dibagi secara proporsional di setiap negara bagian.

Dalam pemilu kali ini, dua calon presiden yang bersaing memperebutkan electoral vote adalah Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat.

Di AS, pemenang Pilpres ditentukan bukan oleh hasil perhitungan suara publik secara nasional atau popular vote, melainkan melalui sistem yang telah digunakan sejak awal abad 19, yakni electoral college.

Electoral college adalah suara elektoral pada 50 negara bagian AS yang dibagi berdasarkan jumlah populasi dan luas wilayah masing-masing negara bagian. Total ada sebanyak 538 suara elektoral dari 50 negara bagian ditambah dengan Washington DC, yang diperebutkan kedua calon presiden.

Dengan demikian, baik Trump maupun Biden, akan keluar sebagai pemenang pemilu dan menjadi presiden terpilih apabila mampu mendapatkan minimal 270 suara elektoral.

Saat hari pemungutan suara, pada dasarnya setiap warga negara AS yang telah memiliki hak pilih menggunakannya untuk memilih para pejabat yang akan menentukan suara elektoral dan bukan memilih calon presiden secara langsung.

“Banyak pemilih tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak memberikan suara secara langsung untuk calon presiden,” kata profesor dari Universitas New Mexico, Lonna Rae Atkeson, dikutip dari The Wire, Selasa (3/11/2020).

Selain itu, Pemilu AS menganut paham ‘pemenang mengambil semua’. Sehingga seorang kandidat yang berhasil unggul di satu negara bagian, meski dengan selisih suara yang tipis, dalam popular vote, maka ia berhak atas seluruh pemilih electoral dari negara bagian itu.

Sebagai contoh, negara bagian California memiliki jumlah 55 electoral college. Setelah hari pemungutan suara, pasangan calon presiden A mendapatkan 8 juta suara, sementara calon presiden B mendapat 7,5 juta suara.

Dengan hasil tersebut, calon presiden A dinyatakan menang di negara bagian California dan berhak atas 55 suara elektoral dari negara bagian itu.

Dikutip dari Aljazeera, dalam praktiknya para perwakilan ini akan setia untuk memilih calon presiden yang meraih suara terbanyak di negara bagiannya. Hal ini yang membuat suara 7,5 juta warga yang memilih pasangan calon presiden B dalam contoh di atas seolah tidak dianggap.

Namun ada dua negara bagian di AS yang menggunakan metode “distrik kongresional” dan bukan electoral college, yakni Maine yang memiliki 4 suara elektoral dan Nebraska dengan 5 suara elektoral.

Di dua negara bagian itu, satu elector dipilih di setiap distrik kongresional berdasarkan pilihan rakyat. Sedangkan, dua elector lainnya dipilih berdasarkan pilihan terbanyak rakyat di seluruh negara bagian.

Sistem electoral college ini kerap mendorong calon presiden memilih berkampanye untuk memenangkan suara di negara bagian dengan suara elektoral terbanyak dibandingkan di negara bagian yang hanya memiliki sedikit suara elektoral.

Pada Pemilu 2016, Donald Trump sebenarnya kalah dalam hal raihan suara publik di seluruh AS dibandingkan Hillary Clinton. Namun Trump tetap menjadi pemenang karena meraih lebih banyak suara elektoral.

Kondisi serupa juga pernah terjadi pada Pemilu AS tahun 2000, di mana George W Bush juga menang di level electoral college dengan 271 suara, meski Al Gore lawannya dari partai Demokrat unggul hingga 500.000 suara di tingkat popular votes.

Saat ini dalam Pemilu AS 2020, hingga Jumat (6/11/2020), Joe Biden masih unggul dalam raihan suara elektoral sebanyak 253 dibandingkan Trump yang baru mengumpulkan 214 suara elektoral. Perhitungan suara masih dilakukan di enam negara bagian, yakni Alaska, Arizona, Nevada, Georgia, North Carolina, dan Pennsylvania.

www.tempo.co