JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kabar Terbaru Sekolah Tatap Muka SMA/SMK se-Jateng. Ada 26 SMA/K Yang Dibolehkan Tatap Muka, Kadisdikbud Jateng: Yang Zona Merah Tutup Dulu!

Kepala Disdikbud Jateng, Padmaningrum. Foto/Wardoyo
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

 

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah mengatakan sudah membuka pembelajaran tatap muka untuk SMA dan SMK di beberapa wilayah kabupaten/kota.

Namun, kebijakan itu masih bersifat simulasi dan tidak semua siswa dimasukkan. Selebihnya, sekolah di luar simulasi masih harus menerapkan sistem daring atau belajar online.

Hal itu disampaikan Kepala Disdikbud Jateng, Padmaningrum kepada JOGLOSEMARNEWS.COM saat hadir di SMKN 1 Kedawung Sragen kemarin.

Ia mengatakan untuk pembelajaran SMA dan SMK, sudah dimulai simulasi tatap muka selama tiga tahap. Tahap pertama dibuka 7 September untuk 7 sekolah di Wonosobo, Temanggung, dan Kota Tegal.

“Wonosobo 3 sekolah, Temanggung 2 sekolah dan Kota Tegal 2 sekolah. Satu SMA dan satu SMK,” paparnya.

Kemudian tahap kedua dibuka tanggal 5 Oktober dibuka 5 sekolah asrama namun hanya empat yang berjalan dan satu batal. Di antaranya SMK Pradipta Dirgantara, dan SMK Jateng di Pati, Semarang dan Tegal.

Namun ia menyampaikan untuk sekolah simulasi tidak semua siswa masuk. Menurutnya tahap pertama hanya 75 orang sampai 110 orang siswa saja yang masuk.

Baca Juga :  Awas, Kasus Meroket Terus Karanganyar Masih Setia Jadi Zona Merah Covid-19. Total Sudah 196 Warga Meninggal Dunia, Hajatan Jadi Kegiatan Paling Rawan!

Kemudian untuk SMK asrama, hanya sekitar 70 siswa saja yang dimasukkan. Kemudian untuk sekolah simulasi yang dimulai tahap pertama, dinaikkan dua kali lipar menjadi sekitar 200an siswa yang masuk.

“Lalu tahap ketiga mulai 2 November kemarin kita buka di 25 SMA dan SMK. Tapi baru tahap simulasi juga. Tergantung kesiapan sekolah, kesiapan guru dan dapat izin dari gugus tugas covid-19. Lalu siswa yang belajar juga harus dapat izin dari orangtua. Kalau orangtua tidak mengizinkan ya tidak usah belajar tatap muka dulu,” tukasnya.

Padma menegaskan pelaksanaan tatap muka di sekolah simulasi pun tetap harus mematuhi protokol kesehatan ketat. Mulai dari kedatangan sampai kepulangan.

“Makanya jumlah tidak bisa banyak. Hanya antara 75 sampai 110 siswa saja satu sekolahan, tergantung kuota. Lalu dari 26 sekolah, rata-rata yang masuk hanya 3 persen dari kapasitas sekolah. Sedikit-sedikit lah. Kalau siswanya satu sekolahan 2.000 ya baru 100 siswa. Yang lain tetap daring dari rumah dengan pemantauan guru,” tandasnya.

Baca Juga :  Keren, Sepakterjang 2 Usahawan Muda asal Sragen Ini Gapai Kesuksesan dari Nol. Rosita Berkibar lewat Usaha Make Up Artis, Titis Punya 80 Cabang Es Dawet Kekinian di Seluruh Pulau Jawa

Ditambahkan, penerapan tatap muka simulasi itu hanya berlaku bagi daerah yang statusnya sudah hijau atau kuning dari covid-19. Sedangkan daerah berstatus merah, tetap dilarang dulu.

“Untuk daerah yang masih zona merah memang tidak diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka. Kalau masih merah kita tutup dulu. Kalau sudah kuning atau hijau nggak masalah. Yang penting tidak merah,” paparnya.

Padma menguraikan semua harus berhati-hati agar jangan sampai menjadi klaster baru ketika melakukan pembelajaran tatap muka.

Pun dengan simulasi tatap muka yang dilakukan di sejumlah sekolah, juga dilakukan dengan pengetatan dan protokol kesehatan.

“Ya memang harus hati-hati, jangan sampai jadi klaster baru,” urainya.

Untuk kondisi Jawa Tengah sendiri, Padma mengaku belum tahu status terkini karena situasi covid-19 bergerak fluktuatif.

“Kemarin sudah oranye. Tapi saat ini kami belum tahu lagi. Tapi kondisi per kabupaten kota kan beda-beda. Yang jelas semua tetap dilakukan hati-hati, sampai nanti kondisi memungkinkan,” tandasnya. Wardoyo