JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

PPLH UNS Dampingi Petani Empon-empon di Desa Bandar, Pacitan

Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pusat Penelitiam Lingkungan Hidup ( PPLH) UNS dan Kelompok Tani Suroloyo Desa Bandar Kabupaten Pacitan, Jawa Timur melakukan kerja sama untuk meningkatkan nilai tambah empon-empon sebagai komoditi utama masyarakat desa setempat.

Kegiatan pengabdian masyarakat PPLH UNS yang diketuai Fea Prihapsara dengan anggota Prof Dr Okid Parama Astirin, Prof. Dr Ir Endang Siti Rahayu dan Anif Nur Artanti itu mencoba menawarkan solusi melalui teknologi pasca panen.

“Teknisnya menggunakan mesin pencuci empon-empon dan mesin rotary dryer untuk mengeringkan empon-empon,” jelas Fea Prihapsara, sebagaimana dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Dok PPLH UNS

Fea mengatakan, teknologi pasca panen dinilai akan membantu masyarakat dalam menghasilkan produk empon-empon yang berkualitas dan stabil dalam penyimpanan.

Dikatakan, empon-empon yang dihasilkan, dijual dan dipasarkan melalui media pemasaran online maupun cara konvensional.

Baca Juga :  Masa Pandemi Tak Kering Prestasi, SD Marsudirini Surakarta Borong Kejuaraan Lomba Vlog

Menurut Fea, penggunaan teknologi mesin rotary dryer membuat hasil empon-empon kunyit masih terlihat berwarna kuning terang dibandingkan dengan pengeringan menggunakan sinar matahari saja.

“Tampilan ini mengindikasikan bahwa zat aktif yang terkandung dalam empon-empon tidak rusak,” bebernya.

Selanjutnya hasil rajangan dikemas dalam kemasan vacum press. Proses itu dilakukan untuk menghindari kontaminasi bakteri dan menambah keawetan produk.

“Produk rajangan yang dikemas dalam kemasan vacum press ini dapat disimpan selama minimal dua tahun,” ujarnya.

Untuk rajangan kunyit, jelas Fea, produk tersebut dijual mulai dengan harga Rp 20.000 per kilogram.

Adapun pemasaran produk empon-empon terssbut, selama ini masih berkisar di wilayah Wonogiri, Ponorogo dan Surakarta.

Baca Juga :  SMP PL Domsav Gelar LDK secara Daring

“Dengan adanya pemasaran yang intensif, diharapkan produk petani ini dapat dikenal secara luas, bahkan menjadi komoditi ekspor,” ujarnya berharap.

Di luar itu, menurut Fea, pendirian Kelompok Tani Suroloyo I sebenarnya memiliki tujuan untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap serta tumbuhnya kemandirian dalam berusaha tani, agar produktivitas mereka meningkat, pendapatan naik, lebih sejahtera, serta mempunyai network yang luas.

Hanya saja, kurangnya pengetahuan dan anggaran yang dimiliki, membuat program kegiatan kelompok tani kurang maksimal.

Fea mengatakan, sebelum disentuh dengan kerja sama tersebut, saat musim panen raya, harga komoditas empon-empon di tingkat petani anjlok.

“Contohnya, kunyit yang harganya Rp 1.500-1.800 per kilogram untuk kualitas pilihan, dan Rp 1.000-1.500 tiap kilogramnya, itu untuk kualitas biasa,” jelasnya. suhamdani