JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Melalui Pesan Natalnya, Paus Fransiskus Berjanji Kunjungi Lebanon dan Sudan Segera Mungkin

Paus Fransiskus menyampaikan pesan saat memimpin misa malam Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Selasa (24/12/2019) / Reuters / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Melalui pesan Natalnya, Kamis (24/12/2020) pemimpin tertinggi umat Katolik Sedunia, Paus Fransiskus mengatakan bakal mengunjungi Lebanon dan Sudan Selatan sesegera mungkin.

Paus menyebut negara-negara dalam pesan Hari Natalnya, tetapi dia memilih kedua negara itu dengan pesan Malam Natal karena kesulitan yang masing-masing hadapi tahun ini.

“Saya sangat prihatin melihat penderitaan dan kesedihan yang telah melemahkan ketahanan asli dan sumber daya Tanah Aras (Lebanon),” kata Paus dikutip dari Reuters, 24 Desember 2020.

Baca Juga :  Insiden Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182, Para Pemimpin Dunia Ini Sampaikan Turut Berduka Cita pada Indonesia

Seperti diketahui, setelah ledakan besar di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 yang menewaskan 200 orang, Lebanon harus berkutat dengan krisis ekonomi.

Di sisi lain korban masih menunggu hasil penyelidikan atas ledakan yang merusak sebagian wilayah ibu kota.

“Kasih sayang saya kepada orang-orang terkasih di Lebanon, yang ingin saya kunjungi secepatnya,” tuturnya.

Dalam pesan terpisah yang ditulis bersama dengan Uskup Agung Canterbury Justin Welby, yang merupakan pemimpin spiritual dari persekutuan Anglikan di seluruh dunia, dan moderator Church of Scotland Martin Fair, tiga pemimpin gereja itu berkomitmen untuk melakukan perjalanan yang sebelumnya tertunda ke Sudan Selatan yang mayoritas Kristen.

Baca Juga :  Pemimpin Sekte Sesat di Turki, Harun Yahya Dijatuhi Hukuman Penjara 1.075 Tahun. Divonis Bersalah atas 10 Kejahatan, Termasuk Pelecehan Seksual terhadap Anak

Pesan itu ditujukan kepada para pemimpin Sudan Selatan, mantan rival yang membentuk pemerintah persatuan nasional pada Februari setelah bertahun-tahun perang saudara melanda negara penghasil minyak itu.

Sebuah laporan PBB mengatakan bulan ini bahwa penerapan berbagai aspek kesepakatan perdamaian telah terhenti di Sudan di mana banjir pada bulan September menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi.

www.tempo.co