JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Pembatasan di Malam Tahun Baru, Pemkot Yogya Tak Hanya Fokus di Malioboro

Gapura penanda zona baru yang sudah didirikan di sepanjang kawasan Malioboro, Minggu (13/12/2020) / tribunnews

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Antisipasi kerumunan selama malam tahun baru oleh Pemerintah Kota Yogyakarta tidak hanya akan difokuskan di kawasan Malioboro saja, namun juga titik-titik yang lain yang potensial terjadi kerumunan.

Demikian diungkapkan oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti. Dia mengatakan, pihaknya akan lebih mengutamakan prinsip penjagaan di kawasan Tugu Pal Putih hingga Titik Nol Kilometer, selama malam pergantian tahun 2021 mendatang.

Karena itu, ia pun menegaskan, penjagaan tidak sebatas pada sekitar kawasan Malioboro semata.

Haryadi memahami, rekomendasi legislatif terkait lockdown atau pembatasan kawasan tersebut, per 31 Desember pukul 18.00 – 1 Januari pukul 06.00 adalah untuk menghindarkan kerumunan yang berlebih.

Baca Juga :  BPBD DIY Pastikan Kondisi Merapi, Pengungsi Belum Akan Dipulangkan

Menurutnya, pembatasan itu memang sah-sah saja dilakukan.

“Oke, akan kita kaji. Tetapi, yang paling penting, tim Satgas harus siaga memonitor. (Pembatasan) itu kan dari jam 18.00 WIB, sampai 06.00 WIB. Jangankan jam 06.00, kalau dari jam 05.00 di sana sudah ada kerumunan, ya harus segera dicegah,” ungkapnya, Selasa (29/12/2020).

Ia menyampaikan, pemerintah tidak akan fokus mengawasi kawasan Malioboro saja saat malam tahun baru nanti.

Sebab, potensi kerumunan tidak hanya di sana, namun terdapat pula beberapa titik lainnya.

Ia menilai, masukan pembatasan akses masuk ke ranah teknis.

“Jadi, hakikatnya, kawasan (rawan kerumunan) bisa tetap terjaga. Kalau masalah jam, itu kan persoalan teknis. Jangan berpaku di Malioboro sajalah, dimanapun itu, kerumunan harus dihindarkan,” ujar Haryadi.

Baca Juga :  Gunung Merapi Siaga Erupsi, Ini Kondisinya

“Dibatasi tapi tidak dijaga, atau tidak dibatasi tapi dijaga. Saya lebih memilih berkompromi dengan keadaan,” imbuh orang nomor satu di kota pelajar itu

Ia menilai, langkah memperketat penjagaan lebih penting dibanding upaya apapun.

Namun, dengan kondisi pandemi corona yang belum berakhir, Wali Kota berharap supaya masyarakat menyadari dan tidak melakukan perayaan-perayaan yang berpotensi kerumunan.

“Dibatasinya sampai jam 06.00, terus jam 07.00 bikin acara jogetan di sana, yo podo wae. Jadi, penjagaan lebih penting dan hakiki dibandingkan penutupan. Tapi, masukan dewan tetap kita kaji,” pungkasnya.

www.tribunnews.com