JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Jelang Coblosan, Sukiman Sampaikan Pernyataan Resmi Sikap Politiknya di Pilkada Sragen. Ada Klarifikasi Isu Miring Hingga Ucapan Terima Kasih, Begini Pernyataan Lengkapnya!

Sukiman dan sang istri. Foto/Istimewa
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Sehari menjelang pemungutan suara Pilkada Sragen, bakal calon bupati Sragen yang gagal berkontestasi, Sukiman mendadak menyampaikan pernyataan integritas politiknya.

Pengusaha yang lahir dari buruh tani asal Mojokerto, Mojodoyong, Kedawung, Sragen itu diam-diam mengisyaratkan afiliasinya ke kolom kosong.

Meski tak secara vulgar, lulusan terbaik program Doktor Manajemen Bisnis Universitas Padjajaran 2016 itu menyebut jika pilihan kolom kosong atau kotak kosong adalah sah dan dilindungi Undang-Undang.

“Kami mengimbau masyarakat berpartisipasi dalam Pilkada Sragen besok. Soal pilihan itu hak masing-masing, tapi kalau ditanya sikap politik, kami menyatakan bahwa memilih kolom kosong adalah sah dan dilindungi Undang-Undang,” paparnya kepada Joglosemarnews.com melalui sambungan telepon, Selasa (8/12/2020).

Sukiman yang tengah berada di Puncak, Bogor, Jawa Barat itu menguraikan ketentuan mengenai sosialisasi kotak kosong atau kolom kosong sudah tegas tertuang dalam Peraturan KPU (PKPU) Nomor 8 Tahun 2017 tentang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat dalam Pilkada.

Ia menyebut di Pasal 9 Ayat (1) PKPU mencantumkan dalam pemilihan dengan satu pasangan calon, KPU provinsi/KIP Aceh dan KPU/KIP kabupaten/kota menyampaikan materi sosialiasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 kepada pemilih.

Lalu, pada ayat (2) pasal yang sama menyebutkan, materi sosialisasi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), memuat informasi berupa memilih kolom kosong dinyatakan sah.

“Sekali lagi saya tegaskan memilih kolom kosong adalah sah,” tegasnya.

Perjuangan Meraih Rekomendasi

Pada kesempatan kali ini, Sukiman juga menjelaskan kilas balik terkait perjalanan perjuangannya hingga kegagalan maju ke kontestasi politik Pilkada tahun ini.

Ia menyampaikan bahwa dirinya yang berpasangan dengan Irianto dan mengusung jargon KITO, sebenarnya telah berjuang keras untuk memperoleh dukungan dari partai.

Hanya saja, ikhtiar partai Gerindra dengan 5 Kursi yang secara konsisten mengusung KITO, pada akhirnya gagal mendapat tambahan dukungan untuk koalisi.

Menurutnya, saat itu KITO sudah berjuang maksimal di DPP PKS sampai berhari-hari meski pada akhirnya hasilnya tetap PKS tak berkenan mengusung KITO ke Pilkada Sragen.

“Bahkan KITO berjuang mendapatkan dukungan Demokrat dan sudah sampai level Sekjen. Namun akhirnya Demokrat tetap mendukung petahana,” tegasnya.

Meski akhirnya gagal manggung, Sukiman mengaku sangat berterimakasih kepada partai Gerindra yang secara konsisten mengusung KITO.

Ia berharap fakta itu tidak menjadikan prasangka negatif seakan-akan Sukiman (KITO) gagal maju karena pengaruh pihak petahana.

“Orang tua angkat saya adalah Ibu Sastro Kadipiro, Sambirejo, Sragen yang seorang pedagang cengkeh. Beliaulah yang bekerja banting tulang ikut membantu biaya kuliah di IPB Bogor. Alhamdulillah saya juga bisa membantu putra putri beliau lulus Sarjana UGM UNS. Intinya saling membantu keluar dari kesulitan,” tukasnya.

Selain ibu Sastro, Sukiman menyebut kakak angkatnya adalah Mas Naryo Jakarta. Sosok itulah yang benar- benar mendidik dirinya berkarakter makin kuat ketika bekerja sebagai salesman di Jakarta selama tiga tahun.

Atas kondisi itulah, ia menghimbau pendukung KITO untuk tetap berpartisipasi dengan datang ke TPS. Menurutnya memilih Kolom Kosong tidak dilarang dan sah menurut konstitusi.

“Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pendukung setia, team 9 yang dikomandani Mas Syaiful, khususnya Pak Budi dan Mas Rus Utaryono yang dengan idealisnya beliau berdua mentraining saya dengan cepat selama masa silaturahmi. Pak Irianto, monggo teruskan berjuang,” tukasnya.

Di bagian akhir, kepada tim Korcam, tim SMK 1 Gacrok Kedawung, para tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, sanak kadang dan seluruh pendukung yang telah bekerja siang malam, ia tak lupa menyampaikan permohonan maaf karena gagal mewujudkan harapan untuk maju di Pilkada kali ini.

“Maafkan kami belum bisa memenuhi harapan panjenengan semua. Tapi yakinlah masih banyak cara untuk berbakti pada masyarakat. Mari kita terus berbuat baik menebar benih- benih kebaikan dimanapun kita berada. Man Jadda Wajada. Salam hormat kami,” tandasnya. Wardoyo