JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Keris Pusaka di Angkringan Lik Gino Setiabudi Solo

Tugino tengah memegang keris di angkringan miliknya / joglosemarnews/suhamdani

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Keris pusaka biasanya terdapat di tempat yang khusus semacam gedong pusaka, atau tempat-tempat istimewa lainnya.

Namun, tak perlu heran jika suatu ketika keris pusaka bisa saja nangkring di angkringan atau wedangan Lik Gino di Jalan Setiabudi, Solo ini.

Tak lain dan tak bukan, karena Tugino, pemilik Wedangan Lik Gino, sekaligus memiliki sampingan jual beli keris. Baik itu keris peninggalan masa dulu maupun keris-keris zaman sekarang.

Ikhwal Tugino  berjualan keris sebenarnya tidak datang begitu saja.  Namun melalui proses yang cukup panjang. Bahkan, terhitung jauh sebelum ia buka wedangan, ia telah memulai jual beli keris lebih dulu.

Ayah dari dua orang anak tersebut mengaku tertarik dengan dunia keris sejak  ia mengenyam bangku SMK. Ketika itu, ia sering mengamati ayahnya, Parto Ijoyo mengobati orang-orang yang sakit dengan menggunakan keris pusaka.

“Bapak saya dulu kan orang Kejawen ceritanya,” ujar pria asal Ringin Anom, Sragen Kulon tersebut saat bincang-bincang dengan Joglosemarnews, Senin (18/1/2021).

Tugino mengaku takjub saat dulu, sekitar awal tahun 1990-an, melihat ayahnya dapat menyembuhkan orang yang digigit ular hanya dengan sebilah keris.

Bilah keris itu didekatkan di bagian tubuh yang terluka kena gigitan ular. Lalu dalam beberapa menit, bilah keris itu seperti berembun dan orang yang sakit tersebut perlahan-lahan mulai membaik.

Demikian pula dengan penyakit-penyakit lainnya, dapat pula disembuhkan dengan keris. Sehingga menurut Tugino, di desa asalnya sana, Parto Ijoyo dikenal sebagai tabib yang bisa menyembuhkan orang-orang sakit.

“Sebenarnya koleksi keris bapak itu tidak banyak. Hanya beberapa, dan itu peninggalan dari kakek,” ujar pria nomor lima dari tujuh bersaudara itu.

Uniknya, ketika ayahnya meninggal sekitar tahun 1995, keris-keris milik ayahnya itu hilang. Tugino mengaku tak tahu ke mana keris-keris pusaka itu berada. Entah hilang dibawa orang, saudara-saudaranya, atau lenyap moksa.

Semasa Parto Ijoyo masih hidup, benih-benih ketertarikan Tugino terhadap dunia keris sebenarnya sudah mulai muncul. Namun ketertarikan itu sifatnya hanya sambil lalu saja.

Entah bagaimana sebabnya, semenjak ayahnya tidak ada lagi, rasa ketertarikan terhadap dunia keris itu kembali menyeruak dari relung hatinya.

Lalu, ia mulai mendalami dunia keris dengan lebih giat. Misalnya dengan mencari berbagai macam rujukan tentang keris ke mana-mana, juga mengikuti beberapa komunitas penggemar keris. Tugino juga berburu buku-buku tentang dunia keris ke teman-temann di komunitasnya, lalu difotokopi dan dipelajarinya dengan tekun di rumah.

Dari teman-teman di komunitas penggemar keris itulah, pria jebolan SMK tersebut baru tahu bahwa jual beli keris itu ternyata bisa juga mendatangkan rezeki.

“Malah saya membangun rumah ratusan juga, ya hasil dari jual beli keris seperti ini,” ujar pria kelahiran Sragen, 1974 itu.

Tak hanya membangun rumah, Tugino menyekolahkan dua orang anaknya juga hasil dari berjualan keris. Memang, kala itu, ia juga memiliki sampingan sebagai penarik becak.

Baca Juga :  Bea Cukai Solo Sita 3,7 Juta Batang Rokok Ilegal Merk OK BOLD

Ikhwal Tugino menarik becak itu pun sebenarnya sudah berlangsung ketika ayahnya masih hidup. Dulu ketika masih kelas 2 SMK, kenang Tugino, ia merasa tertarik untuk mencari uang.

Kebetulan tetangganya yang kerja di Dinas Pekerjaan setempat sekaligus juragan becak. Ia melihat bagaimana orang-orang dengan mudah mencari uang dengan menarik becak.

Tanpa minta izin dari orang tuanya, Tugino diam-diam minta izin kepada tetangganya itu untuk ikut menarik becak. Sejak itulah, jika siang Tugino sekolah, namun malam harinya dia menarik becak.

Sejak bekerja diam-diam itulah, ia merasa ketagihan. “Jaman semonten, kula kok ngraos pados yatra niku nggih gampil (zaman dulu, kok saya merasa cari uang tiu mudah-red),” ujarnya dengan logat Jawa yang kental.

Karena sudah kadung kepencut kerja dapat uang itulah, ia menarik becak bukan hanya di malam hari. Siang hari, waktu yang semestinya ia gunakan untuk sekolah, digunakannya untuk menarik becak, sampai-sampai ia ditegur oleh gurunya.

Kabar ia lama tak sekolah itupun akhirnya diketahui oleh ayahnya. Namun apa mau dikata, kecintaan pada kerja tak dapat dibendung lagi, sehingga teguran dari ayahnya pun seolah tak mempan lagi. Ia pun akhirnya njebol dan tak melanjutkan sekolahnya di SMK.

Sejak itulah, Tugino  bekerja menarik becak sembari berjualan keris. Di tengah perjalanan hidupnya, Tugino berpikir, semakin tua, raganya tentu tak akan kuat lagi untuk menggenjot pedal becak.

Lalu ia mulai beralih profesi menjadi penjual hik, alias wedangan angkringan. Akhirnya ia mendamparkan diri di kota Solo dan mangkal di Jalan Setiabudi, di sebelah timur  Kantor Kelurahan Gilingan.

Seiring dengan jual beli kerisnya, usaha wedangan yang ia rintis pun ikut berkembang, sampai kemudian ia memiliki beberapa angkringan.

“Yang lain ada yang nunggu, tapi saya mangkalnya tetap di sini,” ujar Tugino.

Seni dan Budaya

Omong-omong soal keris, Tugino cenderung melihat keris dari kacamata seni dan budaya. Bahwa keris bukanlah barang yang dikultuskan, melainkan untuk di-uri-uri (dilestarikan) lantaran nilai seninya, historisnya maupun nilai budayanya.

Dalam hal jual beli keris, Tugino mengaku melayani  berbagai corak, baik keris-keris lama (termasuk keris pusaka) maupun keris—keris baru, yakni keris karya empu-empu muda zaman sekarang.

“Sekarang sebenarnya banyak juga empu muda, yang membuat keris lebih untuk seni,” ujar Tugino.

Tugino mengakui sekarang banyak empu muda yang pandai membuat keris yang bagus dan tak kalah indahnya dengan keris lama. Namun satu yang tak bisa ditiru oleh empu-empu muda, adalah bahan pembuat keris tersebut. Artinya, dari sisi kualitas bahan belum ada yang bisa menandingi keris-keris lama.

“Biasanya untuk keris lama, pada bilahnya itu ada sloroh, warnanya bisa hitam, abu-abu atau putih. Itu yang tak ada di keris-keris jaman sekarang. Biasanya pada keris-keris  jaman sekarang hanya muncul warna hitam saja,” ungkap Tugino.

Baca Juga :  Bukan Erick Thohir, Tapi Menteri Agus Gumiwang yang Dikabarkan Beli 90 % Saham Persis Solo

Unsur lain yang tidak ada pada keris-keris zaman sekarang adalah adanya malela gendhaga pada keris lama. Yaitu kenampakan gemerlap seperti pasir yang sangat lembut.

“Kalau dilihat, pating kretip. Itu yang tidak bisa ditiru empu-empu muda jaman sekarang,” ujarnya.

Dalam dunia jual beli keris, tidak selamanya keris lama selalu lebih mahal dari keris baru. Harga keris itu, menurut Tugiono sangat relatif, tergantung pada garap (pengerjaan), pamor dan wrangka (sarung keris).

Bisa terjadi, keris baru jatuhnya lebih mahal ketimbang keris lama. Namun ada kalanya keris lama bisa terjual dengan harga yang lebih yahud ketimbang keris baru.

“Karena seni itu kan relatif. Kalau orang sudah seneng, berapapun harga yang ditawarkan, orang tak sungkan rogoh kocek,” bebernya.

Para pembeli keris di tempat Lik Gino cukup beragam. Mulai dari orang-orang biasa, lurah sampai para pejabat pemerintahan. Yang belum lama terjadi, seorang pejabat di Pemkab Wonogiri ambil keris dari Tugino.  Dia hanya tahu dari mulut-ke mulut.

“Bahkan pernah seorang dukun dari Ponorogo ambil keris ke tempat saya,” ujar Tugino.

Jual beli keris, memang berbeda dengan jual wedangan yang dia lakoni. Jika wedangan setiap harinya selalu dapat keuntungan, tidak begitu dengan keris.

Pasalnya, orang yang butuh keris tidak segampang orang lapar dan membeli makanan. Menjual keris butuh komunikasi, pemahaman maupun edukasi dalam waktu yang relatif. Kadang cepat, kadang pula lama.

Apalagi, harga keris juga tidak mudah. Keris yang dijual Tugino bergerak di kisaran Rp 500.000 hingga Rp 10 juta.

“Meski seneng, orang mau melepas uang jutaan mestinya kan juga mikir. Di situlah perlunya negosiasi, dan itu butuh waktu. Yang sudah komunikasi lama dan berakhir gagal juga sering,” beber Tugino sembari tersenyum.

Begitu pula ketika hendak mencari keris untuk dijual lagi. Tugino memang harus teteh, alias banyak bicara dan berkomunikasi dengan orang-orang.

Setiap kali pulang kampung di Sragen, ia selalu menyempatkan diri berburu keris di desa-desa. Ia berbincang-bincang dari orang ke orang tentang keris.

Kalau ada yang punya keris dan tidak membutuhkan lagi, maka Tugino akan menebusnya. Lalu ia akan jual kembali dengan harga berlipat. Di situlah ia bisa menari keuntungan.

Selain jual beli keris, ternyata Tugino juga melayani jamas keris. Pernah suatu ketika ia dimintai tolong oleh warga Boyolali untuk menjamas tujuh keris pusaka peninggalan mertuanya.

Nah, menarik bukan? Ingin nongkrong sembari ngobrol seru tentang keris, mampir saja ke Wedangan Lik Gino di Jalan Setia Budi, Solo. Tepatnya di sebelah timur RS Brayat Minulyo, selatan jalan. suhamdani