JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Problematika Kuliah Online dan Offline di Mata Mahasiswa

ilutrasi / LP3I Blog

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  mengizinkan perkuliahan tatap muka pada semester genap Tahun Akademik 2020/2021, 2 Desember 2020 lalu.

Namun perkuliahan tatap muka dilaksanakan secara campuran (hybird learning), yaitu dapat dilakukan secara daring dan luring sesuai dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kemendikbud kemudian menegaskan bahwa kebijakan perkuliahan tatap muka ini hanya berlaku pada kegiatan akademik atau mata kuliah yang berbentuk penelitian dan pengabdian masyarakat.

Kebijakan tersebut nyatanya menuai protes dari sebagian mahasiswa yang menganggap kebijakan tersebut tidak tepat.

Sri Rejeki (21), mahasiswa semester IV UNY mengatakan perkuliahan tidak mungkin diberlakukan secara tatap muka, mengingat jumlah kasus Covid-19 yang semakin meningkat.

Mobiltitas kampus, menurutnya akan sangat tinggi sehubungan dengan perkuliahan yang dilaksanakan secara tatap muka.

“Namun, kebijakan tertentu misalnya kuliah praktik memang perlu dipertimbangkan,” ujarnya kepada Joglosemarnews, Minggu (14/2/2021).

Pada kenyataannya, memasuki awal tahun 2021 kasus Covid-19 semakin membumbung tinggi. Hal inilah yang mengubah kebijakan awal terkait pembelajaran campuran (hybird learning) diganti menjadi daring secara keseluruhan.

Perubahan kebijakan tersebut tentunya tidak membuat sebagian mahasiswa heran. Mereka sudah menebak hal tersebut bakal terjadi. Kasus Covid-19 yang tak kunjung usai menjadi alasannya.

Baca Juga :  Wajib Tahu, Kuota Belajar Gratis dari Kemendikbud Ternyata Bukan Untuk Sembarangan. Ini Daftar Situs dan Aplikasi yang Tak Bisa Diakses Menggunakan Kuota Gratis!

Seluruh kampus di Indonesia, akhirnya mengeluarkan kebijakan terkait perkuliahan daring selama satu semester ke depan.

Walaupun awalnya beberapa kampus tersebut pernah menyetujui adanya hybird learning yang diputuskan oleh Kemendikbud.

“Sejak awal saya sudah menebak hal itu akan terjadi. Tidak dapat dimungkiri pembatasan bagi beberapa kegiatan memang harus dilakukan setidaknya agar kasus tidak meningkat, meskipun pada kenyataannya kasus Covid-19 tetap saja meningkat,” tambah Sri.

Kalau pun kebijakan tersebut tetap dilanjutkan, Reina Okta Cahyani (20) mahasiswa semester IV IAIN Surakarta menegaskan, tidak siap dan tidak setuju melakukan perkuliahan secara campuran. Reina khawatir nantinya kampus akan menjadi klaster baru Covid-19.

“Saya belum siap untuk kembali dilakukan kuliah tatap muka dan saya sudah nyaman dengan perkuliahan online ini,” ujarnya, Sabtu (13/2/2021).

Tidak dapat dimungkiri, perkuliahan daring yang ditetapkan Kemendikbud selama masa pandemi berdampak signifikan terhadap dunia pendidikan.

Banyak dari mahasiswa yang mengakui sudah terlanjur nyaman dengan perkuliahan secara daring. Bukan tanpa alasan, mereka mengaku dengan kuliah secara daring maka sama saja memiliki waktu yang lebih di rumah.

Baca Juga :  Baksos Mahasiswa STIE AUB Solo Ini Bikin Terkejut Driver Ojol

Monicka Febrianti (21) mahasiswa semester VI UAD malah beranggapan sebaliknya. Gadis yang kerap disapa Monick ini kurang menyetujui perkuliahan secara daring lagi. Monick mengaku bahwa perkuliahan secara daring kurang fektif.

“Perkuliahan online itu kurang efektif, sangat beda kalau kita kuliah tatap muka. Kenadalanya juga banyak kalau online, seperti susah sinyal,” ujarnya, Sabtu (13/2/2021).

Hal tersebut dibenarkan juga oleh Aurys Riliya (20) mahasiswa semester enam UNS. Aurys berpendapat selama perkuliahan daring akses mahasiswa untuk menikmati fasilitas kampus menjadi tidak maksimal. Salah satunya adalah mencari sumber referensi baik buku maupun lainnya.

“Kalau online begini kan susah cari referensinya. Mau cari secara online pun juga enggak selalu ketemu terus. Perpustakaan kampus pun dibuka hanya untuk mahasiswa semester akhir, itu pun juga dibatasi,” ujarnya, Sabtu (13/2/2021).

Meskipun demikian, Aurys mengaku siap jika perkuliahan dilaksanaakan secara daring kembali. Ia berharap agar pemerintah dapat memaksimalkan bantuan kuota internet untuk menunjang perkuliahan.

Walaupun hal tersebut sepele, tetapi untuk mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu atau yang bukan penerima beasiswa tentu sangat memberatkan.  Rullyani Kuncoro Putri