JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Bertahan dengan Warung Angkringan HIK Artomoro, Surani Percaya Rezeki Akan Tetap Datang

Warung angkringan di tengah pandemi Covid-19 / Foto: Bagas Prakasa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Dalam budaya Jawa, setiap nama dipercaya mengangandung makna dan harapan tertentu. Dari nama itulah terkandung makna sebuah harapan dan kebaikan.

Demikian pula dengan nama wedangan hik Artomoro di sekitar desa bangunsari RT 04/RW 12  Kabupaten Sragen ini.

Arto dalam bahasa Jawa adalah uang, dan moro adalah datang. Mungkin Ny Surani, warga Desa Bangak, Kecamatan Sine, Kabupaten Sragen ini juga memiliki harapan datangnya uang atau rezeki dengan memberi nama warung hiknya, Artomoro.

“Ya, yang penting kami berdoa dan berharap yang baik,” ujar Surani ketika bincang-bincang dengan Joglosemarnews.

Rupanya, harapan Surani dengan nama itu sedikit banyak ada benarnya. Selama pandemi Covid-19  yang sudah berlangsung setahun ini, warung hik Artomoro miliknya masih dapat diandalkan untuk menyambung rezeki baginya.

“Penghasilan rata-rata pada saat pandemi seperti ini bisa sampai Rp 200.000 kotor. Kalau lagi apes memang kadang kurang dari itu,” kisahnya.

Baca Juga :  Innalillahi, Setrum Jebakan Tikus Tewaskan 2 Perangkat Desa dan 12 Petani di Sragen. Total Sudah 14 Nyawa Melayang akibat Senjata Makan Tuan

Dulu, sebelum pandemi Covid-19 melanda, Surani sering membuka dagangannya sampai benar-benar habis. Ia mulai buka sekitar pukul 14.00 WIB dan baru tutup sampai dagangannya habis.

Namun sekarang, dalam soal lama waktu berjualan ini, ia benar-benar harus berhitung dan patuh pada anjuran pemerintah setempat.

“Sekarang habis ndak habis, jam sembilan malam saya tutup. Ketimbang nanti diopyak-opyak kali Satpol PP malam repot,” ujar Surani dalam logat Jawa yang kental.

Surani terhitung bukan pemain baru di bidang usaha warung angkringan. Sudah delapan tahun silam dirinya merintis warung hik buat tongkrongan maupun makan minum tersebut.

Letaknya yang strategis, membuat warung itu menjadi langganan bagi para pelajar dan sopir-sopir dari luar kota. Hanya saja, ketika pandemi melanda, jumlah pengunjung di warungnya menjadi berkurang. Terlebih para pelajar lebih banyak belajar dari rumah secara daring.

Baca Juga :  Update Covid-19 Sragen 14 April 2021, 28 Warga Kembali Positif Terpapar, 5.327 Sembuh dan 388 Meninggal Dunia

Sebagaimana angkringan pada umumnya, hidangan yang tersaji di hik Artomoro juga cukup bervariasi, tentu dengan harga yang terjangkau kantong semua kalangan.

Ada nasi kucing, yakni nasi bungkus ukuran kecil dengan lauk bandeng atau sambel goreng, aneka makanan dan gorengan maupun beberapa jenis sate sundukan, seperti sate kikil, usus dan sebagainya.

Sementara untuk jenis minumannya terdiri dari teh, teh krampul, wedang jahe hingga kopi.

Pandemi memang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Tapi bagaimanapun keadaanya, Surani mengaku akan tetap mempertahankan usahanya itu.

Selain ia tak punya keahlian lain untuk menyambung rezeki, setidaknya ia masih percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Yang Di Atas.  Bagas Prakasa