JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tergiur Keuntungan Menjanjikan, Warga Pinggiran Sragen Ini Rela Habiskan Jutaan untuk Budidaya Porang. Nunggu Berbulan-Bulan, Sudah Jual Katak Rp 500.000 Perkilo, Kini Berharap Jutaan Rupiah saat Panen Besar

Sugiyanto, petani Porang di Desa Ngargosari, Sumberlawang, Sragen. Foto/Wardoyo
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tanaman Porang memang sedang menjadi primadona di dunia pertanian. Keuntungan menjanjikan menjadi magnet tersendiri bagi petani untuk membudidayakannya.

Nun jauh di pinggiran Sragen Barat tepatnya di Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang, ternyata pesona Porang juga membuat seorang petani setempat ikut tergiur.

Namanya Sugiyanto (60). Petani asal Dukuh Bulakmanyar, Ngargosari itu memiliki 2.500 M2 lahan yang ditanami tanaman Porang.

Sudah lewat semusim ia membudidayakan Porang di peruntungan perdananya. Ada sekitar 1.150 pohon Porang yang ditanam di lahannya.

Saat ini tanaman porangnya tinggal menunggu beberapa bulan untuk panen besar.

“Awalnya lahan saya ini saya tanami jagung karena memang tegalan. Lalu dari lihat HP, kok tertarik dengan porang. Kelihatannya menjanjikan. Akhirnya pingin ujicoba tanam Porang ini. Ini yang pertama kalinya saya tanami porang,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (16/5/2021).

Sugiyanto menuturkan dia membeli bibit Porang sebanyak 1.150 umbi dengan harga Rp 40.000 perkilo. Bibit dibeli dari wilayah Dlingo, Purwodadi.

Menurutnya saat ini tanaman porangnya sudah berumur setahun lebih. Untuk perawatan memang tak banyak menelan biaya. Karena tanaman porang cukup dipupuk memakai pupuk kandang dan tak butuh banyak air.

“Tapi juga gampang-gampang susah. Karena ada tantangan penyakit jamur batang yang membuat batang bisa busuk,” kata dia.

Pantauan di lahannya, sebagian besar tanaman Porang milik Sugiyanto memang pohonnya sudah roboh ke tanah. Namun ia tak khawatir karena itu pertanda memang sudah tua.

Karena tanaman Porang yang dipanen adalah umbinya yang tertanam di bawah tanah. Selain itu, hasil lain yang bisa dijual adalah katak atau umbi kecil yang muncul di pelepah daun pertama.

Sejauh ini, ia mengaku sudah bisa panen kecil untuk katak sebanyak 2 kilogram. Harga katak lumayan mahal karena bisa laku Rp 500.000 perkilo.

Sedangkan untuk panen besar umbi, nanti diperkirakan akan bisa dipanen bulan Juli mendatang.

“Kalau bibitnya besar, 7 bulan bisa panen umbi. Tapi kalau bibitnya kecil bisa dia tahun baru panen. Kemarin saya jual kayak 2 kilo itu sudah didatangi bakul sendiri ke sini. Nggak perlu susah-susah jual,” terangnya.

Ia juga tak terlalu khawatir menjual hasil umbi saat panen besar nanti. Karena pembeli Porang sudah banyak.

Sugiyanto menambahkan untuk harga umbi Porang, saat ini berkisar antara Rp 8.500 sampai Rp 9.000 perkilo.

Kini ia berharap panenan besar nanti bisa sukses dan menghasilkan umbi yang banyak sehingga hasil yang didapat pun juga besar.

Dengan 1.100 pohon dan estimasi menghasilkan 3 kilogram umbi per pohon, maka diperkirakan hasil panenan sekitar 3 ton lebih.

Dengan harga umbi perkilo Rp 9000 maka diharapkan bisa mendatangkan hasil Rp 27 juta.

“Satu pohon bisa menghasilkan 3 kilogram umbi. Saya tertarik tanam Porang karena ingin memperbaiki pendapatan. Daripada jagung terus. Nanti kalau sudah sukses, saya akan kembangkan ke lahan yang lebih luas. Saya juga ingin mengajak warga dan petani lain untuk bisa ikut nanam Porang biar bisa lebih maju,” tandasnya. Wardoyo