JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Kisah Pengusung Jenazah Protokol COVID-19, Sampai Menyeberangi Sungai Meski Capek Tetap Berusaha Mencari Ridlo Allah

Petugas mengusung peti mati berisi jenazah menyeberangi sungai di Wonogiri. Foto : istimewa


Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM Video perjuangan memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di Wonogiri viral. Anggota Satgas sampai harus menyeberangi sungai yang berdasar batu kerikil cukup licin sambil tetap mengusung peti mati berisi jenazah.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (23/6) lalu. Tim pemakaman harus menembus arus sungai untuk memakamkan jenazah di Desa Mojopuro, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri.

Terlihat sebanyak 12 orang mengenakan alat pelindung diri (APD) komplit. Mulai dari hazmat, sepatu boots hingga masker dan face shield menempel di tubuh mereka. Delapan di antaranya memakai hazmat berwarna putih. Sisanya, memakai hazmat berkelir merah.

Enam orang berbaju hazmat putih menggotong jenazah di dalam peti yang warnanya senada. Bambu panjang yang sudah ditali kencang dengan peti terpikul di pundak mereka. Satu orang lagi membawa alat penyemprot desinfektan tepat di belakangnya dan satu sisanya mendokumentasikan kegiatan.

Sementara itu, orang berpakaian hazmat berwarna merah membawa sejumlah ubarampe pemakaman. Ada yang membawa payung jenazah dan lainnya. Rombongan berhazmat merah berjalan paling depan.

Semuanya menerabas sungai dengan kedalaman nyaris selutut orang dewasa. Beruntung arusnya tak kencang. Namun licin. Bahkan salah satu pembawa peti terpeleset saat melewati area perkebunan. Dengan sigap, orang itu kembali berdiri.

Salah satu anggota tim adalah Bripka Totok Samtono. Setelah mendapatkan kabar adanya kematian dengan pemakaman sesuai protokol kesehatan COVID-19, Totok langsung membentuk tim. Anggotanya delapan orang dari unsur TNI/Polri, BPBD, PMI, dan unsur relawan lain.

Baca Juga :  11 Tahun Menunggu Akhirnya Wonogiri Bisa Raih Predikat Sebagai Kabupaten Layak Anak Kategori Pratama. Namun Bisa Saja Tahun Depan Predikatnya Hilang

“Kita yang pakai hazmat putih. Kalau yang pakai hazmat merah itu anghota keluarga dan tim jogo tonggo desa,” kata dia yang memimpin tim pemakaman saat itu, Kamis (24/6/2021).

Mobil ambulan tak bisa sampai mengantar jenazah di depan tempat pemakaman umum (TPU). Harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menerabas sungai sepanjang 30 meter dan juga melewati perkebunan dan persawahan. Tidak ada jalur lain selain lewat sungai. Beruntung tidak ada kendala berarti dalam pemakaman itu. Pemakaman selesai tepat pukul 12.25 WIB.

Totok yang sudah berkali-kali bertugas melakukan pemakaman dengan protokol kesehatan mengaku baru pertama kali menerabas sungai saat menunaikan tugas mulia itu. Namun, jalan kaki jarak jauh dengan pakaian hazmat sudah berkali-kali dilakukannya.

“Teman-teman capek iya. Tapi kan yang dicari ridho dari Allah, tugas kemanusiaan. Kita juga sudah terbiasa, malam hari juga pernah. Lumayan kalau yang kemarin (menyeberangi sungai),” beber dia.

Pemakaman di Mojopuro lalu bukanlah
pemakaman yang paling berat bagi Totok. Dia masih ingat betul pada Ramadan beberapa lalu saat bertugas.
Bukan masalah menahan lapar dan haus yang berat baginya. Tapi berat baginya melihat ada pasangan pengantin yang menikah di pemakaman.

Orang tua salah satu mempelai meninggal dan dimakamkan dengan protokol kesehatan. Dia melihat langsung prosesi pernikahan sebelum jenazah dikuburkan, di salah satu TPU di Kecamatan Baturetno Mei lalu jelang Idul Fitri. Ada penghulu yang hadir bersama dengan mempelai. Mereka memakai masker dan face shield, menjaga jarak dengan peti jenazah.

Baca Juga :  Gawat, Vaksin Alias Imunisasi Bayi Semakin Langka di Wonogiri Terus Solusinya Bagaimana?

“Itu yang paling berat di hati saya, susah dijelaskan perasaan saya waktu itu,” terang dia.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Bambang Haryanto, berujar, anggota tim pemakaman sudah terbiasa berjalan kaki membawa jenazah. Jarak satu kilometer bukanlah kendala. Masih mending pemakaman itu dilakukan tengah hari saat sedang terang-terangnya. Pernah juga malam-malam. Penerangan ya pakai alat seadanya.

Sementara itu, Kapolres Wonogiri AKBP Christian Tobing mengatakan pihaknya bersama Dinas Kesehatan Wonogiri dan BPBD Wonogiri menyiapkan personel untuk melakukan pemakaman dengan protokol kesehatan. Polres Wonogiri juga sudah pernah memberikan penghargaan kepada tim pemakaman.

“Saya sudah mendapatkan laporan adanya pemakaman di Mojopuro yang berjalan satu kilometer dan juga lewat sungai. Patut diapresiasi. Kita berencana memberikan reward kepada anggota tim pemakaman kemarin di Mojopuro,” kata Kapolres. Aris