JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Boyolali

Ini Kisah Munculnya Kampung Matoa di Banyudono Boyolali, Silakan Mampir dan Cicipi

Ini penampakan buah matoa yang dibudidayakan warga Kampung Matoa di Pengging, Banyudono, Boyolali / Foto: Waskita

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM Buah Matoa tak hanya didapatkan di Papua saja. Buah tersebut juga mudah diperoleh di Dukuh Karangduwet, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono yang berada di kawasan wisata Pengging.

Bisa dipastikan, setiap rumah atau pekarangan di dukuh tersebut terdapat pohon matoa tumbuh subur.

Warga pun kini mendapatkan sumber rezeki baru dari matoa yang dijual Rp 50.000/kg. Satu pohon bahkan bisa panen sebanyak 1 kuintal dengan tiga kali panen setahun.

Tak heran, Dukuh Karangduwet Rt 13 Rw 03 kini dijuluki Kampung Matoa. Kampung yang terdiri dari 30 kepala keluarga itu  dipenuhi tanaman matoa sehingga suasana pun bertambah sejuk. Buah matoa juga disukai warga.

Baca Juga :  Pedagang di Boyolali  Bingung Hadapi Kebijakan Penurunan Harga Minyak Goreng

Apalagi kampung tersebut juga menjadi tempat wisata dan jalur pejalan kaki di kawasan wisata Pengging. Wisatawan sering membeli matoa yang dijajakan warga di depan rumah dengan harga Rp 50.000 – Rp 60.000/kg.

Menurut tokoh masyarakat Kampung Papua, H Ahmadi (79), sejarah tanaman matoa bermula saat salah satu warga memiliki satu batang tanaman matoa di depan rumah. Hanya saja, bertahun- tahun ditanam, belum juga berbuah.

“Hingga pemiliknya berencana menebang pohon matoa tersebut. Namun saat akan ditebang, didapati pohon mulai berbunga. Bahkan juga sudah muncul buah kecil- kecil,” ,” kisah Ahmadi, pada Senin (25/10/2021).

Tanaman pun lalu dibiarkan dan berbuah lebat. Saat buah sudah tua dengan ciri kulit berwarna kemerah- merahan, warga pun mencoba mencicipi. Tenyata rasanya manis dan kesat. Hingga kemudian, warga tertarik untuk menanam.

Baca Juga :  Dinilai Lakukan Pelecehan, Oknum Perwira Polres Boyolali Dilaporkan

“Saya dan sejumlah warga kemudian mencangkok batang untuk ditanam. Hingga kemudian berkembang hingga sekarang. Karena banyaknya pohon matoa disini, maka kemudian muncul julukan Kampung Matoa.”

Kades Bendan, Mas Teguh Rahayu menambahkan, saat ini setiap warga Kampung Matoa memiliki pohon matoa rata- rata 2 – 4 batang. Matoa bisa panen tiga kali setahun sebanyak 1 kuintal/ pohon.

“Kami berharap tanaman matoa bisa dikembangkan di seluruh wilayah Desa Bendan. Apalagi masih banyak kebun dan ladang yang luas disini,” ujarnya. Waskita

Bagi Halaman