YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama PT Smartpro Solusi Asia menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD).
Dalam kegiatan tersebut, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) ikut ambil bagian.
Seperti dijelaskan dalam rilisnya ke Joglosemarnews, FGD digelar dalam rangka penyusunan kajian tata kelola prkembangan teknologi bidang aplikasi informatika.
Antara lain seputar big data, artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), cloud dan blockchain.
Sejumlah perwakilan dari instansi pemerintah, industri, asosiasi dan akademisi turut hadir di kegiatan FGD.
Untuk memenuhi undangan dari Kemenkominfo, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKDW mengirimkan beberapa dosen dari Prodi Informatika yang sesuai dengan kepakarannya.
Salah satu peserta FGD di bidang AI, Dr Phil Lucia Dwi Krisnawati mengatakan, ada empat topik yang dibicarakan yakni implementasi teknologi AI, tujuan, regulasi, dan dampaknya.
“Kami berdiskusi terkait sektor-sektor yang perlu dititikberatkan dalam implementasi AI dan sejauh mana regulasi harus dibuat untuk menghindari efek over regulation dan under regulation,” ujarnya.
Dampak dari over regulation, menurutnya, akan mengerdilkan kreativitas para pemangku kepentingan AI. Sedangkan under regulation berdampak pada munculnya korban-korban baik itu masyarakat, individu atau institusi, karena tidak ada payung hukum atau regulasi yang melindungi.
Selanjutnya, Lucia menjelaskan, di FGD juga dibicarakan Indonesia yang masih berada di level pengguna tools dan engine yang sudah diciptakan oleh negara maju, kebanyakan penggunanya merupakan pihak industri dan start up.
“Jadi, jurang pemisahnya masih cukup tinggi karena untuk menciptakan tools dan engine sendiri tentu saja masih membutuhkan banyak waktu, biaya, dan sumber daya yang tidak sedikit. Sehingga bisa dipahami jika industri berbasis IT dengan skala besar masih menggunakan tools dan engine yang disediakan oleh negara-negara maju,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKDW Restyandito, S.Kom., MSIS., Ph.D yang menghadiri FGD bidang big data menjelaskan bahwa big data bisa mendatangkan keuntungan yang besar seperti meningkatkan akurasi, efisiensi dan kecepatan proses.
Big data juga bisa dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan pengambilan keputusan dengan memprediksi kondisi di masa depan.
“Untuk menunjang keberhasilan implementasi big data sangat tergantung dari bagaimana kita memanfaatkan data tersebut, ada istilah overproduction underconsumption, dimana mungkin terjadi banyak data yang dikumpulkan tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal karena tidak tahu bagaimana memanfaatkan data tersebut,” paparnya.
Dito juga menyampaikan bahwa pemerintah harus bisa mengatur mengenai masalah privasi dan keamanan data dalam pengelolaan big data.
“Oleh karena itu pemerintah sebagai policy maker harus memperhatikan dan mengatur hal-hal seperti menentukan data apa saja yang boleh dikumpulkan, pihak mana yang dapat mengumpulkan data dan bagaimana data tersebut digunakan. Selain memperhatikan aspek hukum dan aspek pemanfaatan data, masalah moral dan etika dalam pemanfaatan big data juga harus diperhatikan,” tambahnya. Chairul Roziqi Putra
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














