JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Curhat Pilu PKL Depan SDN 4 Sragen Usai Digusur Satpol PP. Pendapatan Anjlok 70 %, Sedih Sampai Rumah Istri Kaget

Empat perwakilan PKL di Depan SDN 4 Sragen saat mengutarakan kesedihan mereka usai mengalami penggusuran. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di depan SDN 4 Sragen oleh Satpol PP dengan menggeser ke jalan Setiabudi, menghadirkan mimpi buruk bagi PKL.

Sejak digusur tiga hari lalu, mereka mengaku mengalami penurunan omzet secara drastis hingga 70 persen.

Kisah pilu itu terungkap ketika mereka mengadukan nasib ke sekretariat LSM Forum Masyarakat Sragen (Formas) di Jetis, Sragen, Jumat (21/1/2022).

Sugiyono (46) misalnya. Pedagang pentol asal Lemahbang RT 27, Plosokerep, Karangmalang, Sragen mengaku sudah 15 tahun berjualan di depan SDN 4 Sragen.

Selama belasan tahun, baru kali ini digusur oleh Satpol PP. Ia menceritakan penggusuran dialami Senin (17/1/2022) jam 11.00 WIB. Kala itu, mendadak para PKL didatangi tim Satpol PP Sragen dan diminta pindah ke barat jalan (Jalan Setiabudi).

“Tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu apa maksud dan tujuannya penggusuran apa. Karena kami hanya rakyat kecil ya nglenggono saja,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Baca Juga :  Sosok Oemarsono, Pejabat Hebat Asli Putra Sragen Meninggal Dunia. Pernah Jadi Bupati, Wakil Gubernur Hingga Gubernur di Luar Jawa

Dibalut rasa kecewa bercampur berat hati, para PKL akhirnya harus angkat kaki dan pindah ke barat jalan.

Lokasi baru dan bergeser menjauh dari SD rupanya cukup berdampak. Walhasil pendapatan mereka pun langsung merosot tajam.

Sugiyono yang biasanya sehari bisa membawa pulang Rp 500 sampai Rp 550.000 sehari berjualan, langsung syok ketika hasil jualannya di barat jalan merosot drastis tinggal Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

Kondisi itu dialami hampir semua PKL depan SD 4 yang digeser. Padahal total ada 37 PKL yang sudah 6 tahun lebih berjualan di dekat SD 4.

“Yang paling kasihan, yang jualan makanan mateng. Saking sepinya kadang masih banyak sisa dibawa pulang,” ujarnya.

Omset Merosot Istri Kaget

Cerita tak jauh beda dituturkan Mujiono (50) warga Dukuh Panji RT 18 karangmalang, Sragen.

Pria yang sudah 20 tahun berjualan ayam kentaki mini di depan SDN 4 itu juga mengeluhkan omsetnya yang dulu bisa Rp 500.000 perhari, kini tak pernah bisa lebih dari Rp 200.000.

Baca Juga :  Tak Hanya Diancam, Orangtua Siswi Korban Perkosaan Massal di Sragen Mengaku Sempat Ditawari Uang Rp 500.000 untuk Bungkam

“Setelah digusur ini pendapatan langsung turun drastis. Kami hanya minta sama pemerintah untuk dikembalikan ke tempat sebelumnya yaitu depan SD 4. Kalau sekiranya kurang rapi atau apa minta di tata, kami manut asalkan tidak dipindah,” jelasnya.

Para PKL korban penggusuran di depan SDN 4 Sragen saat mengadu ke Sekretariat Formas Sragen, Jumat (21/1/2022). Foto/Wardoyo

Setali tiga uang, Broto (45) penjual es teh dandang asal Pilangsari, Ngrampal mengaku sudah 7 tahun mengais rejeki di depan SD 4. Selama itu pula, rejekinya sudah terbilang lumayan dengan penghasilan harian antara Rp 250.000 sampai Rp 300.000.

Namun sejak digusur ke sebelah barat, pendapatannya juga langsung anjlok hingga sepertiganya. Bahkan ia kadang sedih ketika sampai rumah melihat istrinya kaget dengan pendapatannya di lokasi baru.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua