JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Mengenal Karawitan Endah Laras Sragen yang Lagi Booming. Sindennya Kelas-Kelas Tapi Tarif Merakyat

Grup seni karawitan Endah Laras pimpinan Suprapta asal Gembong Saradan Karangmalang saat tengah mentas. Foto/Wardoyo
   

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kabupaten Sragen memang sudah lama dikenal sebagai daerah seni dan gudangnya seniman.

Terutama seni karawitan dan campursari yang masih menjadi primadona hiburan warga selam beberapa dekade.

Nah bicara soal seni karawitan, di Sragen sendiri banyak berdiri grup-grup karawitan yang selama puluhan tahun menjadi penyaji hiburan di acara-acara perhelatan masyarakat.

Salah satu grup karawitan yang belakangan menjadi perbincangan adalah Endah Laras. Performa apik dan keluwesan para seniman dari grup itu kini rupanya banyak mengena di hati masyarakat pecinta hiburan.

Tak heran, grup karawitan yang berasal dari Dukuh Gembong, Saradan, Karangmalang, Sragen itu kini makin laris disewa masyarakat.

Grup karawitan Endah Laras ternyata dirintis oleh Suprapta, seorang PNS kelahiran Kedungwaduk Karangmalang Sragen yang lama bertugas di Dinas Perkim Pemprov Jateng.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Suprapta mengatakan karawitan itu ia rintis tahun 2019 dari perangkat gamelan istimewa yang dibeli dari salah satu pakar seni asal Tawangsari Sukoharjo.

“Saya setahun nyari perangkat gamelan karawitan. Baru dapat tahun 2019 dari beliau seorang tokoh seni atau master seniman di Tawangsari. Dulu harganya saya beli Rp 430 juta,” paparnya.

Baca Juga :  Geger Warga Sragen Wetan, Aksi Bunuh Diri dari Atap Rumah Berhasil Digagalkan Anggota Reserse Kriminal Polsek Sragen Kota
Grup seniwati Karawitan Endah Laras. Foto/Wardoyo

Suprapta menguraikan gamelan itu ia beli dari mencari pinjaman di bank karena kecintaannya akan seni tradisi Jawa.

Bermodal gamelan itu ia kemudian merekrut seniman penabuh atau niyaga serta para seniwati atau pesinden-pesinden berbakat.

Nama Endah Laras sendiri diambil dari nama depan sang istri, Endah Margia Suksmawati. Grup karawitannya dirintis dan dilaunching pada 23 Juni 2019 silam.

Meski baru 4 tahun berjalan, nama Endah Laras kini mulai banyak dikenal dan bahkan menjadi salah satu karawitan terlaris yang ditanggapi warga.

Menurut Suprapta, hal itu tak lepas dari kualitas yang selalu ia kedepankan saat grupnya mendapat job. Mulai dari tampilan niyaga hingga performa pesinden yang tampil.

“Semua sinden kami memang kebanyakan pesinden berbakat dan alumni ISI (institut seni Indonesia). Jadi kualitas suaranya memang berkelas. Namun soal seniwati, kan tergantung permintaan yang akan nanggap. Kalau minta sinden Endah Laras yang baku, ya kita sediakan. Kalau minta yang sinden lain, juga kita layani. Kita intinya menyesuaikan keinginan penanggap,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menguraikan beberapa sinden yang selama ini menjadi icon Endah Laras antara lain Fahmi asal Ponorogo, Diajeng Candra asal Tuban, sinden Rizki dari Purwodadi, hingga si multi talenta sinden sekaligus pengendang Sulistyo Rini asal Wonogiri.

Baca Juga :  Penurunan Angka Kemiskinan di Sragen Baik, Terhitung 2 Tahun Terakhir Jadi Peringkat Kedua Penurunan Angka Kemiskinan

Selain itu, sinden-sinden dan talenta muda di lokal Sragen juga direkrut. Suprapta menyebut meski karawitan dan sindennya papan atas, namun soal tarif ia menyebut sangat merakyat.

Suprapta dan sang istri, Endah Margia Suksmawati. Foto/Wardoyo

Untuk sekali pentas, tarif satu paket hemat karawitan, MC, sinden dan niyaga hanya dipatok Rp 11 juta. Khusus untuk warga di Kecamatan Karangmalang dan sekitarnya (Kedawung dan Ngrampal), ia memberi diskon khusus membebaskan uang sewa khusus perangkat karawitannya.

“Karena niat saya tidak untuk profit oriented. Tapi lebih ke mencari sedulur, mengenal masyarakat dan nguri-uri budaya Jawa. Kalau bukan kita yang nguri-uri, siapa lagi?” urainya.

Dengan kelebihan dan kualitas yang dimiliki, ia menyebut karawitan Endah Laras memang makin banyak diminati. Hal itu ditandai dengan intensitas job yang rata-rata berkisar antara 10-15 kali tampil dalam sebulan.

“Satu ciri khas Endah Laras, semua sinden kita selalu pakai selempang. Kemudian kami nggak matok panjar atau uang muka. Maksimal panjar hanya Rp 100.000. Kalau misal penyewa membatalkan, uang panjar kita kembalikan,” terangnya.

Wardoyo

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com