JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

100 Tahun PSHT, Berjuang Melawan Belanda hingga Jadi Organisasi Pencak Silat Terbesar

PSHT. Wikipedia

JOGLOSEMARNEWS.COM — Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), merupakan salah satu perguruan pencak silat terbesar di Indonesia yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Dilansir dari p2k.unkris.ac.id, perjalanan PSHT dimulai saat Ki Hadjar Oetomo, lelaki kelahiran Madiun, Jawa Timur, berguru kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo. Sejak 1890, Ki Hadjar menguasai hampir seluruh ilmu Ki Ngabehi.

Ki Hadjar mendapatkan gelar pendekar tingkat III dalam tataran ilmu Setia Hati. Anugerah ini diberikan kepadanya di Desa Winongo, Madiun.

Sebagai pendekar, Ki Hadjar punya niat baik, iaa ingin mewariskan ilmunya untuk kemaslahatan umat, agar pencak silat tidak hanya bisa dipelajari oleh kalangan bangsawan atau ningrat saja. Bukan jalan mudah, Ki Hadjar memulai perjalanannya dengan menjadi guru magang pada sekolah dasar di Benteng Madiun.

Setelah malang melintang di dunia pendidikan, ia rupanya tak begitu nyaman. Ki Hadjar memutuskan untuk beralih profesi sebagai Leerling Reambate di SS (PJKA/ Kereta Api Indonesia saat ini) di Bondowoso, Panarukan dan Tapen.

Baca Juga :  Nyawa Tak Bisa Dinilai Uang, Jokowi Berikan Santunan Rp 50 Juta untuk Semua Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan

Dalam perjalanannya kariernya saat itu, Ki Hadjar dikepalai oleh orang Belanda. Memasuki tahun 1906, ia memilih keluar dari pekerjaannya dan melamar menjadi mantri di pasar Spoor Madiun. Empat bulan berselang, ia ditempatkan di Mllilir dan diangkat menjadi Ajun Opsioner Pasar Mlilir, Dolopo, Uteran dan Pagotan.

Sepuluh tahun berikutnya, semangat pemberontakannya semakin menjadi. Ia kembali beralih profesi dengan bekerja di Pabrik Gula Rejo Agung Madiun. Satu tahun setelahnya, yaitu tahun 1917, ia keluar dan bekerja di rumah gadai hingga bertemu dengan seorang tetua dari Tuban yang kemudian memperjakannya sebagai tukang harian.

Dari Koperasi ke Sarekat Islam

Di tempat barunya, Ki Hadjar berhasil mendirikan perkumpulan “Harta Jaya”. Perkumpulan ini sebentuk koperasi untuk melindungi pribumi dari tindasan rentenir. Nasib baik memihaknya. Tak lama setelahnya, VSTP atau Persatuan Pegawai Kereta Api mengangkat Ki Hadjar sebagai Hoof Komisaris Madiun. Itu semua karena bekal pengalaman saat menjabat Leering Reambate.

Baca Juga :  Diduga Terlibat Kasus Penipuan, Ketua Komisi D DPRD Bantul, Enggar Suryo Jatmiko Ditangkap Polisi

Setelah bergabung dengan VSTP, Ki Hadjar punya waktu luang. Kehidupannya perlahan mencapai kata layak. Dalam banyak waktunya, Ki Khajar kembali menambah ilmu silatnya dengan berguru dengan Ki Ngabehi Soerodowiryo. Mengutip psht.umm.ac.id perkumpulan silat yang semula bernama “Djojo Gendilo Cipto Mulyo” berubah menjadi “Setia Hati”.

Memasuki 1922 Ki Hadjar bergabung dengan Sarekat Islam (SI) yamg didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo. Tujuannya untuk mengusir penjajah Belanda. Ia menjadi pengurus organisasi politik itu.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com