JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Di tengah bayang-bayang krisis energi global akibat konflik geopolitik, Indonesia justru dinilai berada di posisi relatif aman. Namun, peringatan keras muncul: ketahanan itu bisa goyah jika masyarakat abai dalam mengelola konsumsi energi.
Laporan terbaru dari The Economist menempatkan Indonesia dalam kategori low exposure, strong buffer—yakni negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan kebijakan energi yang kuat. Posisi ini membuat Indonesia dinilai lebih stabil dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan, termasuk Vietnam.
Dalam laporan bertajuk Which country is the biggest loser from the energy shock, disebutkan bahwa Indonesia relatif terlindungi dari dampak buruk krisis energi global. Hal ini didukung oleh kombinasi sumber daya energi domestik yang memadai serta kebijakan diversifikasi energi yang terus dikembangkan pemerintah.
“Beberapa negara, termasuk Indonesia, tampak relatif terisolasi (dari dampak buruk) berkat perpaduan sumber daya energi domestik dan kebijakan bantalan yang kuat,” tulis laporan tersebut.
Meski demikian, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu, mengingatkan agar masyarakat tidak terlena dengan penilaian tersebut. Menurutnya, kondisi stabil saat ini tetap menyimpan potensi risiko jika pola konsumsi energi tidak dikelola dengan bijak.
“Dalam jangka menengah, posisi kita lebih aman dibanding Vietnam. Namun tetap penting menjaga pola konsumsi energi agar tidak menimbulkan kerentanan baru,” ujarnya.
Hamid menilai langkah pemerintah dalam mendorong diversifikasi energi sudah tepat. Pengembangan energi baru dan terbarukan seperti panas bumi dan tenaga surya, serta dorongan penggunaan kendaraan listrik menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Selain itu, cadangan minyak Indonesia yang mencapai sekitar 4,4 miliar barel dinilai cukup menopang kebutuhan energi hingga satu dekade ke depan.
Di sisi lain, International Energy Agency juga menekankan pentingnya pengendalian permintaan energi sebagai langkah cepat menghadapi potensi gangguan pasokan. Beberapa upaya yang disarankan antara lain mengurangi mobilitas, mendorong kerja dari rumah, serta beralih ke penggunaan energi listrik yang lebih efisien.
“Mengatasi permintaan adalah alat penting dan segera untuk mengurangi tekanan (pada) konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung keamanan energi,” kata IEA.
Dengan berbagai indikator tersebut, Indonesia memang berada dalam posisi yang relatif kuat. Namun para ahli mengingatkan, ketahanan energi bukan hanya soal cadangan dan kebijakan, melainkan juga perilaku masyarakat dalam menggunakan energi secara bijak dan berkelanjutan. [*] disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















