Beranda Daerah Solo Bedah Buku di Solo, Digitalitasi Pendidikan Perlu Sentuhan Filosofi

Bedah Buku di Solo, Digitalitasi Pendidikan Perlu Sentuhan Filosofi

Peserta dan narasumber berfoto bersama usai kegiatan bedah buku Digitalisasi Pembelajaran yang digelar di De’Lima Surakarta, Selasa (15/4/2026) | Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Transformasi digital di sektor pendidikan terus menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Hal itu tercermin dalam kegiatan bedah buku Digitalisasi Pembelajaran yang digelar di De’Lima Surakarta, Selasa (15/4/2026).

Buku karya Dr. Bramastia, Dana Ainal Hasan, dan Riska Nabila Zenia Putri tersebut mengupas perubahan paradigma pendidikan di era digital, tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga menyentuh aspek pedagogi, filosofi, dan budaya.

Dalam pengantar buku, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd menegaskan bahwa digitalisasi pembelajaran menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang adaptif.

“Digitalisasi pembelajaran harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang fleksibel, interaktif, dan berorientasi pada penguatan karakter serta kompetensi abad ke-21,” tegasnya, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Ia juga mengingatkan bahwa penerapan teknologi dalam pendidikan tidak boleh memunculkan kesenjangan baru. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan harus berkolaborasi membangun ekosistem digital yang inklusif agar akses pendidikan berkualitas dapat dirasakan secara merata.

Suasana kegiatan bedah buku Digitalisasi Pembelajaran yang berlangsung di De’Lima Surakarta, Selasa (15/4/2026). Diskusi menghadirkan narasumber dan diikuti peserta dari kalangan mahasiswa dan akademisi | Istimewa

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Program Studi S1 Teknologi Pendidikan FKIP UNS, Dr. Eka Budhi Santosa, M.Pd sebagai pembedah. Dalam paparannya, ia menilai buku tersebut memberikan sudut pandang yang cukup lengkap karena tidak hanya membahas penggunaan teknologi, tetapi juga mengaitkannya dengan dimensi filosofis dan kultural.

Baca Juga :  Walk For Autism 2026 Menuju Solo Kota Inklusif

Ia menyebut, kekuatan utama buku tersebut terletak pada upaya penulis menggabungkan berbagai perspektif, mulai dari kebijakan pemerintah hingga perkembangan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, augmented reality, dan virtual reality.

Meski demikian, ia menyoroti masih perlunya pembahasan lebih mendalam terkait kesenjangan digital, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur.

“Digitalisasi pembelajaran tidak boleh hanya menjadi wacana di kota besar, tetapi harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil,” ungkapnya.

Diskusi yang dipandu Arindra Alfarizi, M.Pd itu berlangsung interaktif. Peserta yang didominasi mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan, terutama terkait kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi perubahan berbasis teknologi.

Selain itu, isu literasi digital dan etika penggunaan teknologi juga menjadi perhatian. Peserta menilai, penguatan dua aspek tersebut penting agar digitalisasi tidak menimbulkan dampak negatif di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Danrem 074: Media Mitra Strategis Kawal Pembangunan dan Stabilitas Wilayah

Menanggapi hal itu, Dr. Eka mengingatkan pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan era tanpa batas dan maraknya fenomena post-truth.

Kegiatan ini juga menjadi ajang kolaborasi antara BRAMS Institute dengan kalangan akademisi untuk mendorong inovasi pembelajaran yang tidak hanya modern, tetapi tetap berpijak pada nilai budaya dan filosofi pendidikan nasional.

Acara berlangsung hangat dan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama. Diskursus mengenai digitalisasi pembelajaran pun dinilai semakin relevan sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara inklusif dan berkelanjutan. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.