Beranda Umum Nasional Dunia Waspada Covid-19 Cicada, UGM: Jangan Sampai Indonesia Kecolongan

Dunia Waspada Covid-19 Cicada, UGM: Jangan Sampai Indonesia Kecolongan

Ilustrasi Covid-19 | pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Situasi pandemi yang mulai terasa “jinak” justru berpotensi menipu. Di saat banyak negara kembali dihantui kemunculan varian baru Covid-19 bernama Cicada, Indonesia memang belum mencatat kasus. Namun, kondisi ini dinilai bukan alasan untuk lengah.

Pakar mikrobiologi dari Universitas Gadjah Mada, Tri Wibawa, mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika virus yang terus bermutasi. Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa varian Cicada lebih berbahaya dibandingkan varian sebelumnya.

“Belum ada indikasi bahwa varian Cicada lebih berbahaya daripada strain sebelumnya,” kata Tri, Jumat (10/4/2026).

Varian yang masih merupakan turunan dari COVID-19 ini pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan pada November 2024. Setelah sempat meredup, kemunculannya kembali terdeteksi dan kini telah menyebar ke sedikitnya 23 negara hingga Februari 2026.

Meski demikian, otoritas kesehatan di Indonesia memastikan bahwa varian tersebut belum ditemukan di dalam negeri. Dari sisi gejala, Tri menjelaskan tidak ada perbedaan mencolok. Manifestasi klinisnya masih berkisar dari ringan hingga berat, bergantung pada kondisi tubuh masing-masing individu.

Baca Juga :  RJ Untuknya Belum Terlaksana, Tiga Kasus Sudah Menjerat Rismon Sianipar Sekaligus

Menurutnya, perlindungan terbaik masih bertumpu pada vaksinasi. Ia menilai, individu yang sudah menerima vaksin atau pernah terpapar sebelumnya cenderung memiliki respons imun yang lebih siap dalam menghadapi infeksi ulang.

Namun demikian, ia menekankan bahwa ancaman justru bisa membesar saat masyarakat mulai mengabaikan langkah-langkah pencegahan dasar.

“Tidak ada langkah khusus menghadapi Cicada. Prinsipnya tetap sama: vaksinasi, pola hidup sehat, menjaga kebersihan, dan menghindari aktivitas saat sakit,” ujarnya.

Selain upaya individu, kesiapan sistem kesehatan juga menjadi faktor penting. Tri mendorong pemerintah dan fasilitas layanan kesehatan untuk terus memperkuat sistem surveilans, termasuk pemantauan varian melalui pemeriksaan laboratorium.

Baca Juga :  Grab Luncurkan 13 Fitur AI di GrabX 2026, Siap Jadi “Pendamping Cerdas” Sehari-hari

Ia mengingatkan, pengalaman pandemi sebelumnya menunjukkan bahwa penyebaran varian baru dapat berlangsung sangat cepat. Karena itu, meskipun situasi nasional masih terkendali, kewaspadaan tidak boleh ditawar.

Ketika dunia kembali dihadapkan pada potensi gelombang baru, Indonesia dinilai perlu belajar dari masa lalu: terlambat sedikit saja, dampaknya bisa meluas. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.