GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Lonjakan harga BBM non-subsidi mulai menekan layanan publik di daerah. Di Gunungkidul, program bus sekolah yang selama ini menjadi tumpuan ratusan pelajar kini menghadapi tantangan serius akibat membengkaknya biaya operasional.
Kenaikan harga Dexlite yang cukup signifikan memaksa Dinas Perhubungan Gunungkidul untuk segera melakukan evaluasi anggaran agar layanan tetap berjalan. Selama ini, tujuh unit bus sekolah yang dioperasikan pemerintah daerah memang menggunakan BBM non-subsidi sesuai ketentuan.
Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dishub Gunungkidul, Sigit Wijayanto, menjelaskan bahwa seluruh armada mengandalkan Dexlite sebagai bahan bakar utama.
“Bus kita tidak boleh menggunakan BBM subsidi dan untuk operasional menggunakan dexlite,” katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (23/4/2026).
Dengan kenaikan harga dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, beban anggaran operasional yang sebelumnya berkisar Rp392 juta per tahun dipastikan meningkat. Kondisi ini membuat Dishub harus melakukan perhitungan ulang kebutuhan biaya agar operasional tidak terganggu.
“Mau tidak mau,” lanjut Sigit, pihaknya harus menyesuaikan perhitungan anggaran. Salah satu opsi yang ditempuh adalah mengajukan penambahan anggaran agar layanan tetap berjalan normal.
“Saat ini masih beroperasi seperti biasa,” ujarnya.
Dukungan terhadap keberlanjutan program ini juga datang dari legislatif. Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, menegaskan pihaknya akan mengawal penambahan anggaran dalam pembahasan APBD Perubahan.
“Nanti saat pembahasan anggaran di APBD Perubahan akan diperjuangkan agar bisa ditambah,” kata Endang.
Ia menilai, keberadaan bus sekolah tidak hanya membantu akses transportasi pelajar, tetapi juga berkontribusi menekan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan siswa.
“Jangan sampai berhenti, bahkan kalau kita punya anggaran bisa ditambah, karena ini program bagus bisa mengurangi angka kecelakaan,” tegasnya.
Adapun layanan bus sekolah di Gunungkidul saat ini mencakup tujuh rute utama, yakni Nglipar–Wonosari, Semin–Wonosari, Gedangsari–Wonosari, Semanu–Wonosari, Ponjong–Wonosari, Tanjungsari–Wonosari, serta Sokoliman (Bejiharjo)–Wonosari. Rute-rute tersebut menjadi penghubung penting bagi pelajar dari berbagai wilayah menuju pusat kota. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














