SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang tak bisa dianggap remeh. Dalam rentang waktu kurang dari tiga jam pada Minggu pagi (12/4/2026), gunung api paling aktif di Indonesia itu melontarkan tiga kali awan panas guguran dengan jarak luncur yang cukup signifikan.
Rentetan kejadian tersebut menjadi bagian dari tren peningkatan aktivitas dalam sepekan terakhir, di mana total delapan kali awan panas telah tercatat sejak awal April.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa awan panas pertama terjadi pada pukul 05.45 WIB dengan jarak luncur mencapai 1.500 meter ke arah hulu Kali Boyong dan berdurasi 166,4 detik.
Kejadian berikutnya berlangsung pada pukul 07.41 WIB dengan jarak luncur sekitar 1.400 meter selama 132,1 detik. Sementara awan panas ketiga terjadi pada pukul 08.21 WIB dengan jangkauan terjauh mencapai 2.000 meter ke arah yang sama.
“Status masih di Level III atau Siaga,” ujar Agus.
Jika ditarik ke belakang, aktivitas ini menunjukkan konsistensi yang meningkat. Sejak Selasa (7/4/2026), Merapi sudah beberapa kali meluncurkan awan panas, dengan jarak bervariasi antara 1.100 hingga 1.800 meter ke sejumlah alur sungai seperti Boyong, Sat, dan Putih.
Selain awan panas, aktivitas lain juga terpantau cukup intens. Hingga Sabtu malam, kolom asap kawah berwarna putih tampak tebal dengan ketinggian mencapai 475 hingga 525 meter di atas puncak. Tidak hanya itu, guguran lava juga tercatat sebanyak 36 kali dengan jarak luncur maksimal hingga 2.000 meter ke arah barat daya.
Pada periode dini hari hingga pagi Minggu, aktivitas masih berlanjut dengan satu kali awan panas dan sembilan kali guguran lava, yang meluncur hingga sejauh 1.900 meter.
Agus menjelaskan bahwa potensi bahaya saat ini terkonsentrasi di sektor selatan hingga barat daya, meliputi aliran Sungai Boyong sejauh 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, ancaman mengarah ke Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain itu, wilayah dalam radius 3 kilometer dari puncak juga berpotensi terdampak lontaran material vulkanik jika terjadi erupsi eksplosif.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” kata Agus.
Dengan status yang masih berada di level Siaga, masyarakat di sekitar lereng Merapi diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi dari otoritas terkait guna menghindari risiko yang lebih besar. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















