Beranda Daerah Solo Tekanan Biaya Produksi, Coffe Shop di Solo Pertimbangkan Kenaikan Harga Menu ...

Tekanan Biaya Produksi, Coffe Shop di Solo Pertimbangkan Kenaikan Harga Menu  

Coffe Shope di Kota Solo tengah mempertimbangkan untuk menaikkan harga gula | Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kenaikan harga bahan baku mulai dirasakan pelaku usaha coffee shop di Kota Solo. Salah satunya dialami Kawan Tuli Coffee and Space yang berlokasi di Jalan Ronggowarsito No. 16, Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon.

Co-Founder Kawan Tuli Coffee and Space, Florentino Bintang, mengungkapkan harga biji kopi saat ini mengalami kenaikan cukup signifikan, bahkan mencapai sekitar 40 persen. Kenaikan tersebut turut diikuti oleh bahan pendukung lain seperti minyak dan kebutuhan operasional.

“Biji kopi sendiri naik sampai 40 persen. Minyak juga naik, semuanya ikut naik. Kami sedang mempertimbangkan untuk melakukan penyesuaian harga,” ujarnya.

Meski dihadapkan pada lonjakan biaya produksi dan persaingan bisnis coffee shop yang semakin ketat, Florentino menyebut penjualan masih tergolong stabil. Setiap hari, ratusan minuman tetap terjual dengan harga yang relatif terjangkau, yakni mulai dari Rp 12.000 hingga Rp 34.000.

Baca Juga :  Nekat Tanam Ganja di dalam Rumah, Warga Kerten Solo Ini Dibekuk Polisi

Ia menjelaskan, pada hari biasa seperti Rabu pun, jumlah penjualan bisa mencapai sekitar 400 minuman. Sementara saat akhir pekan, angka penjualan rata-rata berada di kisaran 500 minuman per hari. Bahkan saat momen grand opening, penjualan sempat menembus hampir 2.000 minuman.

“Hari biasa saja bisa tiba-tiba ramai, sekitar 400 pcs. Kalau weekend rata-rata 500 pcs, dan saat grand opening pernah hampir 2.000 pcs,” jelasnya.

Di sisi lain, Florentino mengungkapkan tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya soal biaya, tetapi juga komunikasi internal. Sebagai usaha yang melibatkan karyawan teman tuli, manajemen dituntut untuk beradaptasi dalam membangun komunikasi yang efektif.

Menurutnya, proses komunikasi terutama saat rapat bulanan masih menjadi pekerjaan rumah. Ia pun mengaku harus turut belajar bahasa isyarat agar dapat mendampingi karyawan secara optimal.

Baca Juga :  DPRD Solo Soroti Program Jumat Bersepeda : Jangan Cuma Obor Blarak ! Kalau Bisa Setiap Hari

“Komunikasi saat rapat bulanan masih jadi PR. Saya sendiri harus belajar bahasa isyarat dan mendampingi mereka. Tiga bulan pertama harus intens memantau setiap hari, baru sekitar bulan keenam mulai berjalan otomatis,” pungkasnya. [Ando]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.