WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kenaikan harga BBM kembali bikin publik bereaksi. Bukan sekadar naik tipis, kali ini lonjakannya terasa “nendang” terutama untuk BBM non subsidi yang dipakai kendaraan diesel modern dan mobil performa tinggi. Bahkan ada yang menyebut tidak sekadar naik tapi ganti harga.
Di tengah situasi ini, aparat kepolisian langsung turun ke lapangan untuk meredam potensi gejolak, termasuk di kawasan Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.
Untuk diketahui lonjakan harga paling mencolok terjadi pada jenis BBM kelas atas. Kenaikan ini langsung jadi perbincangan karena selisihnya bukan ratusan rupiah, tapi sampai ribuan dalam satu waktu. Ini yang bikin banyak pihak mulai menghitung ulang biaya operasional, terutama sektor yang bergantung pada bahan bakar diesel.
Berikut rincian kenaikan harga BBM terbaru yang bikin banyak orang kaget:
✓ Pertamax Turbo kini Rp 19.900/liter (naik Rp 500)
✓ Dexlite melonjak ke Rp 26.000/liter (naik Rp 2.400)
✓ Pertamina Dex tembus Rp 27.900/liter (naik Rp 4.000)
Kenaikan drastis ini jelas bukan hal sepele. Pengguna kendaraan diesel modern, logistik, hingga pelaku usaha dengan mobilitas tinggi mulai merasakan tekanan biaya. Meski begitu, ada satu hal yang mungkin masih jadi penahan kepanikan: BBM subsidi seperti Pertalite dan solar subsidi belum mengalami perubahan harga.
Di Wonogiri, respons cepat dilakukan untuk menjaga situasi tetap kondusif. Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo turun langsung menemui kelompok nelayan di TPI Sendang, Waduk Gajah Mungkur. Langkah ini bukan sekadar formalitas, tapi upaya nyata meredam potensi keresahan akibat kenaikan BBM yang bisa memicu spekulasi liar.
Pertemuan yang berlangsung di Dusun Bendorejo, Desa Sendang ini jadi momen penting. Aparat tidak hanya memberi imbauan, tapi juga menyerap langsung kondisi di lapangan. Fokus utamanya jelas: memastikan masyarakat tidak terpancing isu yang belum jelas kebenarannya.
Kapolres menegaskan bahwa stabilitas keamanan harus tetap dijaga. Kenaikan BBM non subsidi memang berdampak, tapi tidak semua sektor langsung terdampak signifikan. Narasi ini penting untuk mencegah kepanikan berlebihan.
Menariknya, dari sisi nelayan justru muncul respons yang cukup tenang. Ketua Kelompok Nelayan Sendang Asri, Sutrisno, menyebut aktivitas nelayan masih berjalan normal. Belum ada dampak signifikan yang dirasakan, terutama karena mereka masih bergantung pada BBM yang tidak mengalami kenaikan.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Karamba Jaring Apung, Budi Hardono. Ia menegaskan bahwa nelayan di Waduk Gajah Mungkur tidak terpengaruh isu dari luar daerah. Mereka memilih tetap fokus bekerja dan tidak tertarik ikut aksi-aksi demonstrasi yang muncul di tempat lain.
Ini jadi sinyal penting: meskipun harga BBM naik tajam di sektor tertentu, dampaknya tidak merata. Namun tetap ada potensi efek domino jika situasi terus berkembang, terutama pada sektor distribusi dan transportasi.
Langkah dialog langsung seperti ini jadi strategi kunci untuk menjaga stabilitas. Tanpa komunikasi yang jelas, kenaikan harga BBM bisa dengan cepat berubah jadi isu sosial yang lebih besar.
Di sisi lain, masyarakat tetap perlu waspada. Kenaikan BBM non subsidi hari ini bisa saja menjadi indikator perubahan kebijakan energi ke depan. Artinya, dampaknya bisa meluas secara bertahap, bukan langsung terasa sekarang.
Situasi masih terkendali, tapi tekanan ekonomi mulai terasa di beberapa sektor. Pertanyaannya sekarang: ini hanya awal atau akan ada gelombang kenaikan berikutnya? Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















