SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gelombang protes pengemudi ojek online kembali pecah di Jawa Tengah. Di tengah keluhan soal tarif yang dinilai makin tak manusiawi dan potongan aplikasi yang dianggap mencekik, puluhan hingga ratusan driver dari berbagai daerah mendatangi Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Rabu (20/5/2026).
Dengan atribut khas berbagai aplikator yang mendominasi warna hijau, oranye, hingga kuning, massa aksi memadati area depan kantor gubernur sambil membawa poster dan spanduk bernada keras terhadap perusahaan aplikasi transportasi online.
Aksi yang digelar sejak pagi itu dikawal ketat aparat kepolisian. Sebuah truk komando diparkir di depan gerbang utama sebagai pusat orasi, sementara aparat gabungan berjaga di sejumlah titik sekitar lokasi.
Salah satu spanduk berwarna hitam bertuliskan “DEMO DRIVER ONLINE” dengan slogan “Kami Pejuang Keluarga” tampak mencuri perhatian. Dalam spanduk itu, para driver menyuarakan tuntutan mengenai tarif yang dinilai lebih adil, transparansi potongan aplikasi, perlindungan kerja, penolakan opsen pajak, hingga legalitas profesi pengemudi online.
Tak sedikit peserta aksi menyampaikan keresahan mereka dengan cara satir. Seorang driver membawa karton bertuliskan, “Pajak mundak, tarif murah, potongan gedhe, terus rabine kapan cukkk…” yang langsung mengundang perhatian peserta lain.
Massa yang tergabung dalam Gerakan Tolak Aplikator Kapitalis (Gertak) Jawa Tengah juga membentangkan spanduk panjang bertuliskan “JATENG MEMANGGIL! TOLAK APLIKATOR KAPITALIS” lengkap dengan tagar #JatengOraSepele.
Salah seorang peserta aksi, Dewi (49), mengungkapkan kondisi tarif layanan saat ini dinilai semakin memberatkan para pengemudi, terutama untuk layanan pengantaran barang.
“Permintaannya itu kenaikan tarif. Kita minta tarif batas bawah sama batas atas, karena sudah berapa tahun tarif belum ada kenaikan sama sekali,” ujarnya.
Ia mencontohkan, ongkos pengiriman barang yang dahulu masih dianggap layak kini mengalami penurunan drastis meski jarak tempuh tetap sama.
“Kalau pengantaran barang itu awalnya dua kali pengantaran dengan kilometer sama tetap Rp7.000, sekarang cuma Rp2.000. Itu yang memberatkan,” imbuh dia.
Selain isu tarif, para pengemudi juga mendesak adanya Undang-undang Transportasi Online yang secara khusus mengatur hubungan antara aplikator dan mitra pengemudi.
Koordinator aksi menyebut keberadaan regulasi nasional sangat mendesak agar perusahaan aplikasi tidak semena-mena menentukan kebijakan terhadap driver.
Mereka meminta Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi ikut mendorong pembentukan regulasi tersebut ke pemerintah pusat dan DPR RI.
Aksi bertajuk “Ojol Jateng Memanggil Tolak Aplikator Kapitalis” itu sebelumnya disebut akan diikuti sekitar 1.200 pengemudi dari berbagai daerah, mulai Semarang, Salatiga, Kabupaten Semarang, Demak, Kendal, Kudus, Pati hingga Blora.
Namun jumlah massa yang hadir akhirnya tidak sebesar perkiraan setelah sebagian perwakilan driver diketahui telah bertemu lebih dulu dengan Gubernur Jawa Tengah pada Selasa (19/5/2026).
Untuk mengantisipasi gangguan keamanan, Polda Jawa Tengah bersama Polrestabes Semarang menerjunkan total 1.569 personel gabungan.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Artanto, menegaskan seluruh personel diminta mengedepankan pendekatan persuasif selama pengamanan berlangsung.
“Sebanyak 1.569 personel gabungan telah disiagakan untuk melaksanakan pelayanan pengamanan aksi penyampaian pendapat di Kota Semarang. Seluruh personel kami tekankan untuk mengedepankan pendekatan humanis, persuasif, dan profesional dalam pelaksanaan tugas,” ujarnya.
Menurut Artanto, pengamanan dilakukan bukan hanya menjaga ketertiban, tetapi juga memastikan para peserta aksi tetap dapat menyampaikan aspirasi secara aman dan kondusif. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.











