Beranda Daerah Wonogiri 500 Warga Rela Tembus Dingin Bediding Demi Gus Tofa, Pesan Soal Tradisi...

500 Warga Rela Tembus Dingin Bediding Demi Gus Tofa, Pesan Soal Tradisi Suran di Wonogiri Ini Bikin Jamaah Terdiam

Pengajian
Pengajian dan Tasyakuran Suran Mushola Al Ikhlas, Dusun Dung Uwot, Desa Ngadipiro, Sabtu (11/7/2026). Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hawa dingin bediding yang menyelimuti kawasan Kecamatan Nguntoronadi pada malam hari ternyata tak mampu menghalangi langkah ratusan warga untuk memadati Mushola Al Ikhlas, Dusun Dung Uwot, Desa Ngadipiro, Sabtu (11/7/2026).

Sekitar 500 jamaah datang sejak sore hingga malam demi mengikuti Pengajian dan Tasyakuran Suran yang berlangsung penuh kekhidmatan.

Suasana masjid dipenuhi warga dari Dusun Dung Uwot maupun berbagai wilayah sekitar. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga para orang tua duduk bersama mengikuti rangkaian acara dengan penuh khusyuk. Tradisi Suran yang telah lama hidup di tengah masyarakat kembali menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan.

Penceramah yang dihadirkan adalah KH Agus Habib Mustofa, atau yang lebih dikenal dengan Gus Tofa, pengasuh Pondok Pesantren Anajah Darul Ulum Poncol, Magetan. Kehadiran beliau menjadi magnet tersendiri sehingga jamaah terus berdatangan memenuhi area masjid.

Dalam tausiyahnya, Gus Tofa menyampaikan pesan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat Jawa. Menurutnya, tradisi Suran bukan sekadar bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan selama dijalankan sesuai dengan tuntunan Islam.

“Mari kita nguri-uri budaya Jawa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, termasuk tradisi Suran. Jangan lupa mendoakan para leluhur dan cikal bakal kampung sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka,” pesan Gus Tofa di hadapan ratusan jamaah.

Baca Juga :  Soloraya Diam-Diam Berubah! 25 Ide Usaha yang Diprediksi Paling Laris, Banyak Orang Baru Sadar Potensinya

Kalimat tersebut mendapat perhatian penuh dari jamaah. Banyak warga terlihat menganggukkan kepala sebagai bentuk persetujuan terhadap pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya lokal dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Tradisi Suran sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Jawa yang sarat dengan makna introspeksi, doa, rasa syukur, serta mempererat hubungan sosial antarwarga. Melalui pengajian seperti ini, masyarakat diajak memahami bahwa budaya lokal dapat berjalan berdampingan dengan nilai agama apabila dilaksanakan secara benar.

Kegiatan tersebut juga dihadiri perangkat Desa Ngadipiro serta Kapolsek Nguntoronadi, AKP Tri Agus. Kehadiran unsur pemerintah desa dan kepolisian menunjukkan dukungan terhadap kegiatan masyarakat yang mampu menciptakan suasana aman, damai, sekaligus mempererat kebersamaan.

Dalam sambutannya, AKP Tri Agus mengapresiasi penyelenggaraan Pengajian dan Tasyakuran Suran yang dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti ini bukan hanya menjadi wadah meningkatkan keimanan, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi dan menjaga keharmonisan antarwarga di tengah kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga :  Mas Jawa Premium Mendarat di Wonogiri! Aura Gusti Bhre Bikin Auto Ngangeni, Serahkan Berkah Sura Mangkunegaran

Ia berharap tradisi yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama tersebut dapat terus dilestarikan sehingga mampu menciptakan lingkungan yang rukun, damai, serta kondusif.

Selama kegiatan berlangsung, suasana tetap berjalan tertib, aman, dan penuh kekhidmatan. Ratusan jamaah mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai tanpa mengurangi semangat meski udara malam terasa sangat dingin.

Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan yang dipadukan dengan nilai budaya masih memiliki tempat istimewa di hati warga Wonogiri. Pengajian Suran bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang berkumpul lintas generasi untuk mempererat persaudaraan, memperkuat iman, sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.