YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Efisiensi anggaran mulai menyentuh pembangunan infrastruktur di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bahkan meminta jalan-jalan lingkungan di kawasan perdesaan tidak lagi dibangun menggunakan aspal.
Permintaan itu disampaikan Sultan di tengah berkurangnya dana transfer ke daerah yang membuat pemerintah daerah harus semakin selektif menentukan belanja pembangunan.
Menurut Sultan, jalan lingkungan tidak harus menggunakan material aspal. Pembangunan bisa dilakukan dengan menggunakan cornblock yang dinilai lebih hemat.
“Jalan lingkungan nggak usah dibangun dengan aspal, tapi dengan cornblock,” ujar Sultan seusai bertemu Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria di Kantor Gubernur Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (12/8/2026).
Jalan yang dimaksud Sultan merupakan akses lingkungan yang menghubungkan kawasan perdesaan. Penggunaan cornblock menjadi salah satu opsi untuk menekan biaya pembangunan infrastruktur tanpa harus menghentikan pembangunan jalan sama sekali.
Sultan juga meminta seluruh aparatur pemerintah daerah ikut menyesuaikan diri dengan kondisi keuangan daerah. Penghematan, menurut dia, tidak hanya dilakukan dalam proyek fisik, tetapi juga pada berbagai kegiatan pemerintahan yang dinilai masih bisa ditunda.
Seminar, misalnya, diminta dikurangi. Demikian pula penggunaan kertas dan pensil dalam kegiatan pemerintahan.
“Mana yang bisa ditunda ya ditunda saja,” kata Sultan.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari kebijakan pengurangan dana transfer ke daerah. Pemprov DIY harus melakukan pengetatan anggaran meskipun kondisi perekonomian daerah relatif tumbuh positif.
Sultan mengatakan pemangkasan dana transfer tetap memberikan dampak terhadap DIY. Karena itu, pemerintah daerah harus melakukan penyesuaian dalam menentukan prioritas belanja.
Di sisi lain, Sultan mengingatkan bahwa kondisi ekonomi saat ini masih dibayangi ketidakpastian. Tekanan tersebut tidak hanya terjadi di tingkat global, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat, terutama kelompok ekonomi bawah.
“Dulu orang ngomong globalisasi, pasar bebas. Sekarang ngomong kepentingan rakyat dahulu, ya. Yang lebih penting: masyarakat tetap bisa makan,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa efisiensi anggaran tidak bisa hanya dilihat dari sisi penghematan belanja pemerintah. Ada kebutuhan untuk memastikan anggaran yang terbatas tetap diarahkan pada kepentingan yang paling mendesak bagi masyarakat.
Bagi pemerintah daerah, pilihan menggunakan cornblock untuk jalan lingkungan menjadi salah satu bentuk penyesuaian terhadap ruang fiskal yang semakin terbatas. Sementara kegiatan yang dianggap belum mendesak diminta ditunda agar anggaran dapat difokuskan pada kebutuhan yang lebih prioritas. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
